Burung-Burung Nuri Halaman PAUD

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 10:44
Burung-Burung Nuri Halaman PAUD

Jenuh mengajar mahasiswi/a tingkat doktoral, Jendro kini menjadi tenaga didik di PAUD. Istri Sastro itu tetiba mendapat wangsit bahwa mengajar orang-orang yang sudah dewasa ibarat menekuk-nekuk baja yang sudah dingin.

ANAK-ANAK yang sudah kumisan dan gincuan sudah sukar dibentuk. Lebih masuk akal mematut-matut baja yang masih merah membara, ya anak-anak usia dini ini. Mau dieluk-eluk jadi keris, monggo. Mau ditempa lempeng jadi pisau, monggo. Jadi pedang, kapak cincin kawin, monggo.

Anak-anak, seru Bu Jendro di kelas. 2 pohon Natal ditambah 2 pohon Natal = 3 pohon Natal ditambah 1 pohon Natal. Sama saja. Apa lagi di dunia ini yang sama saja, Anak-anak?

Bonek sama Viking, Bu!

Bagus. Keduanya sama. Ada lagi?

Jakmania dan Aremania, Bu! seorang bocah dengan pita di rambut kelabangnya menyahut.

Bagus. Wah, murid ibu pinter-pinter. Ada lagi yang mau njawab?

Saya, Bu, giliran bocah bertopi di sudut ruang mengacung. 2 NU plus 2 NU = 2 Muhammadiyah plus 2 Muhammadiyah.

Bu guru tak ingin mematahkan bocah bertopi tersebut dengan langsung menyalahkannya. Masa depan Indonesia, pikirnya, harus diisi oleh generasi yang sejak dini tidak disalah-salahkan melulu. Sejak dini anak-anak harus dibiasakan pede mengemukakan pendapat.

***

Tiga hari kemudian bu guru menemukan cara terbaik untuk merespons pertanyaan itu. Kamu yakin bahwa NU = Muhammadiyah sehingga 2 NU = 2 Muhammadiyah? Bukankah keduanya berbeda? NU baru saja muktamar di Lampung. Muhammadiyah tidak.

Tapi dua-duanya sama, Bu. Sama-sama ormas, kukuh si bocah sambil disuapi paha ayam oleh ibunya.

Bagus Bagus Bagus Bu guru berjalan menghampiri bocah itu. Berarti NU dan Muhammadiyah sama saja. Ibarat Viking dan Bonek. Seperti Aremania dan Jakmania.

Mau tanya, Bu!!! bocah perempuan di kursi depan menyentak Jendro. Namanya Zuzi Puziastuti. Mohon pencerahan, Bu, kenapa petinggi dan orang VIP boleh karantina di rumah sendiri? Kenapa masyarakat dilarang karantina di rumah sendiri? Kenapa

Sabar, Zuzi Puziastuti, pertanyaannya satu-satu

Tidak bisa, Bu. Keburu nasi di mulut saya nanti muncrat Kenapa yang boleh berhemat atau jadi pelit cuma penggede atau orang penting? Kenapa masyarakat tidak boleh? Kenapa cara karantina kok nggak tunggal ika tapi bhinneka

Itu pertanyaanmu sendiri atau kau kutip dari mantan menteri di Twitter? Atau kamu nanya begitu karena ada yang suruh?

Pengasuh Zuzi Puziastuti keberatan. Zuzi ini cerdas sekali, Bu. Saya tidak pernah nyuruh dia nanya soal karantina ini, walau teman-teman saya TKI yang pulang banyak yang terlunta-lunta karantinanya, baper babysitter itu.

Jendro minta maaf. Ia baru saja khilaf. Tujuannya pindah dari jadi dosen mahasiswi/a tingkat doktoral menjadi pendidik di PAUD adalah membentuk generasi masa depan. Mematahkan pertanyaan anak didik bertentangan dengan tujuan mulia tersebut.

***

Demi menumbuhkan dialog, Jendro melempar pertanyaan Zuzi Puziastuti kepada teman-temannya yang lain. Bocah bertopi yang masih disuapi tadi menjawab, Pejabat dan masyarakat dibedakan karantinanya karena masyarakat adalah komisaris negeri ini, Bu. Duit masyarakat banyak sekali buat membayar belasan juta karantina di hotel dan lain-lain. Sedangkan pejabat atau orang penting itu derajatnya cuma pegawai di negeri ini. Direktur para pegawai itu presiden. Mereka semua cah tipis. Duit mereka nggak sebanyak kita kaum komisaris perusahaan NKRI ini, Bu.

Jendro terharu mendengar jawaban itu. Ia menangis. Saking dalamnya keharuan itu ia mohon diri untuk menangis sejadi-jadinya di rumah.

Teringatlah ia pada kata-kata suaminya suatu malam. Sastro berkata seolah-olah sedang memberi tutorial. Ini resep agar kamu tak dongkol di jalan raya gegara nguing-nguing mobil pejabat yang minta didahulukan. Ingatlah bahwa engkau adalah komisaris negeri ini dan para pejabat itu cuma pegawai-pegawaimu. Komisaris tentu boleh telat lantaran waktunya longgar dan merdeka. Pejabat harus tepat waktu sebab waktunya mepet dan terjajah.

***

Esok harinya burung-burung nuri meriah di halaman PAUD. Jendro kembali bergairah mengajar. Begitu masuk urang kelas ia bertanya, Anak-anak, empat kali empat sama dengan?

Sama dengan kebahagiaan, Bu. Sebab 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat mohon dibalas Dapat balasan kan bahagia, Bu?

Salah itu, Bu, sanggah yang lain. 4 x 4 = joki vaksinasi Kan divaksin sampai 16 kali?

Ya, tapi orang yang dijokii kan bahagia? Hayo! yang disanggah tak terima.

Heuheuheu

Demi kesehatan bersama, tak lupa ia sampaikan anjuran pejabat agar libur Natal dan tahun baru ini kita tak mengunjungi orang-orang jauh. Virus Covid-19 dan variannya bisa mengintai di perjalanan. Kunjungi saja orang-orang terdekat.

Bocah berpakaian Spider-Man tapi bertopeng Semar bertanya, Bagaimana kalau orang yang terdekat itu ternyata adalah orang yang terjauh, Bu? (*)

SUJIWO TEJO

Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Artikel Asli