Berbincang dengan Henda Apriyan, Pembuat Scarf Desain Kearifan Lokal NTB

Nasional | lombokpost | Published at Minggu, 14 November 2021 - 23:48
Berbincang dengan Henda Apriyan, Pembuat Scarf Desain Kearifan Lokal NTB

Memiliki usaha dengan brand sendiri menjadi kebanggaan bagi Henda Apriyan. Maklum, dia memulai usahanya dari nol. Yakni menjadi reseller.

ALI ROJAI, Mataram

SEKARDIU. Nama sebuah brand usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Kota Mataram dalam bidang fashion. Usaha scarf ini dirintis Henda Apriyan sejak tahun lalu. Awalnya, scarf desain kearifan lokal hanya dalam bentuk jilbab.

Scarf ini bukan hanya syal. Tapi bisa jadi surban, selendang, dan jilbab, ujar Henda, sapaan karibnya.

Memiliki usaha bidang fashion, khususnya scarf tidak pernah dibayangkan perempuan 37 tahun ini. Awalnya, dia hanya sebagai reseller produk fashion. Namun lama-kelamaan jiwa wirausahanya tumbuh. Seiring waktu dia mulai membuka usaha scarf dengan tampilan berbeda.

Awalnya sudah banyak produk fashion yang saya tawarkan, tapi itu bukan brand saya, cetusnya.

Sebelum membuka usaha scarf, Henda banyak membaca sejarah, khususnya tentang sejarah Lombok. Dari sana dia menemukan nama Sekardiu, sosok mahluk yang bisa berubah wujud dan cukup sakti pada zaman kerajaan.

Sebelum mengembangkan kearifan lokal dalam bidang fashion saya banyak membuka buku sejarah, ujar perempuan berjilbab ini.

Usaha scarf bisa dibilang pangsa pasarnya kalangan menengah ke atas. Dibanderol Rp 250 ribu dengan kemasan menggunakan daun lontar. Kalau dulu kemasannya kita pakai bambu, singkat Henda.

Desain scarf yang ia tawarkan di marketplace memang terlihat berbeda. Dia menampilkan kearifan lokal seperti lambang subnale, bulan bekerudung, nanas, dan berbagai motif yang ada di kain tenun. Desain-desain kearifan lokal dipadukan dengan warna-warna cerah. Tidak ada motif bunga di scarf saya, terang dia.

Menurutnya, warna-warna cerah pada scarf yang didesainnya memiliki makna tersendiri. Dengan warna cerah akan kelihatan kuat bagi pemakainya. Bahkan ketika orang menggunakan scarf dalam bentuk jilbab, menggambarkan orang yang memakainya memiliki semangat dan motivasi tinggi. Sebagai perempuan kita harus kuat, tegas anak tunggal ini.

Bagi Henda, produk scarf tidak mesti terjual habis saat produksi. Namun lebih memperkenalkan dan mamfamiliarkan produk-produknya. Untuk produk scarf Sekardiu sudah merambah pasar online seperti di Shopee dan Bukalapak. Jadi, kata dia, pangsa pasar bukan hanya lokal, namun sudah nasional.

Kadang ada juga pesanan datang dari Pulau Jawa, terang perempuan yang tinggal di Rembiga, Kota Mataram ini.

Jika di pasar lokal kata Henda, produk scarf Sekardiu yang dijualnya dianggap cukup mahal. Tapi kualitas dan bahan digunakan bisa diadu. Belum lagi pembuatan motif pada scarf bukan hal yang mudah. Dia memiliki desain grafis sendiri pada pembuatan scarf.

Kalau beli di pasar tradisional mungkin murah. Tapi sama tidak kualitas dan desainnya, ucap Henda.

Produk scarf Sekardiu tetap ada stok. Sehingga ketika ada orang yang order, ia tinggal mengirim barangnya. Kita pasarkan di online semua, singkatnya.

Henda merasa cukup bangga menjadi bagian dari UMKM Kota Mataram. Apalagi dalam waktu yang tidak lama produk Scarf Sekardiu masuk dalam pameran Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) 2021. Saya terus mengikuti pelatihan guna meningkatkan kapasitas usaha scarf, tukasnya. (*/r3)

Artikel Asli