Upaya Shofiyah Ceritakan Sejarah Pasar Loak Dupak Rukun lewat Buku

Nasional | jawapos | Published at Kamis, 25 November 2021 - 07:48
Upaya Shofiyah Ceritakan Sejarah Pasar Loak Dupak Rukun lewat Buku

Banyak warga Kota Pahlawan yang tak mengerti bahwa Pasar Loak Dupak Rukun pernah menjadi pusat jual beli rombeng terbesar di Asia Tenggara. Shofiyah ingin menunjukkan peran pasar tersebut bagi masyarakat kelas menengah-bawah melalui buku yang ditulisnya.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

HIDUP sebagai cucu perombeng tidak lantas membuat Shofiyah minder. Sebaliknya, hal itu merupakan sebuah kebanggaan. Salah satu ilmu yang diperolehnya adalah jadi pengepul harus pintar dan kreatif. Pandai memilih barang mana saja yang bernilai tinggi untuk dijual.

Tidak hanya pesan kakeknya yang diingat Shofiyah. Kenangan soal bau besi berkarat di rumahnya juga masih dikenang. Begitu pula deru suara mesin las yang membuatnya geregetan saat musim ujian.

Begitu ada tugas menulis skripsi, saya langsung tancap gas. Temanya harus tentang perombeng, kata Shofiyah mengawali ceritanya.

Bukan hanya satu pengepul barang bekas. Shofiyah memilih untuk meneliti Pasar Loak Dupak Rukun yang dikenal sebagai markas besar perombeng di Surabaya.

Banyak cerita yang bisa diambil dari pedagang barang bekas. Mulai bagaimana mereka mengumpulkan barang, mencari pembeli, hingga menjualnya. Trik pedagang dalam menangani makelar yang mampir juga layak diteliti. Cerita di buku ini belum tuntas. Kelak saya meneruskannya, kata Shofiyah sambil memamerkan buku barunya.

Saat ditemui Jawa Pos Senin (22/11), dia menjelaskan bahwa karyanya yang berjudul Pasar Loak Dupak Rukun 19671998 masih dicetak dan dijual secara terbatas.

Meski masih sedikit yang membaca, alumnus Unair itu mengaku bangga. Banyak yang memberi apresiasi. Yang memesan juga ada, kata Shofiyah.

Salah satu apresiasi diberikan pengajarnya, yakni Prof Dr Purnawan Basundoro. Di dalam kata pengantar, dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair itu memberi Shofiyah pujian atas upayanya menulis sejarah perdagangan barang bekas di Surabaya. Shofiyah menemukan bukti bahwa Pasar Loak Dupak Rukun merupakan salah satu penopang perekonomian masyarakat kelas menengah-bawah saat krisis 1998.

Shofiyah bercerita bahwa proses penerbitan buku bukanlah kesengajaan. Itu berawal saat dia dihubungi salah satu penerbit. Ada yang tertarik pada tulisan skripsi Shofiyah dan ingin menerbitkannya.

Keinginan itu tidak langsung diterima. Shofiyah masih pikir-pikir. Bukan saja takut diminta uang cetak. Namun, juga pertimbangan keamanan, katanya.

Menurut perempuan yang tinggal di Bulak Banteng tersebut, tidak hanya aktivitas pedagang yang ditelitinya. Namun, juga kesan negatif pasar. Ada isu yang beredar di masyarakat bahwa Pasar Loak Dupak Rukun jadi tempat penadah hasil curian.

Diperlukan perjuangan untuk membuktikan hal itu. Untuk membuktikan rasan-rasan masyarakat, Shofiyah tidak hanya mewawancarai pedagang. Namun, juga menanyai aparat kepolisian di bagian reskrim.

Peringatan itu sempat membuatnya ketir-ketir. Namun, dia tak punya pilihan. Dosennya menyuruh untuk meneliti isu tersebut guna melengkapi permasalahan sosial di pasar. Mau tak mau, Shofiyah harus mencari narasumber terkait persoalan itu.

Saya sempat ketemu ibu-ibu korban pencurian. Dia menemukan barang miliknya di pasar loak, kata Shofiyah.

Menurut perempuan berusia 29 tahun itu, Pasar Loak Dupak Rukun memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pusat perbelanjaan lainnya. Perbedaan tersebut bisa diamati dari banyak hal.

Pasar Loak Dupak Rukun dihuni ribuan pedagang. Sebagian besar merupakan warga Madura. Selain itu, ada masyarakat keturunan Jawa, Tionghoa, dan Bugis yang beraktivitas di pasar.

Artikel Asli