BPIP Resmikan Perpustakaan-Klinik Pancasila Di Lapas Se-Aceh

Nasional | rm.id | Published at Minggu, 14 November 2021 - 16:09
BPIP Resmikan Perpustakaan-Klinik Pancasila Di Lapas Se-Aceh

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) meresmikan Perpustakaan dan Klinik Pancasila Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan Se-Aceh, Minggu (14/11). Metode pembinaan via literasi yang terpusat di Lapas Kelas IIB Meulaboh, Aceh Barat ini dinilai luar biasa.

Mengawali sambutan, Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengajak semua pihak bersyukur Indonesia sudah cukup mampu melawan Covid-19.

"Covid-19 merupakan barang goib, sekaligus hukum alam. Tugas kita melakukan pencegahan, memakai masker, mencuci tangan," ucap Yudian.

Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menilai membaca itu sebuah mukjizat bermanfaat sepanjang zaman. Kalau Warga Binaan (WB) memanfaatkan perpustakaan, niscaya akan memiliki jiwa baru plus dipandu keterampilan selama dibui.

"Waktu kuliah, saya menerbitkan 53 buku. Produk itu lahir saat saya kesulitan ekonomi. Jadi, sungguh masa depan lebih baik dari permulaan," ungkapnya.

Penjara bukan akhir perjalanan hidup. Yudian mencontohkan kisah Soekarno. Penjara Banceuy, Bandung, sel Lapas Sukamiskin, hingga beberapa tempat pengasingan, bikin Sang Proklamator tambah rajin membaca buku dan Alquran. "Dengan berbagai alasan, banyak tokoh di penjara sejak dahulu kala. Demikian pula perpustakaan dimanfaatkan," tandasnya.

Yudian mengimbau, selama di Lapas/Rutan hendaknya saling bergotong royong. "Hidup saling membantu, memanfaatkan waktu dengan kegiatan keterampilan, berinovasi. Itulah wujud kegiatan Klinik Pancasila," tuturnya.

Yudian juga menyinggung keberhasilan orang-orang Aceh. Antara lain Prof. Dr. Tgk. M. Hasbi Ash Shiddieqy yang dijadikan nama gedung Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga. Lalu Prof. Dr. H. Nourouzzaman Shiddiqi yang juga aktif menggagas ide rumusan Pancasila yang disusun oleh asli orang Aceh Dr. Mr. H. Muhammad Hasan.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Aceh, Meurah Budiman menjelaskan, ada 31 UPT Pemasyarakatan dan 3600 WB di Bumi Teuku Umar. Mayoritas perkara narkoba yakni ganja dan sabu-sabu. "Lapas Meulaboh bagus, dari security dan bangunan, pasca tsunami. Bagai Bintang Kejora dalam penanganan kasus narkoba. Secara umum, Lapas/Rutan se-Aceh sangat kondusif," ungkapnya.

Soal pembinaan WB, Meurah mengajak peran serta semua pihak, bukan hanya jajaran PAS atau Kemenkumham. "Saya mengapresiasi program Perpustakaan dan Klinik Pancasila. Untuk peningkatan kualitas SDM yang selama ini terpaku rutinitas pengamanan dan pembinaan," bebernya.

Bupati Aceh Barat Ramli MS secara khusus menyebut Perpustakaan Pancasila sebagai metode luar biasa menyelesaikan kompleksitas masalah di Lapas. "Untuk menghilangkan kejenuhan, kemalasan, balas dendam. Perpustakaan bisa mengubah pola pikir orang dalam Lapas," ucapnya.

Politisi Partai Aceh ini mengingatkan tidak selamanya WB itu salah. Masalah moralitas juga tergantung banyak hal. "Ke depan, mari kita pikirkan lapangan kerja untuk WB," tukas Ramli.

Dalam acara yang digelar langsung dan daring ini, hadir pula jajaran BPIPlain dan Kepala UPT Pemasyarakatan Se-Aceh. Usai penandatanganan prasasti, Yudian dan rombongan sempat masuk meninjau langsung Lapas Meulaboh. Mereka tampak terenyuh saat para WB menyambut di dalam aula masjid dengan lantunan lagu religius. [ BCG ]

Artikel Asli