Gaji Guru Honorer Jateng yang Belum Layak Diminta Setara UMK

Nasional | republika | Published at Kamis, 25 November 2021 - 11:26
Gaji Guru Honorer Jateng yang Belum Layak Diminta Setara UMK

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta Bupati/Wali Kota se-Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada guru, khususnya mereka yang masih honorer.

Sampai saat ini masih banyak guru honorer di Jawa Tengah --yang secara status berada di bawah tanggungjawab kabupaten/ kota-- belum dapat menikmati upah yang layak.

Hal itu disampaikan Gubernur usai memimpin upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang dilaksanakan di SLB Negeri Semarang, Kamis (25/11).

Gubernur mengakui --jika dibandingkan dengan buruh-- guru honorer di negeri ini masih mendapat perlakuan yang berbeda, khususnya dalam hal pendapatan.

"Terus terang saya nggregel (sedih). Tiap tahun kita berdebat memperjuangkan gaji teman- teman buruh, tapi kita lupa ribuan guru gajinya masih memprihatinkan, tak terkecuali di Jawa Tengah," katanya.

Untuk guru yang berada di bawah tanggungjawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah, lanjutnya, semua sudah mendapatkan gaji setara dengan UMK.

Namun mereka guru honorer SD - SMP yang berada di bawah tanggungjawab kabupaten/ kota, belum semuanya bahkan banyak yang belum mendapatkan haknya secara layak.

Untuk itu, ia mendorong para bupati dan walikota dan DPRD kabupaten/ kota untuk lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan guru honorer di daerahnya.

"Saya berharap tahun depan, semua guru honorer yang hingga kini belum menikmati gaji yang layak sudah bisa mendapatkan gaji setara dengan UMK di daerahnya," tegas gubernur.

Menurutnya, tidak ada yang sulit untuk menaikkan gaji para guru honorer di daerah agar bisa setara dengan UMK dan semua bisa dilakukan sepanjanh ada kemauan yang kuat.

Sehingga tingkat kesejahteraan para guru honorer bisa terangkat lebih baik karena penghasilan mereka sudah setara dengan besaran UMK yang berlaku di daerahnya.

"Tolong mereka dibayar setara UMK. Jangan bilang tidak ada. Kalau tidak ada, ya gaji kita (bupati/wali kota) yang dikurangi, jangan mereka guru honorer yang ditunda," tegasnya.

Sebab, masih jelas gubernur, dengan pendapatan yang setara dengan UMK saja, masih sangat kecil untuk sebuah penghargaan kepada para guru dan pendidik generasi ke depan bangsa.

Apalagi, UMK itu hanya upah minimal yang harus diberikan dan rata- rata masa pengabdian para guru untuk mendidik generasi bangsa relatif lebih panjang.

Mereka sudah bekerja/ mengabdi sebagai seorang pendidik dengan masa 5, 10 bahkan ada juga yang telah belasan tahun mendidik dan mencerdaskan anak- anak bangsa.

Walaupun statusnya honorer, mereka juga memberikan pengabdian dengan porsi dan kemampuan yang tetap penuh dan tidak tergantung berapa penghasilannya.

"Jadi tolong, saya mendorong semua bupati/ wali kota dan wakil rakyat di daerah benar- benar memperhatikan dan memperjuangkan kesejahteraan para guru honorer" tegasnya.

Pada momentum HGN kali ini, gubernur juga berpesan kepada seluruh guru di tanah air, khususnya di Jawa Tengah agar tetap menjadi panutan bagi peserta didiknya.

Atas nama warga Jawa Tengah, gubernur juga berterimakasih kepada para guru yang sudah mendidik dan menyiapkan anak- anak menjadi generasi emas.

"Terus berikan pendidikan karakter kepada anak- anak bangsa, ajarkan kasih sayang diantara mereka, jangan ajarkan mereka saling membenci pada sesama," tandasnya.

Sementara itu, upacara peringatan Hari Guru Nasional sendiri digelar berbeda di Jawa Tengah. Jika biasanya peserta upacara memakai seragam PGRI, namun kali ini peserta menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Beberapa peserta ada yang berpakaian adat Lampung, Padang, Kalimantan, Bali dan pakaian adat Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah mengenakan baju adat Makassar.

Artikel Asli