Jarang Mandi dan Sikat Gigi Bisa Jadi Tanda Depresi

Nasional | republika | Published at Minggu, 05 Desember 2021 - 03:35
Jarang Mandi dan Sikat Gigi Bisa Jadi Tanda Depresi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang yang jarang mandi dan sikat gigi kerap dicap sebagai pribadi yang jorok, pemalas, dan menjijikan. Padahal, perilaku jarang mandi dan sikat gigi ini bisa jadi sebuah alarm bahwa orang tersebut mengalami depresi.

Banyak penderita depresi yang mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas menjaga kebersihan dasar. Misalnya, mandi, mencuci tangan, menyikat gigi, mencuci baju, atau menyisir rambut. Mereka mungkin baru akan melakukan hal-hal tersebut ketika diingatkan oleh anggota keluarga.

"Mereka melaporkan tidak memiliki cukup energi untuk melakukan tugas merawat diri sederhana seperti menyikat gigi atau keramas," jelas psikolog klinis Melissa A Jones PhD HSPP, seperti dilansir Healthline, Ahad (5/12).

Ada beberapa hal yang dapat membuat penderita depresi menjadi jarang mandi, sikat gigi, atau melakukan perawatan kebersihan diri lain. Salah satu di antaranya adalah depresi menyebabkan kehilangan minat dan kelelahan. Dengan kata lain, depresi membuat penderitanya hanya memiliki sedikit motivasi dan energi yang untuk menjaga kebersihan diri.

Penyebab lainnya, depresi juga memunculkan gejala-gejala fisik seperti nyeri fisik. Gejala ini juga dapat membuat penderita depresi menjadi enggan untuk mandi ata menjaga kebersihan diri.

"Membuat mereka merasa tidak mampu secara fisik untuk merawat kebutuhan kebersihan pribadi mereka," jelas Jones.

Selain jarang mandi, sikat gigi, atau merawat kebersihan diri, penderita depresi juga bisa menunjukkan beberapa gejala lain. Beberapa gejala depresi yang juga perlu diwaspadai adalah kehilangan minat, peningkatan rasa lelah, gangguan tidur, kecemasan, hingga merasa ingin mengakhiri hidup.

Bila merasa diri sendiri atau orang terdekat memiliki gejala depresi, segera cari pertolongan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Para ahli dapat membantu mengelola depresi melalui serangkaian terapi, seperti perubahan gaya hidup hingga penggunaan obat.

Artikel Asli