Kampus Bubar, Kegiatan Jalan Terus

Nasional | radarjogja | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 07:10
Kampus Bubar, Kegiatan Jalan Terus

RADAR JOGJA Sejak lama Jogjakarta memang dikenal dengan kota pendidikan dan seni. Banyak juga perguruan tinggi yang memiliki spesialisasi menghasilkan para seniman hebat di kota ini.

Salah satu perguruan tinggi yang fokus pada kesenian dan pernah eksis di Jogjakarta adalah Akademi Seni Drama & Film (Asdrafi). Dulu, Asdrafi memiliki kampus di sekitaran Kadipaten, Kraton, Kota Jogja.

Namun, sejak tahun 2006, kampus itu sudah dibubarkan. Peminat yang sedikit dan banyaknya kampus-kampus lain yang mengusung konsep serupa tapi lebih memiliki modal, jadi beberapa alasan yang membuat Asdrafi harus mundur.
Siti Nikandaru Chairina adalah salah satu pengajar Asdrafi kala itu. Ia merupakan cucu dari BPH Pakuningrat, salah seorang tokoh yang menjadi pendiri Asdrafi di tahun 1955.

Menurut sosok yang akrab disapa Rina itu, dulu Asdrafi memiliki kampus yang letaknya di depan Hotel Garuda. Namun, saat itu kampus harus dipindahkan karena di kampus lama terlalu sempit. Oleh eyang saya, BPH Pakuningrat, dipersilakan untuk menempati Ndalem Pakuningratan, kenangnya kepada Radar Jogja.

Menurut Rina, ada beberapa hal yang jadi keunggulan Asdrafi saat itu. Salah satunya semua mahasiswa harus merasakan bagaimana menjadi seniman di dunia akting dengan keseluruhan. Misalnya mahasiswa jurusan drama, juga harus paham cara produksi film dan sebaliknya. Semua mahasiswa harus merasakan, entah itu drama, film, lanjutnya.

Asdrafi memang sebagai akademi sudah bubar sejak tahun 2006. Namun bukan berarti di Asdrafi saat ini tidak ada kegiatan. Kepedulian para alumni membuat nama Asdrafi terus hidup.
Mereka tetap menggelar kegiatan di kampus lama mereka. Entah itu acara monolog, diskusi, sastra, drama, dan berbagai kegiatan yang lain. Di Youtube kami juga ada itu di Jedink Production, itu produksi alumni Asdrafi, jelas Rina.

Rina sebenarnya memiliki keinginan untuk kembali menghidupkan Asdrafi sebagai akademi seperti dahulu. Namun, menurutnya, hal itu sangat berat untuk dilakukan. Perlu modal yang tidak sedikit. Untuk akademi sudah tidak bisa nututi lagi. Terlalu berat kami untuk mengejar itu. Modalnya terlalu besar, tandasnya. (kur/laz)

Artikel Asli