Potret Penddiikan Toleransi di SDN Purwodiningratan, Surakarta, Raih Juara 1 Lomba Kemenag

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 14:41
Potret Penddiikan Toleransi di SDN Purwodiningratan, Surakarta, Raih Juara 1 Lomba Kemenag

JAKARTA - Rangkaian foto berjudul "Outing Class Toleransi Beragama Ditanamkan Sejak Usia Dini" karya Ence Abdurokhim meraih Juara 1 dalam Lomba Foto Bercerita Moderasi Beragama yang digelar Kementerian Agama sejak 11 Oktober - 11 November lalu. Pengumuman diunggahdi kanal YoutubeKemenagpada Senin, 20 Desember 2021.

Menurut Ence, foto-foto tersebut adalah potret pendidikan toleransi yang dilakukan di SDN Purwodingratan Surakarta, Jawa Tengah.

"SDN Purwodingratan Surakarta, Jawa Tengahgencar mengenalkan pendidikan toleransi beragama melalui pembelajarantatap muka dan pelajaran di luar kelas dengan mengunjungi tempat-tempat beribadah di kota Solo," tulis Ence dalam akun instagramnya @abdire_ra.

"Masa kanak-kanak adalah masa emas untuk memulai ditanamkan pendidikan toleransi beragama," imbuhnya.

Foto-foto berikutnya menggambarkan bahwa sang guru ternyata juga membawa peserta didiknya mengunjungi rumah-rumah ibadah dari agama-agama yang ada. Mulai dari gereja, kelenteng, pura, vihara, dan masjid.

"Aksi kunjungan ini dimaksudkan untuk mengenal dan melihat secara langsung di dunia nyata, tidak hanya dari teori saja," tutupnya.

Foto-foto karya Ence ini berhasil meraih perhatian dewan juri. "Foto-foto ini menarik. Pesannya sangat kuat. Dari sisi moderasi beragama, ini yang ingin kita lakukan. Mengenalkan keberagaman Agama sejak dini, dan dari lingkungan terkecil. Sekolah salah satunya," tutur Menteri Agama 2014 - 2019 Lukman Hakim Saifuddin yang menjadi salah satu dewan juri dikutip dari situs resmi Kemenag, Minggu (26/12).

"Dari sini, kita melihat, anak-anak diajarkan untuk tidak antipati berkunjung ke rumah ibadah agama lainnya. Mereka ke sana hanya berkunjung dan untuk mengenal. Bukan ikut beribadah," papar Lukman.

Hal senada disampaikan praktisi komunikasi Hadi Rahman yang juga terlibat dalam penjurian. "Pesan moderasi beragamanya sangat kuat dan mudah untuk diduplikasi. Apalagi oleh Kemenag yang memiliki banyak madrasah, dan guru-guru Agama di Sekolah umum," tuturnya.(YK/N-3)

Artikel Asli