Sony Dwi Kuncoro Fokus Didik Pemain Tunggal, Tolak Murid Sektor Ganda

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 18:19
Sony Dwi Kuncoro Fokus Didik Pemain Tunggal, Tolak Murid Sektor Ganda

JawaPos.com- Pada usia 37 tahun, Sony Dwi Kuncoro sejatinya belum ingin menggantung raket. Pada 2020 peraih perunggu Olimpiade Athena 2004 itu masih berencana tampil di beberapa turnamen.

Tapi, pandemi Covid-19 membuat segalanya berubah. Kini Sony kembali ke tanah kelahirannya di Surabaya dan menjadi pelatih. Berikut obrolan ringan wartawan Jawa Pos Bagus Putra Pamungkas dengan Sony soal aktivitasnya.

Mas Sony memutuskan untuk pensiun tahun lalu, apa sih alasannya?
Sebenarnya saya masih ingin ikut kejuaraan. Persiapan sudah dilakukan. Tapi kemudian pandemi. Sama sekali tidak ada kejuaraan bulu tangkis yang digelar. Di sisi lain, peringkat saya terus menurun. Akhirnya saya putuskan fokus di Surabaya saja.

Di Surabaya apa saja kesibukannya?
Sekarang fokus mengembangkan sekolah badminton milik saya sendiri. Namanya Sony Dwi Kuncoro Training Club. Gedung olahraganya milik saya pribadi, ada enam lapangan. Lokasinya di Medokan Asri (Rungkut, Surabaya).

Saya ini ya owner, ya pengelola, sekaligus jadi pelatih. Banyak tugas yang harus saya lakukan. Tapi, ada teman juga yang bantu. Alhamdulillah, selama 1,5 tahun ini semua berjalan lancar.

Sony Dwi Kuncoro saat berlaga pada ajang Indonesia Masters Super 100 2019 di Malang. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Jadi, Mas Sony sekarang juga jadi pelatih?
Setiap hari ada tiga sesi latihan. Jadi, saya dibantu empat orang pelatih lainnya. Nanti gantian, saya di sesi sore. Kadang juga di sesi pagi. Tergantung sih. Tapi, kalau melihat antusiasme murid, saya rasa enam lapangan ini kok masih kurang, hehehe.

Sudah berapa murid yang bergabung di klub, Mas?
Sebenarnya banyak (yang terdaftar, Red). Tapi, yang aktif latihan saat ini sekitar 60 pemain. Mereka ini ya mulai pemula. Ada yang cukup lumayan terbentuk, ada juga yang tinggal memoles saja.

Kalau Mas Sony sendiri khusus melatih untuk nomor apa?
Jadi gini. Sony Dwi Kuncoro Training Club ini tidak menerima murid yang ingin bermain ganda. Semua murid yang masuk nantinya akan jadi pemain tunggal. Jadi, sekolah ini khusus untuk melahirkan pemain tunggal saja.

Kenapa begitu?
Saya ini dulu kan bermain di nomor tunggal. Jadi, saya ingin lebih fokus di nomor itu. Banyak murid yang sebenarnya mendaftar dan mau main di nomor ganda, tapi saya tolak. Malah saya sarankan gabung klub lain. Karena saya memang mau fokus ke (nomor) tunggal.

Lebih susah mana sih, jadi pelatih atau pemain?
Jadi pelatih itu harus memahami karakter pemain. Setiap atlet ini kan pasti beda karakter. Kalau dari fisik pemain, itu kan bisa dilihat. Cara pukulan dan lainnya. Tapi, yang sulit ditebak adalah mental dan karakter pemain. Itu penting dalam olahraga. Jadi, pelatih harus pintar-pintar membaca (karakter) anak didiknya.

Apakah sesulit itu?
Itu sebuah tantangan. Saya harus bisa melihat. Anak ini kelebihannya di mana. Kekurangannya apa. Kadang ada pelatih yang nggak mau pegang anak dengan mental dan karakter kurang bagus.

Kalau saya tidak. Saya tetap akan latih dengan maksimal. Nanti apa kelebihan yang dia punya, itu yang akan saya maksimalkan. Tentu dengan saya bagi sedikit pengalaman saya.

Pengalaman selama bermain tentu banyak. Apa momen paling berkesan selama jadi pemain?
Yang pasti Olimpiade 2004. Meski cuma dapat perunggu, rasanya tetap spesial. Apalagi, waktu itu saya hanya ada di unggulan kedelapan.

Pas lolos ke semifinal, saya melawan Shon Seung-mo (Korea Selatan). Saya sering bertemu dia dan hasilnya selalu bagus. Tapi, ternyata pas di semifinal (Olimpiade) saya malah kalah.

Sony Dwi Kuncoro saat berdiri di podium ketiga Olimpiade Athena 2004. (Sony Dwi Kuncoro/Instagram)

Apakah itu menjadi penyesalan terbesar?
Bukan. Penyesalan sih nggak ada. Mungkin cuma sedih aja karena dulu sering cedera. Mulai (cedera) pinggang, paha, engkel. Banyak lah.

Pas cedera, kadang juga saya paksa main. Di pelatnas nggak boleh lama-lama istirahat karena pasti nanti menurun dan terdegradasi. Pas saya belum banyak pengalaman, saya sering cedera. Pas pengalaman sudah banyak, skill sudah menurun. (*)

SONY DWI KUNCORO DALAM ANGKA
3 Ranking tertinggi Sony yang tercatat di BWF pada Oktober 2003
5 Sudah lima kali mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di ajang SEA Games
8 Peringkat Sony saat meraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004
32 Menjadi juara Singapore Open pada usia ke-32 tahun
204 Ranking Sony saat pensiun pada 2020

Artikel Asli