Mahasiswanya Diajak Teguh Karya Syuting Ibunda

Nasional | radarjogja | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 09:11
Mahasiswanya Diajak Teguh Karya Syuting Ibunda

RADAR JOGJA Ingatan Nur Iswantara langsung terngiang waktu dulu menempuh ilmu di Asdrafi. Teringat kembali tokoh-tokoh hebat meramaikan kancah perfilman Indonesia. Dosen dan praktisi program studi pendidikan seni pertunjukan Institute Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu sekaligus nostalgia saat dihubungi Radar Jogja, Rabu (24/12).

Sebagai alumni dia tahu, Asdrafi melahirkan tokoh-tokoh perfilman legendaris. Seperti, Teguh Karya, sutradara legendaris Indonesia yang memiliki nama lahir Steve Liem Tjoan Hok. Tak kalah populer, aktor Hendra Cipta, Imam Putra Piliang (Sutradara), Aswar AS (Aktor dan Sutradara), Putu Wijaya (Sastrawan) dan sineas muda ada Alex Soeprapta Yudho, termasuk Ketua persatuan artis film Indonesia (Partfi) DIJ Gatot Brajamusti dan Dwi Utomo yang dikenal dengan teater PETA.

Dia menyebut, Asdrafi berdiri pada 1951. Namun, cikal bakalnya ada di Malioboro. Di sebuah kios koran dan majalah. Awalnya hanyalah perkumpulan kelompok kecil teater, namun kerena digeluti secara bersungguh-sungguh akhirnya mendapatkan wadah di Ndalem Sompilan, Ngasem, Jogja. Dulu statusnya nebeng di koran majalah, lalu ditawari perkuliahan di Ndalem Sompilan tempatnya Romo Saluku Purbodiningrat. Lalu Jalan Sompilan 12 menjadi Kampus Asdrafi, ungkap Nur, warga Argomulyo, Sedayu, Bantul ini.

Sri Murtono merupakan salah satu tiang berdirinya Asdrafi. Awalnya hanyalah sekolah namun kemudian berlanjut menjadi akademi. Kendati begitu, disayangkan memasuki era 2000, Asdrafi meredup. Banyak tokoh-tokoh yang meninggal dunia.

Terakhir 2002, status kampusnya sudah tidak ada.Adanya Asdrafi kalau saya memandang sebagai pendidik (dosen) sangat positif walaupun sekarang secara dasar hukum tidak ada, tetapi dilanjutkan dengan aktivitas oleh alumni dan simpatisannya. Salah satunya Jedink Production guyup rukun keluarga (GKR) Asdrafi, lebih enjoy dengan Asdrafi, ujarnya.

Sebagai alumni Asdrafi 1983-1986, Nur merasakan pengalaman besar dapat menempuh pendidikan D1-D3 di kampus tersebut. Ilmu yang diperoleh sangat membantunya menuju jalan kesuksesan hingga saat ini. Kami dididik secara pengetahuan itu memadahi drama dan film. Juga sebagai praktisi vokasi tanpa tercatat di kopertis, bebernya.

Meski tidak bergabung aktif diperkumpulan Asdrafi, usai lulus dari kampus tersebut, dia sempat mengkaji tentang selayang pandang perfilman Indonesia. Di mana film layar lebar 1980-an waktu itu sedang booming di Jogja. Misalnya saat Teguh Karya membuat film berjudul Ibunda pada 1986, hampir semua mahasiswa di Asdrafi terlibat. Termasyur. Istilah saya menempatkan sebagai outsider itu Asdrafi luar biasa, sambungnya.

Puncaknya di 1980-an itu, event-event meluas. Beragam teaterikal dan perfilman digelar di Alun-alun utara dengan mendatangkan 7.000-an lebih penonton, lalu ada kiprah seni di Bulaksumur, improvisasi art tinggi di Senisono.

Asdrafi juga melahirkan tokoh pengetahuan, yaitu Harymawan yang dikenal dengan bukunya berjudul drama turki. Satu-satunya buku dari Indonesia yang populer di Australia. Dan masih banyak lagi melahirkan tokoh perfilman dari penjuru negeri, mulai Sabang sampai Merauke. Bahkan pada era orde baru seluruh taman budaya di Indonesia banyak lulusan asdrafi yang terlibat didalam kepengurusan. Rerata alumnus Asdrafi ketika pulang ke kampungnya sukses mengembangkan kariernya, bebernya.

Untuk mengenang Asdrafi, alumnus Asdrafi mengabadikan dengan sebuah ayayasan Fosil Asdrafi. Yaitu, forum silaturahmi alumni akademi seni drama dan film. Lokasinya di sekitar Makam Kyai Salam Jalan Wates. (mel/pra)

Artikel Asli