Dibatasi Rasio Utang, Saham Syariah Lebih Tahan Hadapi Krisis

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 21:53
Dibatasi Rasio Utang, Saham Syariah Lebih Tahan Hadapi Krisis

Kinerja saham-saham syariah moncer di tengah pandemi Covid-19. Sejumlah faktor membuat instrumen investasi itu lebih tahan terhadap krisis.

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah kepemilikan efek saham syariah tumbuh 45,95 persen year-to-date (YtD) menjadi 1.060.704 investor. Dengan nilai kapitalisasinya mencapai Rp 3.683 triliun per 29 Oktober. Selain itu, terdapat 40 emiten baru yang melakukan initial public offering (IPO) saham maupun penawaran efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) sepanjang 2021. Saham 30 emiten di antaranya memenuhi kriteria daftar efek syariah.

Analis pasar modal syariah Asep Muhammad Saepul Islam menjelaskan, perekonomian yang berangsur pulih membuat pertumbuhan laba emiten farmasi, kesehatan, dan teknologi meningkat. Termasuk, isu digitalisasi yang menjadi katalis kenaikan fantastis saham-saham teknologi. Ditambah, harga komoditas dunia meningkat berimbas pada lonjakan profitabilitas saham-saham produsen batu bara, sawit, dan gas.

Di sisi lain, preferensi memilih instrumen investasi syariah menjadi kebutuhan dan lifestyle bagi sebagian masyarakat Indonesia. Bukan hanya potensi keuntungan, kenyamanan instrumen yang sudah dinyatakan halal oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan OJK menjadi nilai lebih. Terlihat dari bertambahnya investor saham syariah yang khusus menggunakan sistem online trading syariah (SOTS) mencapai 100.266 investor per Juli 2021.

Belum lagi dirilisnya indeks syariah terbaru di tahun ini dengan nama IDX MES BUMN 17 yang cukup menyita banyak perhatian masyarakat penggiat ekonomi syariah, katanya kepada Jawa Pos, Jumat (12/11).

Dia menilai, pasar saham syariah lebih menjanjikan ketimbang nonsyariah lantaran membatasi rasio utang perusahaan atau debt to equity ratio (DER). Sehingga, fundamental perseroan syariah lebih baik. Masyarakat pun merasa lebih aman dan yakin untuk berinvestasi.

Sistem akan menolak transaksi yang tidak diperbolehkan secara hukum fikih yang disepakati oleh MUI. Semisal, transaksi menggunakan utang pinjaman dari sekuritas yang berbasis bunga, jelas founder Syariah Saham tersebut.

Pria yang akrab disapa Mang Amsi itu menyebutkan, indeks saham syariah lebih tahan ketika pasar modal Indonesia mengalami guncangan krisis. Seperti yang terjadi pada 2008 dan 2020 akibat persebaran SARS-CoV-2 hingga saat ini.

Indeks mover seperti saham-saham perbankan dan rokok mengalami penurunan signifikan saat krisis. Sedangkan penggerak indeks syariah yang didominasi emiten consumer goods dan telekomunikasi malah bertahan. Bahkan, masih membukukan pertumbuhan. Alhasil, selama pandemi, Jakarta Islamic Index 70 (JII70) yang dihuni saham-saham syariah likuid menjadi indeks yang mengungguli indeks lainnya seperti LQ45 dan IHSG (indeks harga saham gabungan), jelasnya.

Artinya, saham-saham syariah masih menjanjikan. Saham di industri perkebunan sawit, batu bara, baja, dan properti boleh dicermati sebagai daftar pantau untuk tahun ini. Seiring pemulihan ekonomi, pembangunan mulai kembali dilanjutkan. Sentimen tersebut berimbas pada permintaan produk dari sektor industri dasar seperti semen, beton, dan baja.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee merekomendasi para calon investor untuk membeli saham syariah mulai tahun ini. Sejalan dengan industri syariah Indonesia akan terus berkembang.

Menurut dia, sentimen global tersebut masih akan membuat pasar saham Indonesia relatif tertekan. Karena itu, saat ini merupakan momentum bagi investor untuk melakukan pembelian di pasar saham. Belilah perusahaan yang mereka pahami. Memahami kinerja, bisnisnya, dan sesuai prinsip Islam, ujar Hans.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu mengatakan, pasar masih akan bergerak ke saham yang lebih rigid, memiliki fundamental bagus, dan valuasi menarik. Saham sektor komoditas saat ini tengah mendapatkan angin segar. Seiring kenaikan harga komoditas dan krisis energi yang terjadi di sejumlah negara maju. Khususnya batu bara dan minyak kelapa sawit. Harga komoditas masih tinggi dalam enam bulan sampai setahun ke depan. Kalaupun turun, mungkin tidak banyak, tuturnya.

INDEKS-INDEKS SAHAM SYARIAH

Indeks Syariah Saham Indonesia (ISSI) yang diluncurkan pada 12 Mei 2011 adalah indeks komposit saham syariah yang tercatat di BEI.

Jakarta Islamic Index (JII) adalah indeks yang kali pertama diluncurkan di pasar modal Indonesia .Yakni, pada 3 Juli 2000. Konstituen JII hanya terdiri atas 30 saham syariah.

Jakarta Islamic Index 70 (JII70 Index) adalah indeks yang diluncurkan BEI pada 17 Mei 2018. Konstituen JII70 hanya terdiri atas 70 emiten.

IDX-MES BUMN 17 mengukur kinerja harga dari 17 saham syariah yang merupakan BUMN dan afiliasinya. Yang merupakan kerja sama BEI dengan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah).

Sumber: BEI

Artikel Asli