Survei: Publik Optimistis Kondisi Politik di 2022 Lebih Baik

Nasional | sindonews | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 15:31
Survei: Publik Optimistis Kondisi Politik di 2022 Lebih Baik

JAKARTA - Mayoritas publik optimistis kondisi politik di 2022 akan sangat baik. Hal tersebut merupakan salah satu hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang diumumkan hari ini.

Direktur Riset SMRC Deni Irvani mengatakan 35,3% responden menilai kondisi politik sekarang baik atau sangat baik. Sedangkan yang menilai buruk atau sangat buruk sebanyak 22% responden.

Kemudian, 33% menilai sedang dan yang tidak jawab 9,6%. Adapun tren persepsi publik, kata dia, bisa bandingkan pada survei sebelum Covid-19 September 2019, yang menyatakan baik ada 41%, pada Desember 2021 menjadi 35,3% atau ada penurunan sentimen positif terhadap politik nasional.

Sebaliknya, yang menyatakan buruk atau sangat buruk dari 14,5% (survei September 2019) menjadi 22%. "Kondisi politik belum pulih sebelum ke posisi sebelum Covid-19," katanya dalam rilis survei publik yang bertajuk Ekonomi-Politik 2021 dan Harapan 2022: Opini Publik Nasional secara daring, Minggu (26/12/2021).

Namun, lanjut Deni, publik memiliki optimisme untuk kondisi politik nasional di tahun mendatang yakni 56,6% yang menyatakan akan lebih baik atau jauh lebih baik. Angka ini lebih banyak dibanding yang mengatakan akan buruk atau akan sangat buruk yang jumlahnya hanya 9,5%, yang menyatakan sedang 21,5%, dan tidak menjawab 12,4%.

"Publik pada umumnya optimistis kondisi politik tahun depan akan sangat baik atau akan baik," kata Deni.

Untuk kondisi ekonomi, Deni menjelaskan, ada 31,9% warga yang menilai kondisi ekonomi sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk dibanding tahun lalu. Sementara yang menilai lebih baik atau jauh lebih baik 36,3%.

"Dan 27% menilai tidak ada perubahan. Sedikit lebih banyak yang menilai kondisi sekarang lebih baik atau jauh lebih baik dibanding tahun lalu," kata Deni.

Adapun trennya jika dibandingkan survei Juni 2019 atau sebelum ada wabah Covid-19, Deni memaparkan, sebelum wabah Covid-19, yang menilai kondisi ekonomi nasional lebih buruk atau jauh lebih buruk 17,5%, pada Desember 2021 ada 31,9% atau ada kenaikan dari sebelum Covid. Tapi, dalam setahun terakhir dari Oktober 2020-Desember 2021, terlihat sentimen negatif terhadap ekonomi nasional dari 60,3% menjadi 31,9%.

"Artinya ada kemajuan dalam satu tahun terakhir dan sentimen negatifnya menurun. Dan sentimen positifnya naik yang warna hijau 15,2% (Oktober 2020) menjadi 36,3% (Desember 2021)," imbuhnya.

Kemudian, dia melanjutkan, ada 28,8% warga yang menilai kondisi ekonomi rumah tangga sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk. Lalu, yang menilai lebih baik atau jauh lebih baik kalau digabung ada 41,5%.

Jadi hampir dua kali lebih banyak dibanding lebih buruk, dan yang menilai tidak ada perubahan 29,2% dan tidak menjawab 0,5%. Deni menuturkan, optimisme publik terhadap ekonomi nasional selama setahun ke depan dibanding saat ini sangat tinggi yakni 62,2% menyatakan akan baik atau jauh lebih baik, sementara yang menilai akan lebih buruk atau jauh lebih buruk ada 10,6%, dan yang menilai tidak ada perubahan 19,2%. Serta yang tidak tahu atau tidak menjawab 7,9%.

"Tren optimisme publik terhadap ekonomi nasional selama setahun ke depan. Hampir sama sebelum ada Covid, April 2019 66% menjadi 62,2%. Optimisme naik dalam 1 tahun terakhir atau Oktober 2020 49,7% sekarang 62,2%," ungkap Deni.

Adapun populasi survei adalah seluruh WNI yang memiliki hak pilih, berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Sampel diambil dengan multistage random sampling sebesar 2.420 responden.

Yang dapat diwawancara secara valid dan secara acak 2.062 atau 85% responden. Margin of error survei 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara dan dilakukan quality control terhadap 20% responden secara acak untuk mengetahui validitas wawancara, tidak menemukan kesalahan berarti. Wawancara dilakukan pada 8-16 Desember 2021.

Artikel Asli