Indonesia dan Barat dalam Aspek Sejarah

Nasional | jatimtimes.com | Published at Kamis, 25 November 2021 - 12:19
Indonesia dan Barat dalam Aspek Sejarah

JATIMTIMES - Buku Dari Romawi Sampai Guruh Gipsy menyajikan beragam kisah sejarah secara terperinci. Buku ini berisi kumpulan artikel sejarah yang kemudian dijadikan dalam satu buku yang terbit tahun 2021. Pembaca dibuat takjub dengan sejarah dunia yang tersembunyi, ditambah lagi pemilihan kata yang apik membuat pembaca berdecak kagum.

Bangsa Romawi heran melihat Senoses berperang tanpa mengenakakan busana. Tradisi perang yang sama sekali tidak terduga, entah apa filosofi didalamnya. Senoses sendiri memiliki perawakan kekar yang dapat membuat banyak musuh takut. Setelah melihat bangsa Senoses dengan keanehannya, bangsa Romawi menjadi kacau balau.

Kisah kejatuhan Kota Roma ini diawali dengan kebiasaan bangsa Keltik yang dikenal suka berpindah-pindah dari satu wilayah menuju wilayah baru. bangsa Keltik ini bermigrasi ke Barat dan akhirnya sampai di Eropa Tengah, yakni Germania. Kebiasaan lain bangsa Keltik yaitu suka bermusuhan dengan bangsa lain yang mengakibatkan perang tidak berkesudahan. Sepuluh tahun sebelum kejatuhan Kota Roma, sebuah suku Keltik Bernama Senoses meluaskan wilayah ke bagian Utara Italia, akibatnya berbagai wilayah jatuh ke tangan Senoses dengan mudah.

Bangsa Senoses terus menerus memperluas wilayahnya hingga ke Clusium. Penduduk Clusium pun meminta bangsa Romawi untuk membantu mereka. Namun, saat duta besar yang dikirim oleh senat romawi kepada Senoses untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, mereka justru berkelahi karena saling mengejek. Alhasil perang pun tak dapat dihindari.

Ketika musim semi, bangsa Senoses datang membawa kurang lebih tiga puluh ribu pasukan menuju Roma. Mereka dipimpin oleh kepala suku Bernama Brennus. Mengetahui datangnya bangsa Senoses, Romawi tidak gentar meski kekurangan pasukan.

Saat berperang, bangsa Keltik identik dengan tidak mengenakan busana. Perawakan bangsa Senoses yang kekar membuat bangsa Romawi kocar-kacir. Seluruh bagian dari pasukan Romawi menipis karena kekurangan pasukan.

Brennus kaget dengan kemenangannya. Melihat kemenangannya melawan bangsa Romawi, pasukan Senoses melakukan penjarahan di keesokan harinya. Brennus dan suku Senoses membalaskan amarah mereka dengan membakar, memperkosa dan membunuh di tiap sudut kota. Pertempuran ini dinamakan Pertempuran Allia.

Dalam bab yang lain, dikisahkan sebuah sejarah yang melegenda tentang suku Sunda dan Jawa. Peristiwa ini terjadi pada warsa 1279 Saka atau 1357 M pada masa pemerintahan Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda yang berakhir dengan Patilaga (perang mematikan) di Pasanggrahan Bubat. Hasilnya seluruh pasukan Sunda kalah telak dan tewas.

Raja Haya Wuruk mengetahui bahwa ada seorang putri cantik yang saat itu diketahui berasal dari Kerajaan Sunda. Putri itu Bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Raja Hayam Wuruk mengetahuinya dari lukisan seorang seniman Majapahit. Akhirnya beliau berniat untuk mempersunting Dyah Pitaloka. Kabarnya, tujuan pernikahan itu yakni untuk menjalin kekerabatan antara Sunda dan Jawa yang telah lama putus. Pihak Majapahit menginginkan pernikahan digelar di Majapahit. Namun Dewan Kerajaan Sunda menolak karena tidak lazim bila keluarga mempelai wanita ynag mendatangi keluarga mempelai pria. Namun pada akhirnya Dyah Pitaloka dan beberapa pengawal dan menteri datang menemui Hayam Wuruk dan singgah di Bubat.

Gajah Mada saat itu tidak dapat memenuhi janjinya dimana dia tidak akan mabuk, berhubungan seksual dan makan enak sebelum menyatukan Nusantara. Ia akhirnya memanfaatkan situasi kedatangan Kerajaan Sunda dengan mengutus Hayam Wuruk menganggap kedatangan Dyah Pitaloka sebagai rupa penyerahan Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Mengetahui hal itu, Linggabana dan Majapahit berselisih. Gajah Mada mengirim pasukan dalam jumlah besar sehingga pasukan Kerajaan Sunda kewalahan karena jumlahnya yang tidak seimbang. Dalam peperangan ini, perdana menteri dan pasukan lain gugur.

Bila perang Bubat tidak pernah ada, relasi antara Majapahit dan Pasundan tetap tak akan dekat, karena telah dipisahkan oleh jarak dan kekerabatan. Perang Bubat hanya memperkeruh apa yang telah ada dan mengakar sejak lama.

Setelah membaca keseluruhan isi buku, ditemukan beberapa kelebihan seperti pemaparan materi bacaan yang tersampaikan dengan baik, kosakata yang beragam, desain sampul buku yang menarik dan penambahan gambar yang membuat buku ini lebih hidup.

Disamping kelebihan-kelebihan tersebut, buku ini memiliki kekurangan seperti pemilihan kertas buku yang kurang menarik, bobot bacaan terlalu berat dan pemilihan kata yang sedikit kompleks.

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang sejarah di masa lampau yang memiliki peran dalam kehidupan masa kini. Dari mulai sejarah Bangsa Romawi sampai Kerajaan di Indonesia dikupas habis disini. Politik kerajaan, tokoh-tokoh penting, dan sosial budaya yang tak dapat terlepaskan dari sejarah menambah komplet isi bacaan. Buku Dari Romawi Sampai Guruh Gipsy ini memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan mengingat sejarah yang sering terlupakan oleh manusia modern. Pembaca akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan karena penjelasannya menarik untuk dipelajari. Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca berumur tujuh belas tahun keatas karena buku ini memiliki cakupan yang sangat luas dan bahasa yang kompleks.

Artikel Asli