5 Militer Negara Ini Pernah Dilatih Kopassus, dari Asia Tenggara sampai Afrika

Nasional | inewsid | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 09:50
5 Militer Negara Ini Pernah Dilatih Kopassus, dari Asia Tenggara sampai Afrika

JAKARTA, iNews.id - Deretan lima militer negara ini dilatih oleh Kopassus (Komando Pasukan Khusus), mayoritas negara Asia Tenggara. Seperti diketahui, kehebatan prajurit Kopassus tak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga mancanegara. Beberapa operasi Kopassus dilakukan di luar negeri, salah satunya yang terkenal adalah pembebasan sandera di pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Muang, Thailand.

Seorang perwira tinggi Amerika Serikat, Wayne Allan Downing, bahkan melontarkan pujian terhadap prajurit Kopassus. Sewaktu bertandang ke Pusdikpassus Kopassus di Batujajar, Jawa Barat, Komandan Pasukan US Operation Command periode 1993-1996 itu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para prajurit Kopassus berlatih.

Selama latihan, prajurit Kopassus menggunakan peluru tajam hampir serupa dengan kondisi perang sungguhan. Downing pun memberikan sanjungan atas kemahiran prajurit Kopassus sambil mengatakan dia ingin bertempur dengan pasukan elite TNI Angkatan Darat tersebut.

Berikut 5 militer negara yang perna dilatih Kopassus:

1. Brunei Darussalam

Setelah menorehkan prestasi cemerlang di kompetisi tahunan ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-24 di Vietnam, banyak permintaan dari berbagai negara kepada Kopassus untuk melatih tim regu tembak. Brunei Darussalam merupakan salah satu negara yang melayangkan permintaan tersebut.

Salah seorang prajurit Kopassus yang melatih tentara Brunei Darussalam adalah Serka Pardal yang pernah tergabung di Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Serka Pardal juga memiliki spesifikasi petembak dengan kualifikasi utama.

Pada 2013, dia diberi tugas untuk melatih tim rifle Brunei Darussalam yang akan mengikuti ASEAN Armies Rifle Meet. Serka Pardal dan tim pelatih memberikan pemahaman dan metode latihan berbeda dari apa yang biasa dilakukan oleh tentara Brunei. Pasalnya, tim melihat metode latihan yang dijalani tentara Brunei tidak memberikan hasil.

Berkat didikan, latihan, dan gemblengan tim pelatih TNI, hasil yang dicapai tentara Brunei tidak mengecewakan. Dalam kompetisi AARM 2013 itu, Brunei Darussalam menempati posisi keempat. Sementara itu, peringkat satu hingga tiga masing-masing diraih Indonesia, Thailand, dan Filipina.

2. Laos

Komandan pasukan angkatan darat Kerajaan Laos, Kong Le, merupakan sosok berjasa besar terhadap negara. Dia memimpin Batalyon Parasut ke-2 dan bertempur melawan invasi pasukan Viet Minh antara tahun 1959-1960.

Ketangguhan dan kemampuan Kong Le dalam peperangan terus diasah sampai setelah itu. Luhut Panjaitan dalam bukunya, "Para Komando: Perjalanan Seorang Prajurit" menyebutkan, Kong Le pernah mendapat pelatihan dari Komando Pasukan Sandi Yudha (nama lama Kopassus).

3. Kamboja

Pada Maret 1972, Batalyon Para Komando Kamboja mengirim puluhan prajurit ke Indonesia untuk mengikuti kursus Para Komando di Sekolah Komando Pasukan Khusus Batujajar, Jawa Barat.

Unit militer utama Tentara Kerajaan Kamboja itu mengikuti kursus selama 9 bulan, kemudian kembali ke negaranya untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. Karena mendapat didikan dari Kopassus, pasukan Batalayon Para Komando Kamboja memiliki gerak yang tidak jauh berbeda dengan Kopassus. Hal ini terlihat dari bagaimana penggelaran, penempatan, dan pergerakan pasukan.

4. Timor Leste

Timor Leste pada 2012 menyampaikan permintaan khusus kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk melatih militer negaranya. Secara terang-terangan, para petinggi militer Timor Leste meminta supaya pasukannya dilatih oleh Kopassus, terutama dalam hal menembak.

Hal ini disambut baik oleh TNI untuk membangun kerja sama saling menguntungkan kedua pihak. Misalnya, dengan menjual senjata buatan PT Pindad serta pakaian dan atribut militer buatan Sritek.

5. Negara-Negara di Afrika Utara

Melejitnya pamor Kopassus sebagai pasukan khusus dengan kemampuan gerak cepat di segala medan, antiteror, serta pengintaian, membuat pasukan Baret Merah ini banyak mendapat permintaan, bukan saja dari negara Asia Tenggara, melainkan juga Afrika. Beberapa negara Afrika bagian utara termasuk yang meminta pasukan elite ini memberikan pendidikan dan pelatihan bagi prajurit mereka.

Kopassus banyak memberikan pelatihan terkait strategi, bela diri, termasuk bagaimana bertahan hidup. Dengan demikian, kekuatan pasukan tidaklah bergantung pada peralatan canggih. Atas pelatihan itu, negara-negara di Afrika utara tersebut merasa puas.

Artikel Asli