Pembubaran Partai Banteng Jadi Agenda Terselubung di Reuni 212, Novel Salah Minum Obat?

Nasional | wartaekonomi | Published at Minggu, 14 November 2021 - 23:23
Pembubaran Partai Banteng Jadi Agenda Terselubung di Reuni 212, Novel Salah Minum Obat?

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno berkomentar pedas ketika disinggung soal agenda tentang pembubaran parpolnya yang akan disuarakan dalam Reuni Akbar Aksi 212.

Legislator PDIP di Komisi XI DPR itu menyebut pihak yang akan mengusung narasi membubarkan PDIP pada saat Reuni Akbar 212 dalam keadaan sakit.

"Salah minum obat, sehingga jalan pikiran dan peredaran darah jadi kacau," kata dia melalui layanan pesan, Minggu (14/11).

Guru besar ilmu ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah itu pun mempertanyakan urgensi reuni akbar Aksi 212 pada masa pandemi Covid-19.

Dia meragukan reuni itu hanya jadi forum kumpul-kumpul tanpa agenda politik menuju Pemilu 2024. Jadi, hanya reuni? Bukan deklarasi parpol? Dahulu saya dengar ada rencana mendirikan parpol, agar romantisme sporadis diubah jadi dinamisme organisatoris," ujar politikus asal Cilacap, Jawa Tengah itu.

Sebelumnya, Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin menanggapi pernyataan politikus PDIP Kapitra Ampera ihwal reuni Aksi 212 tak perlu digelar.

Kapitra beralasan pandemi Covid-19 belum berakhir sehingga kerumunan banyak orang, termasuk reuni Aksi 212, berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. Namun, Novel menyatakan reuni itu bukan sekadar mengenang kemenangan, apalagi bernostalgia.

"Reuni akbar 212 adalah aksi menyelamatkan bangsa dari masalah besar yang mengancam nasib negara ini," katanya, Sabtu (13/11).

Novel lantas menyebut sejumlah persoalan yang membelit Indonesia saat ini. Misalnya, masalah hukum yang tidak berkeadilan. "Sudah menyimpang dari (sila) Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab," kata Novel.

Selain itu, Novel juga menyinggung soal Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Dia menyebut PDIP berupaya meloloskan RUU itu demi mengganti Pancasila. "Itu masalah besar dan PDIP harus dibubarkan," kata Novel.

Artikel Asli