Pemkot-FIB Unair Rintis Ensiklopedia Kebudayaan Surabaya

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 12:48
Pemkot-FIB Unair Rintis Ensiklopedia Kebudayaan Surabaya

JawaPos.com Kota Pahlawan terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Agar kearifan lokal Surabaya tetap dikenal, upaya mendokumentasikan berbagai hal itu secara lengkap terus dilakukan. Seperti yang sekarang sedang berjalan, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Surabaya menyusun ensiklopedia objek kemajuan kebudayaan di Surabaya.

Surabaya sejak dulu dikenal sebagai kota dagang dan jasa. Hal itu membuat kultur yang tumbuh di dalamnya merupakan perpaduan dari berbagai ras, suku, dan agama, bahkan negara. Dalam perjalanannya, unsur tersebut membentuk kultur baru yang ada hingga sekarang. Banyak di antaranya yang menjadi budaya sekaligus menjadi objek dengan banyak cerita di dalamnya.

Namun, tantangan baru juga muncul. Gangguan terhadap objek kebudayaan muncul dari kemajuan zaman yang kian masif. Langkah untuk menginventarisasi seluruh objek penting itu dilakukan. Salah satunya membangun ensiklopedia yang menjadi rujukan literasi sekaligus database objek kebudayaan.

Inventarisasi tersebut digagas FIB Unair dengan menggandeng dispusip. Tujuannya, kearifan lokal akan tetap kekal keberadaannya meskipun dinamika pembangunan kota terus berjalan. Kalau merunut pokok-pokok kebudayaan, jumlahnya mencapai ribuan di Surabaya ini, kata Koordinator Pengmas Ensiklopedia FIB Unair Kukuh Yudha Karnanta.

Sebagai langkah awal, ada sepuluh objek kemajuan kebudayaan yang masuk dalam ensiklopedia. Mulai yang sederhana seperti bahasa arek hingga Benteng Kedung Cowek yang masyhur sebagai pertahanan gempuran serangan laut. Perincian informasi dicari untuk membentuk satu kesatuan informasi yang utuh.

Memang beberapa objek yang masuk entri ensiklopedia sudah ada informasinya. Namun, bentuknya terpisah dan belum secara komprehensif. Nah, kami berupaya membangun yang utuh. Saat mencari informasi itu pun, tim kami dibekali dengan panduan tentang apa saja yang harus dicari sehingga informasinya lengkap, terang dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB Unair tersebut.

Sepuluh objek itu menjadi pemacu bagi tim dari Pemkot Surabaya dan FIB Unair bergerak menyisir kearifan lokal lainnya. Dengan tujuan akhir masyarakat bisa dengan mudah mengetahui tradisi di Surabaya. Cukup melihat ensiklopedia itu pula, literasi masyarakat bisa meningkat.

Sebab, selama ini sering kali masyarakat hanya mengetahui informasi itu cuma sepenggal, tuturnya.

Poin lain, ensiklopedia juga bisa menjadi pegangan wisatawan dan pelaku pariwisata. Menurut Kukuh, Surabaya bukan kota wisata yang memiliki kekayaan alam. Karena itu, nilai sejarah dan kearifan lokal inilah yang berpeluang untuk terus dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Dispusip Surabaya Musdiq Ali Suhudi menyebutkan, ensiklopedia ini diharapkan bisa menjadi jawaban ketidaktahuan masyarakat terhadap kearifan lokalnya. Dengan begitu, rasa memiliki bisa tumbuh dan keinginan untuk melestarikan juga muncul.

Karena alasan itu pula, dalam penyusunan ini, dijaring aspirasi dan informasi dari banyak pihak. Salah satunya komunitas yang fokus terhadap budaya dan kearifan lokal Surabaya seperti Begandring Soerabaia dan Roodebrug Soerabaia.

Modifikasi Tradisi Jadi Kompetisi dan Festival

BERBAGAI cara dilakukan oleh orang-orang yang sadar akan pentingnya menjaga kearifan lokal. Tidak melulu kaku, agar budaya itu tetap hidup, modifikasi dilakukan agar budaya tersebut mudah diterima. Misalnya, menjadikan kearifan lokal sebagai ajang kompetisi dan festival.

Di Sambikerep, tradisi sedekah bumi masih berlangsung sampai sekarang. Namun, ada perubahan untuk hasil bumi yang diarak keliling kampung. Kalau dulu seperti padi dan umbi-umbian. Sekarang pakai buah dan sayur, ujar lurah Sambikerep Hanang Prasetyo Adi kemarin (25/12).

Hanang mengatakan, berdasar cerita dari para sesepuh kampung, Sambikerep dulunya merupakan wilayah pertanian. Banyak lahan pertanian dan perkebunan yang dikelola oleh warga. Warga setempat rata-rata bekerja sebagai petani.

Setiap kali panen, sebagian hasil panen dikumpulkan. Ada yang dibentuk menjadi tumpeng raksasa. Isinya padi dan umbi-umbian. Warga juga membuat ancak untuk arak-arakan. Isinya sama, hasil pertanian yang sudah dipanen.

Nah, hasil panen tersebut diarak keliling kampung sambil dibagikan ke warga. Menurut Hanang, itu merupakan wujud syukur atas pemberian Tuhan. Istilahnya, kita mengungkapkan rasa syukur dengan cara berbagi hasil pertanian, terangnya.

Seiring berjalannya waktu, pengembangan kawasan kota meluas. Dari tengah, pembangunan daerah diperluas hingga wilayah timur dan barat. Karena itu, banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Warga pun banyak yang beralih profesi menjadi pekerja swasta maupun pelaku usaha.

Meski ada pergeseran mata pencaharian, tradisi sedekah bumi tetap berjalan. Hanang mengatakan, belum ada catatan atau dokumentasi resmi sejak kapan tradisi sedekah bumi tersebut dilakukan. Tradisi itu sudah ada sejak dulu. Bahkan sebelum para sesepuh lahir. Tradisi ini kami lestarikan sebagai aset kearifan lokal yang memang perlu dijaga, jelasnya.

Tidak hanya di Sambikerep, tradisi sedekah bumi juga digelar di Kelurahan Lontar. Kegiatan itu pun digelar saban tahun. Dengan adanya agenda rutin, tradisi tersebut tetap terjaga. Seiring jalannya waktu, sedekah bumi pun mengalami penyesuaian, misalnya dari isi gunungan dan lainnya.

Misalnya, menghias gunungan atau arak-arakan dengan mengangkat tokoh atau karakter viral. Misalnya, boneka squid game dan lainnya. Ternyata hal tersebut manjur untuk menarik perhatian generasi muda.

Di Kedung Cowek juga ada kearifan lokal yang terjaga higga sekarang, yakni balap perahu mini. Kegiatan itu melombakan perahu dengan ukuran panjang 50 sentimeter. Desainnya dibuat semirip mungkin dengan yang asli. Lengkap dengan layar yang membentang lebar.

Ketua RW 2, Kelurahan Kedung Cowek, Samiyadi Santono mengatakan, tradisi itu turun-temurun dan menjadi permainan anak pesisir. Dia mengatakan, memang seiring perkembangan zaman keberadaanya seperti kalah dengan permainan sekarang.

Karena itu, akhirnya perahu mini kami jadikan lomba dan festival. Sehingga, agenda ini bisa menjadi pengingat dan pemicu anak-anak untuk mau tetap memainkan permainan tradisional. Dari lomba yang kami gelar ternyata antusias mereka sangat besar, terangnya.

Tentang Ensiklopedia Objek Kemajuan Kebudayaan Surabaya

Tahap awal, ada 10 kearifan lokal yang dimuat.

Memuat informasi detail tentang objek kearifan lokal.

Dikemas secara digital dan bisa diakses bebas lewat website.

Ada fitur video 360 derajat untuk membawa masyarakat lebih dekat.

Disediakan dalam lima versi bahasa , yaitu Indonesia, Jawa Arekan, Inggris, Jepang, dan Prancis.

10 Kearifan Lokal yang Masuk Ensiklopedia Tahap Awal

Ritus sedekah bumi di Sambikerep

Adat sedekah bumi di Sambikerep

Bangunan cagar budaya Benteng Kedung Cowek

Teknologi tradisional peralatan mengemas dan memanggang ikan di Kenjeran

Proses memanggang ikan

Permainan tradisional seperti egrang, benteng-bentengan, dsb

Olahraga tradisional seperti perahu naga, gulat okol, lari, dsb

Seni, dengan mengangkat seniman Gombloh

Bahasa arekan

Tradisi lisan seperti parikan dan kidung

Artikel Asli