Apakah Hari Ini Kamu Sudah Berlibur?

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 09:54
Apakah Hari Ini Kamu Sudah Berlibur?

Setelah nyaris tak bepergian selama dua tahun, saya mulai berpikir tentang liburan. Bukan hanya soal ingin pergi berlibur, tapi juga pertanyaan mendasar ini: Apa artinya liburan? Apa makna hari libur?

URUSAN berlibur, yang terbayang oleh saya malahan empat bocah dan seekor anjing di buku anak-anak karya Enid Blyton, Lima Sekawan. Belakangan saya sering membacakannya untuk anak, dan setiap cerita, hampir selalu berputar di masa liburan.

Bagi bocah-bocah itu, liburan selalu merupakan hal yang ditunggu. Hari-hari libur berarti hari penuh petualangan, bisa tidur di alam terbuka, penuh kemungkinan-kemungkinan yang mengejutkan, pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk bekal makanan yang enak.

Belum lama saya membaca beberapa buku, yang merujuk ke sejenis filsafat Hegelian, bahwa satu hal bisa didefinisikan dengan cara mendefinisikan (apa yang dianggap) lawannya. Di satu buku tentang rasialisme, misalnya, mendefinisikan kulit hitam secara tidak langsung menjelaskan seperti apa orang kulit putih.

Jika saya meminjam cara berpikir ini, bocah-bocah Lima Sekawan bisa melihat hari-hari bukan liburan sebagai: saat yang membosankan, tidur tiap malam di kamar, rutinitas yang bisa ditebak, bertemu orang-orang yang sama, dan makanan yang itu-itu saja.

Dengan kata lain, hari-hari sekolah adalah hari yang tak mengasyikkan.

Sebetulnya tak perlu jadi anak-anak untuk melihat kontras semacam itu. Setelah dewasa, kita tahu hari libur berarti leha-leha di rumah, bisa cuma sarungan, tidur sampai siang, waktu bersama keluarga. Sementara itu di hari kerja, artinya harus banting tulang, kadang pakai seragam, bangun subuh untuk berebut lalu lintas, untuk beberapa orang berarti tak melihat anak dan pasangan seharian.

Liburan bisa dilihat semacam penyeimbang. Bisa pula, dengan cara sinis, sebagai cara untuk melupakan betapa mesin kapitalistik bekerja atas hidup manusia selama lima hari berturut-turut, membuatmu memeras keringat, demi upah, tapi terutama demi keuntungan lebih besar ke perusahaan.

Sekarang saya jadi memikirkan betapa konsep semacam itu jadi babak belur di hadapan pandemi. Ketika orang-orang terpaksa mulai bekerja di rumah, sebagian kantor bahkan tampaknya akan permanen bekerja dengan cara seperti ini, batas antara libur dan kerja mulai abu-abu.

Tentu kalender masih punya angka yang berwarna hitam dan merah. Masih menunjukkan dengan jelas mana hari kerja dan mana hari libur. Yang buyar adalah gambaran-gambaran awal kita tentang keduanya, yang biasanya tegas berbeda.

Selama komputer menyala, atau pekerjaan diselesaikan, kita bisa berleha-leha di hari Senin hingga Jumat. Di hadapan kamera ketika rapat, bisa jadi kita belum mandi, atau hanya pakai kolor. Bisa sambil bercengkerama dengan anak.

Hobi-hobi bermunculan. Berkebun hidroponik, memelihara lele di ember, hingga membeli sepeda dan rajin gowes. Kita merasa memiliki waktu yang melimpah, serasa tujuh hari dan dua puluh empat jam liburan.

Benarkah begitu? Ternyata tidak juga. Sudah sering terdengar keluhan-keluhan bahwa jam kerja menjadi abu-abu. Karena di siang hari berleha-leha, pekerjaan diselesaikan di malam hari. Rekan kerja bisa kirim pesan atau surel di akhir pekan, dan mau tak mau, jadi pikiran juga.

Apakah pandemi memaksa cara hidup kita berubah? Pola-pola industrial di mana mesin digeber untuk berproduksi tanpa henti secara terjadwal, kemudian rehat, yang diterapkan juga kepada manusia, akan berakhir?

Apakah suatu hari nanti, konsep angka berwarna hitam dan merah di kalender menjadi tidak relevan? Sebab, kita bisa libur dan bekerja kapan pun kita mau?

Saya jadi teringat kakek dan nenek saya. Mereka keluarga petani, dengan sawah dan ladang, serta kambing, ayam, dan ikan di kolam yang dipelihara. Mereka tak pernah benar-benar mengenal liburan, sebab sawah dan ladang, dan terutama ternak, tak bisa sembarangan ditinggalkan.

Bagi mereka, hidup adalah bekerja. Mereka mengatur gerak hidup mereka menyesuaikan dengan degup alam. Kambing lapar, ya berarti cari rumput dan kasih makan. Padi menguning, saatnya panen. Selesai panen, harus rajin menjemur gabah. Saya tak ingat persis mereka bicara tentang liburan.

Apakah masyarakat urban, dengan kemajuan teknologi yang memungkinkan kita bekerja dari mana pun (termasuk rumah), serta dipaksa oleh pandemi berkepanjangan, akan mengarah kita ke sana? Ke hidup adalah bekerja?

Ingat beberapa waktu lalu dengan semacam kampanye work from Bali? Bali yang selama ini dibayangkan sebagai tujuan wisata, tempat untuk berlibur, bakal menjadi tempat bekerja? Orang liburan atau bekerja?

Apakah kita akan hidup seperti masyarakat agraris, berproduksi selaras dengan degup alam? Kita atur sendiri kapan bangun, kapan makan, kapan bekerja, kapan rebahan, tanpa harus ikut jadwal bersama, kecuali alam yang menghendaki?

Ah, jangan-jangan ini hanya tipuan baru mesin-mesin perusahaan? Kita seolah-olah santai, tapi sebetulnya target-target produksi sudah dipasak? Kita merasa liburan, tapi sebetulnya terus-menerus bekerja? Tahu-tahu umur sudah tua, dan cerita Lima Sekawan jadi sekadar dongeng masa kecil. (*)


*) EKA KURNIAWAN , Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Artikel Asli