Kalau Nataru Aman-aman Saja Merdeka Dari Corona Bisa Diproklamirkan?

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 25 November 2021 - 08:10
Kalau Nataru Aman-aman Saja Merdeka Dari Corona Bisa Diproklamirkan?

Ujian kita untuk bisa bebas dari Corona tinggal selangkah lagi, yakni menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kalau Nataru kita bisa lewati dengan aman-aman saja, maka Merdeka dari Corona bisa diproklamirkan. Yang penting, rakyat tidak bandel dan patuh pada protokol kesehatan.

Dibanding banyak negara di dunia, Indonesia masih lebih baik dalam menekan angka penyebaran Corona. Sudah hampir dua bulan ini, rata-rata kasus harian berada di angka 350 kasus per hari.

Per hari kemarin misalnya, jumlah kasus baru mencapai 451 kasus. Di saat yang sama, jumlah yang sembuh pun terus meningkat. Dengan bertambahnya orang yang sembuh, kasus aktif Corona per hari kemarin, tinggal berjumlah 7.977 orang.

Menurut data Kementerian Kesehatan, memang ada peningkatan kasus di 19 kota dalam dua pekan terakhir. Namun kenaikan kasus masih relatif rendah. Tingkat keterisian rumah sakit dan penularan masih rendah.

Namun, virus Corona yang sudah mulai jinak ini, justru akan mendapat ujian lagi dengan datangnya libur Nataru. Mengigat selama ini, libur Nataru biasanya menyebabkan mobilitas masyarakat tinggi untuk bepergian antar wilayah.

Kekhawatiran adanya lonjakan kasus ini, membuat pemerintah menerapkan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di seluruh wilayah mulai 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022.

Aturan mengenai PPKM Level 3 ini teruang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 62 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19 pada Saat Natal Tahun 2021 dan Tahun Baru 2022, yang terbit kemarin. Melalui aturan itu, aturan pembatasan sosial diperketat. Termasuk saat menggelar ibadah Natal di gereja. Pemerintah meminta ibadah digelar secara sederhana dan dibatasi 50 persen.

Selain itu, pemerintah meminta masyarakat tidak mudik. PNS dan buruh dilarang cuti. Pemerintah juga akan memperketat perjalanan untuk mengantisipasi mudik. Selama sepekan itu pemerintah juga melarang acara pernikahan, dan kegiatan seni budaya.

Sayangnya, keputusan pemerintah untuk kembali memberlakukan PPKM Level 3 saat Nataru banyak mendapatkan protes. Alasannya, laju penyebaran Corona saat ini sudah menurun, sehingga tidak perlu lagi ada pembatasan.

Menyikapi banyak protes itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sampai geram. Ketua Satgas Covid-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban mengaku heran dengan sikap banyak orang yang menolak PPKM Level 3 saat libur Nataru. Kata dia, PPKM tetap diperlukan meski tren kasus Corona di Indonesia menurun. Ia lalu mencontohkan ledakan kasus di sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Saya tidak setuju jika peningkatan PPKM tidak diperlukan. Apalagi atas alasan herd immunity yang sudah terbentuk. Lihat Singapura, Amerika, dan Inggris. Mereka sudah capai herd immunity ? Secara teoritis sudah. Tapi nyatanya jumlah kasus baru mereka itu masih tinggi banget, tulis Zubairi, di akun Twitter miliknya, kemarin.

Karena itu, ia menilai PPKM sebagai langkah yang tepat untuk menghindari perburukan situasi Covid-19 seperti masa krisis Juli lalu. Jangan sampai kita masuk krisis lagi. Mari kita bersimpati kepada orang-orang yang sekarat karena Covid-19 bahkan meninggal ketika itu, atau saat ini, ucapnya.

Ketua terpilih PB IDI, Adib Khumaidi mengingatkan masyarakat agar jangan kendor menerapkan protokol kesehatan 3M. Dia optimis, kalau semua pihak patuh terhadap kebiajakan yang sudah dibuat pemerintah, maka perang lawan Corona akan segera berakhir.

Saya sampaikan, di Desember dan Januari ini jika tidak ada lonjakan kasus positif dan tidak ada lonjakan kasus pasien yang ada di perawatan. Mudah-mudahan kita bisa selesai dengan pandemi Covid-19, kata Adib dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid19 ID, kemarin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mempunyai keyakinan serupa. Eks wamen BUMN itu menyebut Indonesia bisa dikatakan berhasil mengendalikan Corona jika tak ada lonjakan kasus pada libur Nataru dan Lebaran Idul Fitri pada pertengahan 2022. Merujuk pada kasus tahun lalu, lonjakan kasus yang berujung pada kematian terjadi usai dua momen tersebut.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, PPKM Level 3 merupakan ikhtiar bersama untuk segera bebas dari Corona. Kondisi yang sudah baik ini harus terus dipertahankan agar pandemi segera berubah menjadi endemi.

Endemi adalah kondisi ikasus masih tetap ada di beberapa wilayah dengan jumlah kasus rendah dengan laju penularan yang stagnan. Perlu menjadi perhatian, transisi menuju endemi dapat sewaktu-waktu terhambat akibat lonjakan kasus yang kembali terjadi, kata Wiku, kemarin.

Kami berharap perkembangan kasus di Indonesia yang semakin baik ini tetap bertahan. Bahkan pasca periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) sering kali menimbulkan lonjakan kasus, katanya. [BCG]

Artikel Asli