Perihal Rumit Jadi Perempuan

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 09:20
Perihal Rumit Jadi Perempuan

Serupa Wiji Thukul, puisi-puisi dalam buku ini berangkat dari kegusaran yang cenderung mencipta keprihatinan ketimbang kebahagiaan. Juga serupa Thukul, seni bagi mereka yang karyanya terangkum di sini adalah realitas, bukan imajinasi manis belaka.

Oleh AHADA RAMADHANA, Penulis, pekerja media daring

PANDEMI adalah momen pas berefleksi, merenungi, dan mengevaluasi cara kita memandang kehidupan. Kekritisan tentang melihat dunia, yang antara satu dan lainnya punya kekhasan masing-masing sesuai latar belakang yang memengaruhinya, perlu disuarakan agar didengar dan diketahui secara luas.

Itu salah satu pijakan lahirnya Puandemik: Kumpulan Puisi Perempuan di Masa Pandemi. Ada 47 nama yang terseleksi membidani buku ini, berbagi keresahan dan gugatan atas banyak hal, yang barangkali telah lama memenuhi kepala.

Mereka mayoritas pegiat literasi. Banyak di antaranya yang telah menerbitkan karya, bahkan diterjemahkan ke bahasa lain (Prancis, Korea, Rusia). Lainnya ada aktivis hak perempuan, ibu rumah tangga, pekerja seni, influencer, peneliti, jurnalis, pendidik, aparatur sipil negara, tunanetra. Ada peraih Kusala Sastra Khatulistiwa, pemenang lomba puisi Majelis Sastra Bandung, serta peraih Wanita dan Budaya Award.

Tim kurator menyeleksi dengan baik kiriman puisi, menempatkan seni tak cuma produk yang dinikmati. Tapi juga memantik sisi kesadaran sosial.

Jangan berharap bait-bait kalimat puitis penuh estetika atau kisah keromantisan dengan penggambaran indah. Banyak puisi di buku ini yang tak bermain bahasa kiasan alias tak konotatif sehingga tak butuh imajinasi atau kerumitan untuk memahaminya.

Puisi lebih dekat dengan gaya Wiji Thukul yang menurut wartawan cum sastrawan Linda Christanty lugas, terang, dan tak suka main sembunyi-sembunyi serta menabrak definisi sajak dari kritikus sastra Michael Riffaterre: mengatakan sesuatu, tapi artinya lain.

Serupa Thukul, puisi mereka berangkat dari kegusaran yang cenderung mencipta keprihatinan ketimbang kebahagiaan. Juga serupa Thukul, seni bagi mereka adalah realitas, bukan imajinasi manis belaka.

Mayoritas puisi merekam keluh kesah seputar Covid-19 dari berbagai sudut pandang. Misalnya Avianti Armand, peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2011, yang membahas kematian yang serasa di depan mata (halaman 14-15) lewat bait berkalimat panjang Dan sekarang kita takut bahwa kematian akan merenggut kita dari kehidupan yang selalu kita sesali dan orang-orang yang tak kita cintai dan semua yang tak pernah kita miliki serta Kita mencatat duka dalam angka. Kehilangan dalam berita. Di monitor dunia adalah gambar dan suara.

Ratna Ayu Budhiarti, peraih Wanita dan Budaya Award 2013, menelanjangi budaya baru Zoom dan Google Meeting, betapa euphoria itu membuat lupa akan budaya salaman dan pelukan (halaman 69).

Ada lagi isu ketidakmerataan bantuan yang makin mengukuhkan bahwa ada kelompok yang masih marginal, seperti dalam penggalan puisi aktivis transpuan Rully Malay (halaman 72-73). Lewat BLT Ironi pula, Rully menyerukan berdikari, tanpa menengadah bantuan pemerintah.

Isu penting yang diangkat beberapa puisi adalah perlawanan atas budaya patriarki. Ayu Pawitri yang resah akan tuntutan pada kaum perempuan menuangkannya dalam bait-bait gugatan.

Pagi-pagi sudah bergontok sayur di keranjang/dengan uang belanja dari tempat bekerja/50 ribu rupiah untuk makan/laki-laki yang seharian bekerja//Bagaimana memproduksi wacana/berbarengan dengan produksi sayur asem/dan pecel yang minta segera disajikan

Ayu Ruhyuni lewat Kolektor Jam (halaman 19) memerinci jam sibuknya yang tak sudah-sudah. Terasa menyentil, ia mengungkap berbagai tanggung jawab yang ia emban, dari menemani si kakak sekolah daring, bantu si adik prakarya, perah ASI (air susu ibu) untuk bayi, bikin kopi suami. Belum lagi cuci baju, masak siang, masak malam, menidurkan anak, tidak tidur untuk suami. Itulah jam yang ia koleksi dan pakai hari-hari.

Caroline Monteiro menyuarakan keamanan perempuan di ruang publik (halaman 24). Kini perempuan masih kerap risi akan bisik dan tawa tentang pinggul dan dada, masih harus waspada akan tangan asing meraba. Dilanjutkan Citra Benazir yang merisaukan belum hadirnya keberpihakan negara pada penyintas pelecehan (halaman 27).

Di mana aku bisa berlindung?/Jika pulang ke rumah membawa malu/Jika lapor ke aparat tanpa bukti/Jika sahabat satu per satu pergi//Berapa harga hak asasi?/Jika bersuara tetap dibungkam/Jika berteriak tetap disepelekan/Jika bertahan tetap diancam

Steteotip perempuan sebagai pelengkap pria rasanya tak kurang disuarakan. Namun, cap itu hingga kini masih melekat.

Di antara pandangannya, ruang perempuan hanya seputar urusan domestik. Ketika ingin bekerja, muncul tentangan dari suami atau keluarga. Di sisi lain, jika perempuan bekerja, urusan domestik (masak, nyuci, ngurus anak) tetap jadi tugas mereka.

Alih-alih apresiasi, perempuan bekerja kerap dianggap sekadar bantu suami, padahal porsi kerja dan pemasukan utuh 100 persen, sama sekali tak bisa disebut membantu. Kita pun tak asing dengan pujian pada ayah yang mampu sekadar mengganti popok atau membedaki bayi, sedangkan si ibu yang berbuat jauh lebih dari itu tak pernah dipuji. Dan Puandemik mendaftar serta mencatat detail kasus-kasus riil seputar budaya patriarki itu.

Rasanya tak ada alasan tak bersimpati pada sederet kerisauan di buku ini. Langkah kecil simpati itu bagi saya bisa memulai dari diri sendiri, dengan merekonstruksi cara pandang pada perempuan. (*)


Artikel Asli