Mahfud Sebut Ulama Punya Peran Penting Mencegah Radikalisme

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 12:34
Mahfud Sebut Ulama Punya Peran Penting Mencegah Radikalisme

JawaPos.com Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai kelompok ulama memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme dan sekuralisme. Oleh karena itu, dia menyerukan menjaga pemahaman keagamaan yang damai.

Tantangan dan tugas segenap komponen bangsa dalam mewujudkan kesatuan bangsa, adalah menjaga pemahaman agama dan cara beragama khas Indonesia, ujar Mahfud MD, Minggu (26/12).

Mahfud menegaskan, Negara Pancasila yang berbentuk NKRI adalah Mietsaqon Ghaliedza atau Modus Vivendi. Oleh NU sering disebut sebagai Dar al Mietsaq, dan oleh Muhammadiyah disebut Dar al Ahdi wa al Syahadah.

Untuk negara yang inklusif seperti ini, lanjut Mahfud, ada juga yang menyebut sebagai Dar al Hikmah, seperti Fathullah Gulen.

Dalam istilah yang lebih akademis, konsep Dar al Mietsaq atau Dar al Ahdi sering disebut sebagai Religious Nation State, negara kebangsaan yang berketuhanan, bukan negara agama tetapi juga bukan negara sekular, imbuhnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengajak para ulama ikut serta mengembangkan negara sebagai darus salam. Memperkuat akseptasi atau penerimaan terhadap perbedaan, saling menghargai antar umat beragama, serta tidak saling melarang menjalankan ibadah masing-masing.

Lakum dinukum waliyadin, tidak saling menjelekkan, jangan larang orang beribadah, jangan larang orang ke Gereja. Jika ada yang larang orang beribadah lapor ke Polisi, kalau belum ditindaklanjuti lapor ke saya, jelasnya.

Di dalam negara kebangsaan yang berketuhanan, negara tidak memberlakukan hukum agama tertentu tetapi melindungi semua pemeluk agama untuk melaksanakan ajaran agamanya masing-masing.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ulama dan habaib memiliki peran penting dalam menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama serta tidak terjebak dalam radikalisme dan sekulerisme.

Tidak boleh menjadi gerakan radikalisme, tidak boleh pula menjadi sekularisme. Indonesia harus banyak belajar dari kejadian di berbagai negara yang mengalami peperangan hingga perpecahan karena agama, pungkas Mahfud.

Artikel Asli