Penggagas Lahirnya Brimob Ternyata Pria Berdarah Bugis, Ini Sosoknya

Nasional | bukamatanews | Published at Minggu, 14 November 2021 - 14:34
Penggagas Lahirnya Brimob Ternyata Pria Berdarah Bugis, Ini Sosoknya

JAKARTA, BUKAMATA - Hari ini, Minggu, 14 November 2021, bertepatan dengan hari lahirnya Korps Brigade Mobil (Brimob) Indonesia 76 tahun lalu.

Terbentuk pada tahun 1961, Korps Brimob tak bisa lepas dari sosok Moehammad Jasin. Sehingga, dia dikenal sebagai Bapak Brimob. Karena memiliki sumbangsih dari cikal bakal terbentuknya Brimob Polri. Dimulai dari bernama Mobiele Brigade (Mobbrig), korps ini pun berganti nama menjadi Brigade Mobil (Brimob).

Siapa sebenarnya Moehammad Jasin? Pria dengan pangkat terakhir Komisaris Jenderal Polisi ini, kelahiran Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara pada 9 Juni 1920. Dia anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Haji Mekah yang berasal dari Bone Sulsel, beserta dengan Siti Rugayah yang berasal dari Maros Sulsel.

Jasin kecil mengikuti pendidikan umum di Volkschool di Baubau Sulawesi Tenggara, Hollands Inlandsche School (HIS), lalu Schakel School di Makassar Sulsel dan terakhir di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), juga di Makassar Sulsel.

Tahun 1941, Jasin menamatkan pendidikannya di MULO dan dilanjutkan dengan mengikuti pendidikan kepolisian di Sekolah Polisi, Sukabumi, Jawa Barat.

Karier kepolisiannya dimulai saat pertama kali bertugas di Kantor Polisi Seksi 111 di Bubutan, Surabaya. Pangkatnya, Hoofd Agent. Kemudian, kembali ke Sukabumi untuk mengikuti pendidikan polisi ala Jepang, yang bercirikan pendidikan militer pada masa awal kedudukan Jepang di Indonesia.
Selanjutnya dia ditempatkan di Gresik dan bertugas sebagai instruktur dalam mendidik calon-calon anggota Tokubetsu Keisatsu Tai (Kesatuan Polisi Istimewa) di Sekolah Polisi Surabaya. Jasin memberikan pelatihan terkait ilmu kepolisian dan kemiliteran ke anggota Seinendan, organisasi barisan pemuda yang terbentuk tanggal 09 Maret 1943 oleh tentara Jepang di Indonesia. Jasin juga ikut ambil bagian mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dia juga memproklamasikan Polisi Istimewa menjadi Polisi Republik Indonesia pada 21 Agustus 1945. Proklamasi itu diucapkan di Surabaya oleh Jasin, yang berpangkat Inspektur Polisi Kelas I (Iptu). Dengan adanya proklamasi itu, Jasin mempertegas status polisi yang lepas dari keterikatan Polisi Istimewa di bawah Jepang, dari polisi kolonial menjadi polisi negara merdeka. Langkah ini juga menjadi langkah antisipasi terhadap kemungkinan Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa, seperti yang dilakukan kepada tentara Pembela Tanah Air (Peta) dan Heiho.

Selain tindakan monumental dalam memproklamasikan Polisi Republik Indonesia, Jasin juga berperan dalam perebutan senjata di Don Bosco dan Markas Kempeitai.

Beberapa hari setelah pertempuran Surabaya pecah, Jasin melalui radio mengumumkan pasukan Polisi Istimewa sudah dimiliterisasi. Karenanya, diharuskan untuk ikut pertempuran dengan Jasin sebagai pemimpin pasukan.
Dia pun ikut dalam pertempuran di beberapa tempat dan meninggalkan Surabaya sehingga memindahkan markas polisi ke Sidoarjo pada akhir November 1945, setelah hampir semua kota dikuasai Inggris. Pada saat Belanda meluncurkan Agresi Militer 2, Jasin juga bergerilya di Gunung Willis dan sebagai Komandan Militer Sektor Timur Madiun. Dalam hal ini, polisi tidak hanya sebagai alat keamanan, tetapi sekaligus juga sebagai alat pertahanan.

Kemudian, barulah pada 14 November 1961 pada saat Konferensi Djawatan Kepolisian Negara di Purwokerto, Jasin dilantik sebagai Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, sekaligus koordinator Mobrig di semua keresidenan Jawa Timur, yang sekarang dikenal dengan nama Brigade Mobil (Brimob), pasukan khusus yang dapat berfungsi sebagai pasukan tempur.

Tujuan dibentuknya Mobrig ini oleh Perdana Menteri, Sutan Syahrir, sebagai perangkat politik untuk menghadapi tekanan politik tentara dan pelindung terhadap kudeta, yang melibatkan satuan militer. Pada September 1948, dengan jabatan barunya Komandan MBB Jawa timur, Jasin memimpin empat kompi Mobrig bersama TNI, untuk menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun dan operasi pembersihan PKI di Blitar Selatan.

Tidak berhenti di situ, tahun 1950-an, Jasin terlibat dalam menumpas pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Jasin juga mengusulkan pemindahan Mobrig untuk ditempatkan di Riau, agar rencana Amerika mengirimkan pasukannya dengan alasan menjaga instalasi minyak milik perusahaan Amerika dan keamanan warganya, bisa digantikan perannya oleh pasukan Mobrig. Akhirnya pun disetujui setelah berunding.

Pada akhir tahun 1959, Jasin diasingkan ke Jerman setelah usahanya menentang pengangkatan Sukarno Joyonegoro sebagai Menteri atau Panglima Angkatan Kepolisian, dengan alasan Sukarno ini "disukai" oleh PKI. Protesnya berbentuk penolakan sebagai Wakil Menteri Angkatan Kepolisian mendampingi Sukarno.

Desember 1964, Presiden Soekarno menemuinya di Paris dan mengatakan akan mengangkat Jasin sebagai Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian. Januari 1965, Jasin kembali ke Indonesia. Sebelum dilantik, dia sempat menjabat sebagai Sekretaris Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Namun harus dibatalkan atas desakan dari Wakil Perdana Menteri (Waperdam), dr. Subandrio. Selain berkiprah di dunia kepolisian, Jasin juga pernah diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), yang menjadi MPR.

Jasin juga pernah tercatat sebagai anggota Pimpinan Markas Besar Legiun Veteran RI dan ketua Yayasan 10 November, serta organisasi lainnya, di luar kelembagaan kenegaraan. Tahun 1967-1970, Jasin bertugas sebagai Duta Besar Luarbiasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Negara Tanania.

Jasin meninggal pada 3 Mei 2012 pukul 15:30 WIB di RS Polri Kramat Jati, Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Berdasarkan Keppres Nomor 116/TK/2015 yang ditandatangani Presiden Jokowi pada tanggal 4 November 2015, Moehammad Jasin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyebut Jasin sebagai sosok yang inspiratif.

Penulis: Maulana

Artikel Asli