Enam Puluh Tahun Butet, Urip Mung Mampir Ngguyu

Nasional | radarjogja | Published at Kamis, 25 November 2021 - 07:40
Enam Puluh Tahun Butet, Urip Mung Mampir Ngguyu

RADAR JOGJA Lorong masuk tempat pamer Sangkring Art Space di jalan Nittiprayan 88 RT1 RW2, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul meriah. Berjajar karangan bunga dari tokoh nasional mengucap selamat ulang tahun pada Butet Kartaredjasa. Serta menyelipkan tulisan Urip Mung Mampir Ngguyu.

Butet berujar, masuk usia ke-60 itu penuh keajaiban dan kewaspadaan. Angka yang menurutnya wingit dalam budaya Tiongkok. Penanda stop atau sebaliknya, berekehidupan akan lebih panjang, tulisnya dalam katalog Pameran Lukisan 60 Tahun Butet Kartaredjasa.

Selanjutnya pria yang memiliki nama lengkap Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa ini menyelip harap, pameran yang digelar di Sangkring Art Space kali ini adalah penanda perayaan kehidupan baginya. Sebuah ikhtiar dari kawan-kawan seniman Suka Parisuka. Menafsir angka 60 melalui lukisan dua dimensi, juga fotografi yang ukurannya 6060 sentimeter.

Pertanyaannya, kenapa saya kemudian jadi sensi dengan angka 60? Itulah soalnya. Justru menjelang usia ke-60 ini saya dihadiahi ketidakberdayaan yang menyebabkan saya terpaksa istirahat dari dinamika berkesenian sebagaimana biasa saya lakukan, keluhnya.

Namun, Butet ingin menandai pameran ini sebagai stimulus kreativitas. Api semangat yang menyulut motivasi dan kegairahan perjuangannya menuju sehat. Sehingga kelak dari pameran ini, Kakak dari Djaduk Ferianto itu lebih waspada dan berhati-hati menjaga karunia bernama kehidupan. Juga dengan terbitnya buku Urip Mung Mampir Ngguyu yang diinisiasi Agus Noor, Puthut EA, dan Hairus Salim, sebutnya.

Ayah tiga orang anak ini juga sadar, dengan hampir setengah tahun tidak berdaya membuatnya benar-benar belajar banyak hal. Tentang ego kesenimanan, ego personal, pemahaman detail terhadap tubuh, latihan mengelola kesabaran, bahkan fantasi-fantasi spiritual yang menakjubkan. Demikianlah pemaknaan saya. Karenanya, hanya syukur dan terima kasih seluas-luas bagi kawan-kawan yang berpameran dan turut menulis di dalam buku menandai usia saya keenam puluh. Kalian adalah energiku. Semangatku. Puji Gusti, tuturnya.

Sementara Agus Noor menyebut pameran lukisan 60 tahun Butet Kertaredjasa sebagai hasrat dan siasat melawan isyarat. Sebab masa depan atau apa yang akan terjadi, adalah misteri. Misteri selalu membuat manusia cemas. Sekaligus memantik penasaran dan obsesi untuk memecahkan teka-teki. Masa depan ialah teka-teki yang ingin dipecahkan. Dan satu jalan untuk itu ialah mencoba membaca isyarat fenomena, ujarnya.

Tanda-tanda atau isyarat kerap muncul dan coba dipecahkan. Salah satu caranya adalah dengan menyimak apa yang terjadi di masa silam. Meski kerap kali, masa silam itu juga memunculkan kegelisahan. Membaca isyarat menerawang masa depan, mencoba melihat takdir, ialah upaya untuk mendapat kepastian, agar tahu pada apa yang mungkin terjadi. Sebab rahasia adalah musuh paling menjengkelkan, kata dia.

Tapi isyarat atau tanda yang muncul memang tak selalu gamblang. Munculnya hanya sebagai perlambang. Sebuah ambigu yang sesungguhnya tak pernah memberi kepastian dan karena itu mencemaskan. Isyarat adalah puisi yang mesti ditafsir. Dan Tafsir rentan karena tidak pernah memberi kepastian, tandasnya. (fat/pra)

Artikel Asli