Atasi Kecanduan Internet, Lewat Pelatihan Parenting Internet

Nasional | republika | Published at Kamis, 25 November 2021 - 11:10
Atasi Kecanduan Internet, Lewat Pelatihan Parenting Internet

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Perkembangan internet membawa dampak perubahan di segala aspek kehidupan, baik dalam pembelajaran, transaksi jual beli, hingga hiburan. Walaupun internet sangat bermanfaat bagi masyarakat, namun membawa dampak negatif terutama bagi anak dan remaja. Dengan meningkatnya pengguna game online dan media sosial, memberi dampak yang besar terjadinya gadget addiction atau kecanduan khususnya dikalangan anak dan remaja.

Memahami hal itu, dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) memberikan pelatihan parenting, atasi kecanduan internet dan gadget melalui pemanfaatan internet sehat. Kegiatan ini ditujukan untuk ibu rumah tangga dan santri Yayasan Nurul Islam Sabilurrosyad, Pondok Gede, Bekasi pada Sabtu (13/11) silam.

Aziz Sukma Dhiana, selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa di era disruptif ini, diperlukan edukasi dengan bimbingan agar lebih berhati-hati memilih konten. Orang tua berperan penting dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Sehingga dikatakan orang tua adalah penentu bagi masa depan anak. Sebagian orang tua sudah memahami dampak negatif gadget, akan tetapi, banyak yang belum mengetahui cara mencegah anak dari kecanduan gadget. Orang tua harus memiliki ilmu digital parenting, ujar Aziz dalam rilis yang diterima, Rabu (24/11).

Digital parenting merupakan strategi pengasuhan dari orang tua, terkait aturan penggunaan perangkat digital, baik online maupun offline untuk melindungi keselamatan anak dari ancaman penggunaannya. Fenomena kecanduan internet dan gadget memerlukan pemahaman yang baik kepada masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, agar lebih ketat dalam pengawasan penggunaan teknologi internet dan media sosial.

Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu upaya mengurangi kecanduan internet (media sosial) dan gadget. Selain itu, kegiatan ini menambah pengetahuan santri dan ibu rumah tangga menjadi agent of change dalam mencegah serta membatasi penggunaan internet atau media sosial dalam hal yang positif, tutupnya.

Artikel Asli