1.200 RS Disiagakan untuk Antisipasi Gelombang Ketiga Covid

Nasional | republika | Published at Jumat, 26 November 2021 - 00:05
1.200 RS Disiagakan untuk Antisipasi Gelombang Ketiga Covid

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah menyiagakan 1.200 rumah sakit (RS) rujukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gelombang ketiga penularan Covid-19 pada awal tahun 2022. Keterangan ini disampaikan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

"Penyiapan rumah sakit rujukan itu merupakan salah satu strategi pemerintah menghadapi ancaman gelombang ketiga Covid-19," katanya di Jakarta, Kamis (25/11).

"Selain itu, ketersediaan oksigen juga terus dilengkapi. Belajar dari situasi yang lalu tentunya," imbuhnya.

Keterbatasan pasokan oksigen medis untuk mendukung penanganan pasien sempat menjadi masalah saat gelombang kedua penularan Covid-19 menghampiri Indonesia pada Juli 2021. Nadia menjelaskan pemerintah akan mengalihkan penggunaan 30 sampai 40 persen tempat tidur pasien di rumah sakit untuk menangani pasien Covid-19. Selain itu pemerintah menyiapkan suplai oksigen dan alat kesehatan yang lain guna menghadapi kemungkinan terjadi lonjakan penularan Covid-19.

Pemerintah juga menyiapkan puskesmas untuk mendukung penanganan pasien Covid-19. Tenaga kesehatan (nakes) cadangan pun ikut disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terjadi lonjakan pasien Covid-19 di fasilitas-fasilitas kesehatan.

"Nakes saat ini cukup. Kita sudah punya daftar nakes kalau memang diperlukan tambahan," katanya.

"Kita mengerahkan tenaga kesehatan cadangan berikut pengetatan syarat masuk rumah sakit dan pemanfaatan isolasi terpusat," jelas Nadia.

Upaya-upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 sampai sekarang masih dijalankan, termasuk penegakan protokol kesehatan; pelacakan, pemeriksaan, dan penanganan kasus infeksi virus corona; dan vaksinasi. Dalam upaya mengendalikan penularan virus SARS-CoV-2, Nadia mengatakan pemerintah berusaha mendeteksi kasus infeksi sejak dini. Pemerintah menggiatkan pelacakan dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak erat dengan penderita Covid-19.

Artikel Asli