Loading...
Loading…
Legislator Minta Perketat Pintu Masuk ke Indonesia

Legislator Minta Perketat Pintu Masuk ke Indonesia

Nasional | republika | Selasa, 21 Desember 2021 - 13:45

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani meminta pemerintah membatasi akses pelancong dari luar negeri yang akan masuk ke Indonesia. Tujuannya tak lain adalah untuk mencegah penyebaran varian Omicron di dalam negeri.

"Lakukan tes PCR, isolasi dan karantina secara ketat. Pastikan para pelancong yang datang ke Indonesia menjalani protokol kesehatan secara menyeluruh," ujar Netty dalam keterangannya, Selasa (21/12).

Kasus Omicron yang masuk ke Indonesia harus menjadi bahan evaluasi pemerintah. Terutama dalam melakukan penelusuran asal dan bagaimana varian baru Covid-19 itu masuk ke Indonesia. "Segera lakukan tracing untuk menelusuri pesebarannya. Jangan sampai kita kecolongan karena pembawa virus malah bebas berkeliaran di tengah masyarakat," ujar Netty.

Selanjutnya, ia meminta pemerintah mengedukasi masyarakat terkait gejala dan sifat dari varian Omicron. Serta agar segera melapor pada pihak berwenang jika menemukan kasusnya di lapangan.

Di samping itu, pemerintah harus meningkatkan kesiapsiagaan sarana dan prasarana faskes di dalam negeri. Termasuk obat, SDM, tenaga pendukung dan sebagainya sebagai antisipasi lonjakan kasus.

"Kita tidak berharap kasus omicron meningkat, tapi bersiaga menghadapinya adalah wajib. Selain meningkatkan kesiagaan faskes, laju vaksinasi juga harus ditingkatkan," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Peneliti Populi Center, Nurul Fatin Afifah memaparkan hasil survei terbarunya terkait penanganan pandemi Covid-19. Salah satu hasilnya adalah mayoritas publik khawatir dengan gelombang 3 pandemi dan varian baru Covid-19.

"Sebesar 65,4 persen khawatir, akumulasi dari sangat khawatir 15,7 persen dan khawatir 49,7 persen," ujar Nurul dalam rilis surveinya di kawasan Mampang, Jakarta, Senin (20/12).

Adapun masyarakat yang merasa biasa saja dengan gelombang 3 dan varian baru Covid-19 sebesar 8,3 persen. Publik yang mengaku tidak khawatir sebesar 22,6 persen dan sangat tidak khawatir sebanyak 2,6 persen. "Menyatakan tidak tahu atau tidak jawab sebanyak 1,2 persen," ujar Nurul.

Original Source

Topik Menarik

{