Tetap Semangat Mengajar Di Tengah Pandemi Perjuangan Guru Bikin Mas Menteri Terharu

Nasional | rm.id | Published at Jumat, 26 November 2021 - 07:05
Tetap Semangat Mengajar Di Tengah Pandemi Perjuangan Guru Bikin Mas Menteri Terharu

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan apresiasi kepada para guru. Guru di Indonesia dianggap kuat dan tahan mental meski menghadapi kondisi pandemi Covid-19.

Nadiem mengatakan, pada 2020 merupakan tahun penuh ujian, sehingga wajar jika banyak guru yang terdemotivasi. Namun, ada fenomena yang tidak terkira. Kita semua tersandung pandemi. Guru dari Sabang sampai Merauke terpukul secara ekonomi, kesehatan, dan batin, ujar Nadiem, saat Upacara Peringatan Hari Guru Nasional 2021, di halaman kantor Kemendikbudristek, Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, karena serbuan virus Corona, para guru harus mengubah skema pembelajaran. Mau tidak mau, guru harus mendatangi rumah-rumah pelajar untuk memastikan mereka tidak ketinggalan pelajaran.

Selain itu, guru juga terpaksa mempelajari teknologi yang belum pernah mereka kenal. Mereka juga harus menyederhanakan kurikulum untuk memastikan murid tidak belajar di bawah tekanan.

Mantan bos Gojek ini menyaksikan, para guru menangis melihat murid mereka semakin hari semakin bosan, kesepian dan kehilangan disiplin. Tidak hanya tekanan psikologis karena pembelajaran jarak jauh (PJJ), banyak juga guru yang mengalami tekanan ekonomi untuk memperjuangkan keluarga mereka agar bisa makan.

Tapi ternyata ada fenomena yang tidak terkira. Saat saya menginap di rumah guru honorer di Lombok Tengah, saat saya menginap di rumah Guru Penggerak di Yogyakarta, saat saya menginap bersama santri di pesantren di Jawa Timur, saya sama sekali tidak mendengar kata putus asa, bebernya.

Nadiem menceritakan, saat sarapan bersama guru, ia mendengarkan terobosan-terobosan yang ingin dilakukan guru dan sekolah. Wajah mereka terlihat semangat membahas platform teknologi yang cocok dan tidak cocok untuk mereka. Dengan penuh percaya diri, mereka memuji dan mengkritik kebijakan dengan hati nurani mereka.

Di situlah saya baru menyadari bahwa pandemi ini tidak memadamkan semangat para guru, tapi justru menyalakan obor perubahan. Guru-guru se-Indonesia menginginkan perubahan, dan kami mendengar, jelas jebolan Universitas Harvard, Amerika Serikat ini.

Ditambahkan Nadiem, guru se-Indonesia menginginkan kesempatan adil untuk mencapai kesejahteraan yang manusiawi, akses terhadap teknologi dan pelatihan relevan yang praktis, kurikulum sederhana yang bisa mengakomodasi kemampuan dan bakat setiap murid, serta menginginkan pemimpin sekolah yang berpihak kepada murid, bukan birokrasi.

Guru se-Indonesia ingin kemerdekaan untuk berinovasi tanpa dijajah oleh keseragaman, imbuhnya.

Sejalan dengan itu, Nadiem menyebutkan, program Merdeka Belajar yang sejak pertama kali dicetuskan Kemendikbudristek, saat ini telah berubah menjadi suatu gerakan.

Menurutnya, gerakan Merdeka Belajar hidup dalam setiap insan guru yang punya keberanian untuk melangkah ke depan menuju satu tujuan utama. Yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Gerakan ini makin kuat karena ujian yang kita hadapi bersama. Contohnya, penyederhanaan kurikulum sebagai salah satu kebijakan Merdeka Belajar berhasil melahirkan ribuan inovasi pembelajaran, terang pria berusia 37 tahun ini.

Nadiem pun mengucapkan terima kasih kepada semua guru se-Indonesia atas pengorbanan dan ketangguhannya.

Dia berjanji tidak akan menyerah untuk memperjuangkan Merdeka Belajar demi kehidupan dan masa depan guru se-Indonesia yang lebih baik. Terima kasih, Merdeka Belajar ini sekarang milik Anda, tandas Nadiem. [DIR]

Artikel Asli