Saham SILO Masuk Indeks MSCI John Riady: Kami Dipercaya Dan Profesional

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 25 November 2021 - 12:23
Saham SILO Masuk Indeks MSCI John Riady: Kami Dipercaya Dan Profesional

Presiden Komisaris PT Siloam International Hospital Tbk (SILO)John Riady menegaskan, perusahaan yang dipimpinnyatak hanya berupaya menjaga kinerja perusahaan secara profesional, tetapi juga menjalankan misi sosial bisnisdengan sepenuh hati.

Terlebih, SILO kini masuk dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Small Cap atau MSCI Small Cap Indexes List. SILO bersama beberapa emiten lainnya. MenggusurPT Selamat Sampurna Tbk(SMSM), PT Bintang Oto Global Tbk (BOGA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).

MSCI Small Cap Index merupakan indeks kumpulan saham pilihan dari berbagai negara, dengan prasyarat saham diperdagangkan atau free float di atas 14 persen.

Singkatnya, masuknya emiten dalam indeks ini, dapat meyakinkan para investor bahwa saham-saham tersebut layak koleksi.

Hal tersebut ditunjukkan dengan pergerakan harga saham yang signifikan di bursa.

Saham SILO bergerak naik sekitar 11 persen,dalam sepekan terakhir. Masuknya SILO dalam indeks MSCI Small Cap sejalan dengan kinerja mengkilap korporat di bawah Lippo Group.

John menuturkan, kehadiran SILO di jajaran MSCI mencerminkan baiknya kinerja perusahaan, secara operasional danfinansial.

Artinya kami sangat profesional, dan dipercaya bisa menjaga kinerja tersebut secara berkesinambungan," ujar John.

SILO mencatatkan tren positif secara berkesinambungan, hingga kuartal III/2021, dengan total pendapatan perusahaan Rp 5,9 triliun.

Pendapatan kuartal III/2021 saja, dibukukan dengan angka Rp 2,1 triliun. Atau meningkat 9,4 persen dari kuartal sebelumnya.

Selama Januari-September, EBITDA atau laba perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi tembusRp 1,5 triliun. Melonjak107,2 persen dibandingtahun sebelumnya.

EBITDA Margin selama tiga kuartal tahun ini juga meningkat menjadi 26,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 18,5 persen.

Tak heran, sejak 1 Januari 2019, harga saham SILO meningkat 2,4 kali dengan kapitalisasi pasarRp 14 triliun. Fakta ini mengantar SILO menjadi jaringan rumah sakit terbesar dengan kinerja baik.

Meskidemikian, John menegaskan,bisnis rumah sakit sebagai mata rantai terpenting dalam sebuah sistem layanan kesehatan tetap wajib berorientasi kemanusiaan dan sosial.

Agar misi tersebut optimal,seluruh syarat seperti infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja kesehatan, peralatan laboratorium, hingga fasilitas teknologi wajib dihadirkan.

Faktanya, suplai layanan kesehatan secara nasional masih terbilang kurang baik, apakah itu dari segi kuantitas atau kualitas.

John menggambarkan, bahwa Indonesia hanya memiliki rasio ranjang 1,33 per 1.000 orang.

Selain itu, Indonesia juga dihadapkan problem minimnya jumlah dokter. Saat ini saja, jumlah dokter hanya sekitar 81.011 orang, dengan persebaran terbanyak di Pulau Jawa, terutama Jabodetabek dengan rasio mencapai 0,3 per 1.000 orang.

Untuk itulah, Lippo Group melalui Siloam sejak semula mempunyai visi untuk membangun ekosistem kesehatan nasional yang kuat. Mulai dari pendidikan dokter dan perawat di UPH, sampaimenyediakan akses beasiswa bagi para spesialis. Sehingga, Siloam bisa menjadi wadah bekiprahnya dokter-dokter terbaik tersebut, paparJohn.

Dengan membangun ekosistem, Siloam secara perlahan berhasil memupuk optimisme, untuk mengentaskan persoalan kualitas dan kuantitas layanan kesehatan nasional.

Kini, jaringan rumah sakit SILO yang berjumlah40 yang tersebar di 23 kota.

Dengan infrastruktur mumpuni dan jumlah tenaga kesehatan memadai, jaringan rumah sakit SILOikut diandalkan menanggulangi pandemi Covid-19. Terlebih, pada masa genting gelombang kedua yang lalu.

Kami ikut membantu pemerintah menangani pasien Covid-19 yang sangat melonjak pada gelombang kedua lalu, tenaga kesehatan kami secara profesional bekerja menyelamatkan nyawa manusia, kata John.

Di lain sisi, pandemi Covid-19 ini pula yang memberikan pelajaran berharga bahwa sistem layanan kesehatan nasional perlu terus diperkuat.

Terlebih, ke depan, sistem layanan iniwajib memiliki daya antisipasi dan mitigasi dalam menghadapi pandemi yang sangat mungkin berulang.

Karena itu, kami berupaya terus melakukan ekspansi yang menguatkan mata rantai layanan kesehatan nasional. Kami terus bangun dan kembangkan ekosistem," tegas John.

"Untuk itu semua, kami harus selalu menjaga profesionalitas, baik dari sisi finansial maupun operasional, karena tanpa kekuatan finansial serta kepercayaan investor, tentunya SILO tak bisa berbuat banyak, imbuhnya.

Berkaca kepada imbas pandemi serta tren kesehatan secara global, SILO akan mengembangkan konsep layanan kesehatan berbasis wellness , yang senantiasa berupaya agar orang tetap sehat.

Konsep ini berbeda dengan konsep healthcare tren kesehatan saat ini, yang mengutamakan penanganan penyakit pasien.

Dengan konsep ini, kerja mata rantai kesehatan akan menjadi lebih ringan, lebih berorientasi preventif. Sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, pungkas alumnus Georgetown University, Palmer Scholar, dan Columbia University Law School. [HES]

Artikel Asli