Penggunaan Internet pada Masa Pandemi bagai Pisau Bermata Dua

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 14:00
Penggunaan Internet pada Masa Pandemi bagai Pisau Bermata Dua

JawaPos.com Saat ini dunia masih dilanda pandemi Covid-19 yang membuat penggunaan teknologi informasi semakin masif dan intens karena adanya pembatasan sosial untuk mencegah penularan virus. Akibatnya banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berselancar di internet.

Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Suryan Widat menyatakan, penggunaan internet seperti pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan manfaat, namun apabila berlebihan akan mendapatkan masalah.

Salah satu masalah yang ditimbulkan internet adalah penyakit kecanduan internet, yang dikatakan oleh para ahli sebagai penyakit akibat pengunaan internet berlebihan dan menimbulkan gangguan perilaku dan permasalahan kontrol impulsif, ujar dia dikutip, Minggu (26/12).

Perempuan yang akrab disapa Wida itu menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian, penyakit kecanduan internet berdampak pada otak dan memiliki karakteristik susunan otak seperti kecanduan narkotika dan alkohol. Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai gangguan, terutama menurunkan kemampuan untuk memprioritaskan kehidupan internet daripada kehidupan nyata, ucapnya.

Laporan terbaru yang dirilis oleh layanan manajemen konten HootSuite, dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk Digital 2021, menunjukkan pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa atau sebesar 73,7 persen dari populasi penduduk di Indonesia. Data tersebut menyatakan, usia 16-64 tahun memiliki rata-rata penggunaan internet mencapai 8 jam 52 menit.

Menurut Wida, pandemi yang membuat anak bersekolah daring juga membuat orang tua khususnya para ibu kesulitan dalam mengendalikan perilaku anak terkait penggunaan gawai. Akibatnya banyak anak yang menghabiskan waktu di dunia maya lebih banyak daripada dunia nyata.

Tentu hal ini tidak bisa kita biarkan dan harus kita kendalikan, karena akan menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, bahkan masalah terkait gangguan mental dan masalah-masalah sosial yang tentunya mengancam tujuan pembangunan SDM yang unggul, tandas dia.

Artikel Asli