Antisipasi Kasus Impor Covid, Moeldoko Cek Wisma Atlet Pademangan

Nasional | rm.id | Published at Jumat, 26 November 2021 - 12:40
Antisipasi Kasus Impor Covid, Moeldoko Cek Wisma Atlet Pademangan

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meninjau Wisma Atlet Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (26/11). Peninjauan dilakukan Moeldoko untuk memastikan kesiapan Wisma Atlet Pademangan melakukan deteksi dini Covid-19 terhadap para Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) yang datang dari luar negeri.

Moeldoko tiba di Wisma Atlet Pademangan, pukul 9 pagi. Mengenakan kemeja putih, Moeldoko langsung berjalan kaki meninjau sejumlah tempat di Wisma Atlet Pademangan. Dia didampingi tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Mirza Irwanda, Kasdam Jaya/Jayakarta Brigjen TNI Bobby Rinal Makmun dan Asops Kasdam Jaya Kolonel Inf Dody Tri Winarto.

Tempat pertama yang dikunjungi Moeldoko adalah tempat turunnya Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). "Di sini tempat turunnya ya?" tanya Moeldoko yang disambut anggukan dokter Mirza.

Setelah itu, mereka berjalan menuju ruang registrasi. Para PPLN harus melakukan registrasi sebelum menjalani swab tes. Kebetulan, pagi ini, tidak ada PPLN yang datang ke Wisma Atlet Pademangan.

Di sini, Moeldoko cukup lama berbincang-bincang dengan dokter Mirza dan dua pejabat Kodam Jaya itu. Dijelaskan, tingkat hunian Wisma Atlet Pademangan saat ini meningkat, seiring kebijakan pemerintah yang mulai membuka penerbangan internasional ke Tanah Air. "Kita terbantu karena ada fasilitas hotel untuk karantina," ucap Mirza.

Setelah itu, Moeldoko melanjutkan peninjauan ke ruang swab test. Di tempat ini, para PPLN yang sudah mendaftar akan menjalani test swab. Jika hasilnya negatif, mereka akan ditempatkan di kamar-kamar untuk menjalani karantina selama 3 hari dua malam. Sementara yang positif, langsung diisolasi.

Moeldoko sempat berbincang sejenak dengan dua orang petugas swab test. "Sehari ngetes berapa orang?" tanya dia. "Kurang lebih 1.200 pak," tutur petugas itu.

Dokter Mirza menjelaskan, rata-rata, dalam sehari ada 2.500 PPLN. Sekitar 50-60 persennya, dibawa ke Wisma Atlet Pademangan. "Jadi sekitar 1.200 itu dites, pak," jelasnya. Moeldoko pun menyemangati petugas itu. "Banyak juga 1.200. Tetap semangat ya," ucapnya disambut jawaban "siap" dari petugas swab tes yang berjumlah enam orang.

Dari situ, Moeldoko meninjau ruang pengobatan. Biasanya, pasien yang memiliki komorbid dan tak terkontrol, dibawa ke sini untuk diobati. Saat Moeldoko meninjau, ada sekitar empat pasien yang tengah dirawat di sana.

Kemudian, Moeldoko ke ruang pelayanan masyarakat. Di sini, dia berdialog dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI), pelajar Indonesia yang menyelesaikan studi di Lebanon, serta anggota Pasukan Garuda yang sempat berdinas di Kongo.

Moeldoko menanyakan kesan-kesan mereka selama menjalani karantina di Wisma Atlet Pademangan. "Bayar nggak?" tanya Moeldoko. "Nggak pak," jawab Seftianti, PMI asal Hong Kong. "Berarti negara memikirkan kalian," tutur Moeldoko disambut tepuk tangan.

Setelah menghabiskan waktu sekitar setengah jam, Moeldoko menyudahi peninjauan. Dia kemudian menggelar konferensi pers di depan pintu Wisma Atlet Pademangan.

"Pada pagi hari ini saya mengunjungi Wisma Pademangan untuk melihat dari dekat tentang kesiapan deteksi dini, untuk PMI dan berbagai masyarakat Indonesia dari luar negeri. Termasuk, pelajar," tuturnya.

Menurutnya, Wisma Atlet Pademangan merupakan penangkal awal untuk memastikan masyarakat Indonesia yang datang dari luar negeri, betul-betul bebas dari Covid-19. "Kita harus pastikan itu," imbuh Moeldoko.

Sebab, diingatkan mantan Panglima TNI itu, ada kecenderungan Covid-19 di luar negeri meningkat tajam. Khususnya, di Eropa.

"Dubes Jerman kirim surat, melaporkan bahwa kasus melonjak luar biasa. Mereka sedang menyiapkan diri menghadapi gelombang 4. Denmark juga demikian. Masyarakatnya 75 persen sudah vaksin, tapi protokol kesehatan kendor. Kini mereka memberlakukan prosedur kesehatan kembali," ungkapnya.

Indonesia kini dalam kondisi yang cukup bagus. Tetapi, diingatkannya, Indonesia pernah punya pengalaman mengalami situasuli yang sangat tidak bagus. Sampai akhirnya, mesti menjalani Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

"Kondisi ini sugguh tidak nyaman bagi siapapun, masyarakat, dunia usaha, pemenrintah kalang kabut. Ini harus menjadi tonggak peringatan agar kita tidak masuk. Saya hadir ke sini peringatan bagi masyarakat untukk selalu waspada. Nggak ada gunanya kita nyesal setelah kejadian," tandasnya. [OKT]

Artikel Asli