Kesiapan Rumah Pompa dan Antisipasi Banjir di Madura

Nasional | republika | Published at Minggu, 14 November 2021 - 19:31
Kesiapan Rumah Pompa dan Antisipasi Banjir di Madura

REPUBLIKA.CO.ID, SAMPANG -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau Rumah Pompa aliran Sungai Kemuning, Sampang, Madura, sebagai upaya mencegah terjadinya banjir. Pada Desember 2020, beberapa daeeah di Sampang sempat direndam banjir selama dua pekan akibat rusaknya beberapa rumah pompa yang mengatur aliran Sungai Kemuning.

Saat ini, kata Khofifah, kondisi lima stasiun Pompa di Sungai Kemuning, empat di antaranya telah dilakukan pemeliharaan rutin. Satu unit pompa sedang dilakukan pemeliharaan berat. Akan tetapi, fungsi stasiun pompa tersebut masih dapat beroperasi karena untuk sementara disiapkan genset dan pompa mobile .

Sedangkan pekerjaan yang ditanggung APBN, tengah dikerjakan perkuatan tebing dengan beton pancang sepanjang 2.350 meter, serta rehabilitasi dan pemasangan pintu air sebanyak delapan buah.

"Peninjauan ini sebagai salah satu langkah mitigasi guna mengantisipasi banjir luapan Kali Kemuning yang hampir setiap tahun melanda Kabupaten Sampang," kata Khofifah, Ahad (14/11).

Khofifah mengaku telah memerintahkan Kepala Dinas PU Sumber Daya Air Prov. Jatim beserta jajarannya untuk melakukan pemeriksaan di semua sektor dalam upaya mengantisipasi bencana, memasuki musim penghujan.

Khofifah tidak ingin peristiwa banjir Sampang terulang, yang disebabkan sejumlah persoalan. Di antaranya pintu air yang tidak terbuka karena fiber optiknya hilang, hingga genset dan aki yang tidak berfungsi.

"Saya minta untuk memastikan agar rumah pompa bisa berjalan dengan baik. Walau masih ada genset yang harus dilengkapi di sini, mudah-mudahan bisa membantu proses percepatan sirkulasi air," ujarnya.

Keberadaan Rumah Pompa, kata Khofifah, menjadi sangat vital. Tak hanya sebagai pusat pengatur sirkulasi air untuk mencegah banjir, namun juga sirkulasi air pertanian. Apalagi, lanjut Khofifah, BMKG memprediksi fenomena La Nina akan melanda pada penghujung tahun. Khofifah meminta kewaspadaan dari semua pihak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

" Warning semacam itu harus tetap menjadi catatan tersendiri untuk tetap waspada. Utamanya untuk check and recheck proses-proses yang bisa membantu sirkulasi air," ujarnya.

Restorasi Sungai

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur terus mengupayakan mitigasi dan restorasi aliran sungai di kabupaten setempat untuk menekan risiko bencana banjir saat musim hujan seperti sekarang ini.

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati didampingi Sekdakab Teguh Gunarko dan Plt. Kepala BPBD mengawasi pembersihan tanaman eceng gondok di sepanjang Sungai Balongkrai dan Sungai Watudakon, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Ahad.

"Gulma eceng gondok, berpotensi menjadi penghambat aliran sungai," katanya.

Ia mengatakan, struktur tanaman yang merambat dengan akar menancap kuat, harus dibabat dengan alat berat. Kondisi ini belum lagi ditambah ancaman sampah yang terbawa, saat sungai meluap akibat intensitas hujan tinggi. Untuk itu, diperlukan pengawasan secara intensif untuk menekan risiko kebencanaan.

"Setiap titik sungai yang alirannya terhambat, segera kami bersihkan," ujarnya.

Ia mengatakan, tidak hanya eceng gondok, semua sampah-sampah yang jadi penyebab aliran sungai tidak lancar, langsung dibersihkan. "Saya juga sudah minta agar ini terus diawasi. Karena meski sungai sudah bersih, tidak menutup kemungkinan bisa datang lagi problem yang sama (sampah dan eceng gondok). Apalagi intensitas curah hujan cukup tinggi dampak dari La Nina," kata dia.

Dia juga memastikan seluruh tim akan terus melakukan mitigasi hingga tindak lanjut. Semua pemetaan bahkan sudah dilakukan sejak Oktober lalu. "Sejak Oktober, kami sudah mulai bersihkan titik-titik sungai yang langganan luapan. Tim juga sudah apel siaga bencana, serta menyiapkan semua alat-alatnya," ujar dia.

Artikel Asli