Banjir Kalimantan, BNPB : Mutlak Restorasi Lingkungan

Nasional | republika | Published at Minggu, 14 November 2021 - 18:46
Banjir Kalimantan, BNPB : Mutlak Restorasi Lingkungan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banjir masih melanda Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, hingga malam ini, Ahad (14/11). Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan pantauan BPBD setempat debit air bertahan meski telah turun 10 sampai dengan 30 cm pada Ahad (14/11).

Muhari menyampaikan, berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Sintang banjir masih merendam 12 kecamatan. Banjir yang disebabkan meluapnya debit air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Diketahui, wilayah Kabupaten Sintang berada di pertemuan dua sungai besar itu, atau biasanya disebut sakatiga'.

Situasi banjir yang merendam beberapa kecamatan ini masih menyebabkan sebagian warga mengungsi ke pos pengungsian. Muhari menerangkan sebagian besar desa yang terdampak berada di bantaran sungai Kapuas dan Sungai Melawi.

"Salah satu penyebabnya karena berkurangnya tempat penyerapan air saat debit hujan tinggi, karena sebagian lahan sudah berubah menjadi tambang dan perkebunan sawit," kata Muhari kepada Republika, Ahad (14/11).

Oleh karenanya, lanjut Muhari, restorasi ekosistem dan restorasi lingkungan mutlak dilakukan oleh pemerintah dalam program jangka panjang , agar banjir dalam jangka waktu yang panjang tidak kembali terjadi. Untuk saat ini, BPBD telah mengoperasikan lima pos lapangan untuk melayani kebutuhan dasar warga, seperti asupan makanan dan pelayanan kesehatan.

Kelima pos lapangan berada di kawasan Tugu Bambu, Pos Lantas, Media Center, Ujung Jembatan Kapuas dan Kantor Camat Sintang, sedangkan pos komando berada di Kantor BPBD Kabupaten Sintang.

Sebanyak 10.381 KK atau 33.221 jiwa masih mengungsi. Mereka berasal dari 9 kecamatan yang terdampak banjir sejak 21 Oktober 2021 lalu. Warga yang mengungsi tersebar di 32 pos pengungsian yang dioperasikan BPBD setempat.

Pos pengungsian tersebut didukung 24 dapur umum yang dioperasikan tim gabungan di bawah komando BPBD Kabupaten Sintang. Laporan BPBD menyebutkan sejumlah pos pengungsian maupun dapur umum ini tersebar di 12 kecamatan, khususnya titik-titik yang aman dari genangan air.

Sementara itu, jumlah populasi terdampak, BPBD Kabupaten Sintang mencatat sebanyak 29.623 KK atau 88.148 jiwa. Masyarakat terdampak ini tersebar di 12 kecamatan, antara lain Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Sei Tebelian dan Kelam Permai.

Pantauan BPBD setempat menyebutkan wilayah yang terdampak paling tinggi berada di Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Sintang. Banjir yang melanda banyak kecamatan ini telah menelan korban jiwa dua orang dan kerugian material seperti jembatan rusak berat sebanyak 5 unit dan rusak sedang 1 unit.

Menyikapi kondisi sejak awal terjadinya banjir, pemerintah daerah yang dipimpin oleh BPBD Kabupaten Sintang telah melakukan upaya penanganan darurat bencana. Pemerintah daerah pun telah melakukan perpanjangan status tanggap darurat untuk bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor hingga 16 November 2021. Di sisi lain, BNPB terus melakukan manajemen darurat pos komando di kabupaten ini.

Artikel Asli