Belajar Kearifan Dari Dua Tokoh: Al-Gazali Dan Ibn Rusyd (2)

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 25 November 2021 - 06:30
Belajar Kearifan Dari Dua Tokoh: Al-Gazali Dan Ibn Rusyd (2)

Ada kesulitan membedakan sebuah naskah, Al- Gazali mana yang menulis naskah Ihya Ulum al- Din, sebuah kitab yang begitu terkenal dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Ada peneliti mengungkapkan, juz keempat penulisnya berbeda dengan juz 1,2, dan 3. Al-Gazali mana yang menulis juz keempat tersebut masih dipertanyakan karena rasa dan gaya bahasanya sedikit berbeda dengan juz sebelumnya.

Karya monumentalnya, Ihya Ulum al-Din, ini sering dikritik oleh ilmuan atau pemikir muslim, namum pada saat bersamaan buku ini juga memberikan kehati-hatian para ilmuan filsafat agar tidak menafikan ilmu-ilmu tradisional Islam. Ia memasang badan untuk mempertahankan ilmu-ilmu tradisional Islam. Ia memperkenalkan model kecerdasan spiritual sebagai bagian keilmuan yang tak bisa disepelekan apalagi ditinggalkan.

Konsep mukasyafah dan konsep marifah Al-Gazali tidak umum dikenal dalam ilmu filsafat, terus dipertahankan. Menurut Al-Gazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (penyingkapan langsung) dapat diperoleh setelah jiwa dan pikiran terbebas dari berbagai hambatan. Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa, tentu saja termasuk dengan perbuatan dosa dan maksiyat.

Mukasyafah merupakan sasaran terakhir dari para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya di atas kepastian. Kepastian yang mutlak tentang sebuah kebenaran hanya mungkin dapat dicapai ketika roh tidak lagi terselubung oleh khayalan dan pikiran. (Lihat Muqaddimah Ihya Ulum al-Din).

Kecerdasan spiritual, menurut Al-Gazali, dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diturunkan Allah kepada Nabi- Nya untuk disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk-Nya. Sedangkan ilham hanya merupakan pengungkapan (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan langsung masuk ke dalam batin seseorang.(*)

Artikel Asli