Cerita Korban Semeru Ke Jokowi “Nggak Sampai 1 Menit Langsung Gelap, Pak...”

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 08 Desember 2021 - 07:20
Cerita Korban Semeru Ke Jokowi “Nggak Sampai 1 Menit Langsung Gelap, Pak...”

Presiden Jokowi hadir langsung di tengah warga Lumajang, yang sedang menderita karena bencana letusan Gunung Semeru. Kemarin, Jokowi terbang ke Lumajang. Di sana, Kepala Negara meninjau sejumlah lokasi terdampak erupsi Gunung Semeru. Termasuk mendengar cerita dan keluh-kesah warga di tenda pengungsian.

Untuk menembus lokasi bencana, Jokowi menempuh dua kali penerbangan udara. Pertama, sekitar pukul 7 pagi terbang dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia 1 menuju Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Lalu disambung menggunakan helikopter Super Puma TNI AU.

Sepanjang penerbangan menggunakan heli yang memakan waktu sekitar 30 menit itu, Jokowi dan rombongan juga sempat melihat-lihat dari udara semburan awan panas dari Gunung Semeru yang tampak membumbung tinggi.

Sekitar pukul 9.30, heli yang ditumpangi Jokowi mendarat di Helipad Stadion Srikandi, Kabupaten Lumajang. Mensesneg Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Sekretaris Militer Presiden Marsda TNI M Tonny Harjono, Komandan Paspampres Mayjen TNI Tri Budi Utomo, dan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin turut mendampingi.

Sebelum meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak erupsi, Jokowi terlebih dahulu menengok kondisi masyarakat yang selamat dari amukan Gunung Semeru di lokasi pengungsian di Desa Sumberwuluh. Selain menyapa warga, Jokowi juga membawa makanan cepat saji. Termasuk susu kotak kepada anak-anak.

Jokowi berbaur di dalam tenda, mendengar keluh-kesah dan cerita pengungsi. Salah satunya, cerita warga dari Dusun Kamar Kajang. Di hadapan Jokowi, salah satu waktu mengaku tak menyangka jika erupsi Semeru di Sabtu lalu, bakal sedahsyat itu. Hari masih sekitar pukul 3 sore, tapi sudah gelap. Seperti malam hari. "Nggak sampai 1 menit itu Pak, langsung gelap," cerita warga tersebut.

Sebelum kejadian, ia sempat menerima pemberitahuan lewat telepon genggamnya dari pusat pemantauan. Infonya, ada 25 kali getaran. Biasanya, kata dia, getaran sebanyak itu hanya berdampak kecil. Ternyata letusannya sangat dahsyat.

Paniknya itu panik abu. Abunya itu loh Pak, kan gelap. Posisi jam 3 sore itu kejadiannya, abu vulkanik," timpal warga lainnya.

"Hujan debu?" tanya Jokowi, menegaskan. "Iya, hujan debu gitu," jawab warga. "Hujan air nggak?" tanya Jokowi lagi. "Hujan abu dulu, gelap, disusul lahar dingin," jelas, warga lainnya.

Warga lain meluapkan kesedihannya ke Jokowi, karena ibunya meninggal dunia akibat bencana itu. Ada juga yang rumahnya rusak hingga banyak hewan ternak yang mati. Kepada Presiden, warga meminta agar rumah dan infrastruktur yang hancur bisa segera diperbaiki.

"Nggih, rumahnya, jembatannya, cepat kita mulai (perbaiki). Ini Menteri PU sudah saya ajak. Ini baru mengecek semua, nanti segera dikerjakan, jawab Jokowi, memenangkan. Terima kasih, Pak, seru warga.

Sejauh ini, Kementerian PUPR Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur telah memobilisasi 10 unit Hidran Umum (HU) kapasitas 2.000 liter, 4 unit Mobil Tangki Air (MTA) kapasitas 4.000 liter, 6 unit tenda hunian darurat, 3 mobil toilet, 11 bed, 6 tenda ukuran 4x4, 1 unit dump truck, 1 unit mobil kabin, dan dukungan 16 personel tanggap darurat.

Sejumlah alat berat juga telah dikerahkan untuk mempercepat evakuasi korban dan pembersihan kawasan terdampak oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali. Seperti excavator, loader, dump truck, water tanker, hingga pick up di Lumajang dan Malang. Selain itu, 1 unit Jembatan Bailey, 2 unit dump truck, hingga 3.000 lembar kawat bronjong sudah standby di kantor balai. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas juga ikut mengerahkan sejumlah alat berat hingga perlengkapan tambahan berupa lighting lamp, MTA dan alkon, solar, serta oli hidrolik dan oli mesin.

Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian mengatakan, tugas yang pertama dikebut adalah membereskan akses menuju lokasi bencana. Agar bisa dilalui kendaraan logistik, termasuk juga kebutuhan pengungsi. Baik jalan maupun jembatan.

"Pembangunan jembatan permanen dengan bentang 130 meter butuh waktu. Makanya kita buatkan dulu jembatan gantung yang bersifat sementara untuk pemulihan konektivitas," kata Hedy, dalam keterangannya, kemarin. [SAR]

Artikel Asli