Belajar Kearifan Dari Dua Tokoh: Al-Gazali Dan Ibn Rusyd (3)

Nasional | rm.id | Published at Jumat, 26 November 2021 - 06:20
Belajar Kearifan Dari Dua Tokoh: Al-Gazali Dan Ibn Rusyd (3)

Al-Gazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali, tetapi diperuntukkan kepada siapapun juga yang diperkenankan oleh Allah. Menurutnya, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini, Al-Gazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. Ilham berada di wilayah supra conciousnes, sedangkan intuisi hanya merupakan sub-conciousnes. Allah Swt sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah Swt, itulah yang disebut ilm al-ladunny oleh Al-Gazali. (Lihat karyanya, Risalah al- Ladunniyyah).

Agak berbeda dengan yuniornya, Ibn Rusyd, seorang ilmuan multi talenta yang juga berasal dari ayah dan kakeknya dikenal sebagai ulama dan hakim termasyhur pada masanya. Ayah dan kakeknya menjadi hakim agung di Andalusia. Ibnu Rusyd sendiri pernah menjabat hakim di Sevilla dan Cordova pada masa Khalifah al-Manshur.

Ibn Rusyd mendalami banyak disiplin ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika-tasawuf, dan filsafat. Ia seorang tokoh kutu buku sejak kecil dan mendalami filsafat dari Abu Jafar Harun dan Ibnu Baja. Ibn Rusyd lahir dari genetic cerdas baik dari pihak ayah maupun ibunya.

Selain ilmuan dalam berbagai bidang keilmuan, ia juga aktif mengambil bagian dalam perjuangan fisik, ikut ke medan perang melawan Alphonse, raja Argon. Khalifah begitu menghormati Ibnu Rusyd melebihi penghormatannya pada para pejabat daulah al-Muwahhidun dan ulama-ulama yang ada masa itu.

Posisi Ibnu Rusyd yang sedemikian penting di dalam pemerintahan tidak membuatnya takbur dan berbagga hati. Ia tetap menampilkan kebersahajaan dan ketawadhuan di dalam masyarakat. Ia dikenal sangat konsisten dan istiqamah mempertahankan prinsip, khususnya kejujuran ilmiah. Karena kejujurannya sehingga ia mengalami masa tidak enak dengan raja penguasa (khalifah).

Artikel Asli