Survei ISC Terbaru Sebut Elektabilitas Prabowo Masih Tak Tersaingi

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 21:38
Survei ISC Terbaru Sebut Elektabilitas Prabowo Masih Tak Tersaingi

JawaPos.com Peneliti senior dari Indonesia Survey Center (ISC), Chairul Ansari mengatakan, figur Prabowo Subianto ternyata masih memiliki posisi terbaik di mata publik berdasarkan hasil survei yang dilakukan lembaganya. Dari sisi popularitas, kesukaan, dan elektabilitas, sosok Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju tersebut masih yang tertinggi.

Prabowo menempati posisi pertama dalam tingkat popularitas dengan dikenal publik sebesar 90,3 persen, kata Chairul Ansari dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Minggu (14/11).

Sementara itu, lanjut Chairul, dari sisi kesukaan pun masih cukup tinggi, bahkan lebih dari 80 persen. Angka ini menurut Ansari masih cukup aman untuk memotret bagaimana respon publik terhadap sosok mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat tersebut.

Dalam tingkat likeabilitas, Prabowo berada pada puncak urutan dengan tingkat kesukaan sebesar 80,2 persen, ujarnya.

Jika Prabowo mendapatkan popularitas dan kesukaan sangat tinggi, lantas di bawah Prabowo siapa saja. Ansari menyebut ada beberapa tokoh yang juga populer dewasa ini. Mulai dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto huingga Ketua DPR RI Puan Maharani.

Menurutnya, bagi calon-calon lain dalam variabel popularitas dan likeabilitas juga memiliki persentase yang tinggi. Berbeda dengan popularitas, Anies ternyata lebih disukai 80,1 persen daripada Sandiaga sebesar 78,8 persen dan Ganjar 75,3 persen. Demikian juga dengan Airlangga Hartarto 74,1 persen ternyata lebih disukai daripada Ridwan Kamil 71,9 persen, AHY 70,8 persen dan Puan Maharani 70,5 persen.

Ansari juga menyebut, bahwa hasil potret dari survei yang dilakukan, tingkat elektabilitas Prabowo Subianto juga masih menempati tingkat lebih tinggi.

Dari variabel elektabilitas dengan pertanyaan terbuka untuk mengukur ingatan publik (top of mind) menempatkan Prabowo di posisi puncak dengan perolehan dukungan sebesar 20,3 persen, paparnya.

Kemudian untuk urutan selanjutnya, Ansari menyebut bahwa Prabowo Subianto disusul oleh Ganjar di tempat kedua dengan 12,3 persen dan Anies Baswedan di tempat ketiga dengan persentase 12,1 persen.

Sementara itu, kandidat-kandidat lainnya masih berada di bawah 10 persen dan responden yang belum menentukan pilihan ada 21,9 persen. Karena Pemilu 2024 masih lama sebanyak 21,9 persen masih belum menentukan pilihannya.

Sementara pada pertanyaan tertutup yang menampilkan dengan membacakan 17 nama calon-calon Presiden, Prabowo ternyata masih menjadi pilihan utama dengan memeroleh dukungan sebesar 22,7 persen. Urutan posisi berikut berturut-turut ditempati oleh Ganjar Pranowo dengan 12,6 persen, Anies Baswedan 12,2 persen, Sandiaga Uno 5,7 persen, AHY 4,5 persen, dan Ridwan Kamil 4,3 persen.

Selanjutnya ditempati oleh Puan Maharani yang memeroleh 3,6 persen keterpilihan, Airlangga Hartarto 2,9 persen, Tri Rismaharini 2,7 persen, Khofifah Indar Parawansa 2,1 persen, Mahfud MD 1,1 persen, Erick Thohir 0,7 persen, Gatot Nurmantyo 0,4 persen, Tito Karnavian 0,4 persen, Basuki Thajaja Purnama 0,3 persen, Moeldoko, 0,2 persen, Muhaimin Iskandar 0,2 persen dan ada 23,4 persen publik masih belum dapat menentukan pilihannya.

Survei ini dilakukan untuk memotret siapa sih sosok bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk agenda politik elektoral Pilpres 2024 mendatang.

Kajian ilmiah yang dilakukan oleh Indonesia Survey Center ini mulai 7-21 Oktober 2021. Metodologi survei menggunakan teknik pencuplikan sampel multistage random sampling varian area random sampling. Sampel yang dicuplik adalah penduduk yang berusia minimal 17 tahun ke atas dan atau yang sudah pernah menikah sebesar 1.520 responden.

Sementara itu, untuk Margin of Error 2,5 persen dan Confidence Interval 95 persen. Pengumpulan data tersebut dilakukan melalui wawancara langsung dengan bantuan kuesioner.

Tentunya proses di lapangan ini dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat. Hasil survei yang didapat adalah hasil pada saat survei dilakukan, pungkasnya.

Artikel Asli