Separation Anxiety Juga Bisa Dirasakan Orang Dewasa

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 22:01
Separation Anxiety Juga Bisa Dirasakan Orang Dewasa

Tiap kali ayah atau bunda berangkat kerja, si kecil selalu menangis. Atau, ditinggal bunda ke toilet sebentar saja, eh si adik merengek pengin ikut. Nah, jangan-jangan, anak mengalami separation anxiety.

APA itu separation anxiety? Separation anxiety adalah sebuah perasaan takut atau cemas saat ditinggalkan seseorang. Menurut Agustina Twinky Indrawati, separation anxiety tidak hanya diidap anak-anak. Orang dewasa pun bisa.

Lantas, apa kondisi itu normal dialami anak-anak? Twinky mengatakan, hal tersebut normal. Anak sudah merasa nyaman dengan seseorang, kemudian takut ditinggal dan tidak bertemu lagi. Bisa saja, separation anxiety anak tidak hanya dengan orang tua. Kepada mbak asisten rumah tangga bisa juga. Karena mungkin sudah saking dekatnya. Sama nenek atau kakek juga, jelasnya.

Anak dapat merasakan emosinya sejak bayi. Siapa yang ada di dekatnya, siapa yang menggendong, hingga siapa yang menyapanya. Dalam anxiety ini, orang tua butuh waktu untuk membuat anak lebih berani.

Ada trik dari Twinky buat para orang tua yang patut dicoba, yakni mengajak anak bermain petak umpet. Terdengar sederhana, tapi berdampak sekali bagi anak. Petak umpet mengajari anak untuk tidak masalah lho orang tua pergi sebentar. Bilang ke anak, tuh kan mama atau ayah ada di samping adik lagi. Ketemu sama mama atau ayah lagi kan? Jadi nggak perlu takut, ucapnya.

Selain itu, lanjut Twinky, parents bisa melatih anak dengan membuat komitmen. Misalnya, mama ingin pergi sebentar ke pasar. Yakinkan anak bahwa mama betul-betul sebentar. Konsekuensinya, mama harus sebentar saja. Tidak boleh lama. Supaya apa? Supaya anak percaya.

Anxiety ini dapat membaik dengan sendirinya ketika usia anak bertambah. Namun, tetap bunda atau ayah perlu bersabar dan proses. Parents bisa juga memperkenalkan anak pada anggota keluarga atau orang lain. Perlahan dan sabar itu menjadi kunci.

Ada satu hal yang perlu dipahami mom and dad juga. Saat anak rewel, belum tentu mengalami separation anxiety. Pastikan kondisi anak dalam keadaan baik. Hindari memukul atau berkata bohong ketika anak rewel ya, parents.

Kasih Pengertian ke Anak

INKA Ayu Saskia punya cara khusus untuk menghadapi anak pertamanya, Reynan. Yang menangis karena ditinggal pergi oleh ayahnya. Ibu dengan tiga anak itu akan menenangkan Reynan dengan camilan susu, cokelat, atau permen sambil memberikan pengertian. Ayah kerja cari uang. Buat beli susu dan mainan untuk Kakak, katanya.

Karena sudah terbiasa diberi pengertian, lanjut Inka, Reynan tak akan lama menangisnya. Reynan memang sering menangis saat melihat ayahnya berangkat kerja. Apabila kondisi tidak terkontrol, dia menyampaikan ke anak-anak, ayah mau beli obat.

Inka berusaha menghindari berkata bohong ketika Reynan menangis. Selain itu, perempuan kelahiran Bengkulu tersebut enggan bermain fisik atau memukul anak.

Berbeda dengan Tyssa Adni. Ibu dua anak itu menyatakan, anak keduanya mulai membaik dari separation saat usianya empat tahun. Saat suaminya berangkat ke kantor, Tyssa akan berbicara apa adanya. Aku nggak bohong. Adek, ayah berangkat, ayo salim dulu. Nangis? Nggak apa-apa, ujarnya.

Di awal, Ratu, anak kedua Tyssa, jelas menangis. Dibutuhkan waktu beberapa bulan supaya Ratu beradaptasi. Aku akan membiarkan Ratu nangis dulu. Setelah itu, aku ngasih pengertian. Sudah nangisnya? Ayah itu kerja, nggak ke mana-mana, sore pulang, jelasnya.

YUK BERHENTI MENGATAKAN INI

Ada beberapa kalimat yang bisa membuat anak mengalami cemas ditinggalkan (separation anxiety). Apa saja?

Kalau nakal, mama atau papa tinggal Adik sendirian di sini.

Stop nangis, kalau nggak, Adik dibawa sama orang itu. Mau?

Terus saja teriak, mama atau papa kunci Adik di kamar mandi.

Mau mandi atau dibawa sama setan?

Artikel Asli