Angka Kematian Tinggi Akibat Depresi di Masa Pandemi, SELFLOVE Bali Hadir Jadi Obat Penawar Luka Batin

Nasional | rmol.id | Published at Minggu, 14 November 2021 - 13:47
Angka Kematian Tinggi Akibat Depresi di Masa Pandemi, SELFLOVE Bali Hadir Jadi Obat Penawar Luka Batin

RMOL.Angka kematian akibat depresi dan stress tengah melanda dunia. Data WHO menyebutkan angka kematian yang disebabkan oleh depresi di tahun 2021 ini meningkat tajam. Tercatat setiap satu orang bunuh diri karena depresi dalam kurun waktu 40 detik.

Di Indonesia sendiri, angka kematian meningkat 9 persen dari populasi dalam setahun akibat sentimen negatif pandemi Covid-19.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Kementerian Kesehatan dr. Maxi Rein Rondonuwu menyampaikan masyarakat Indonesia saat ini rentan terhadap penyakit psikis seperti kecemasan, ketakutan, tekanan mental akibat isolasi, pembatasan jarak fisik, hubungan sosial dan ketidakpastian hidup dalam kurun setahun lebih pandemi menyerang Indonesia.

SELFLOVE Bali (Mulat Sarira Movement) menjadi salah satu alternatif dalam menekan angka kematian akibat depresi. SELFLOVE Bali bisa menjadi penawar luka batin, sekaligus fasilitator bagi masyarakat yang tengah dilanda tekanan kesehatan mental akibat ketidakpastian pandemi Covid -19. SELFLOVE Bali mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk sadar pentingnya hidup.

Founder SELFLOVE Bali Jero Jemiwi menyampaikan bahwa dalam kurun waktu setahun mengalami peningkatan klien untuk berkonsultasi tentang permasalahan hidup yang dialami selama pandemi ini.

Klien private bertambah dan variasi permasalahan setelah digali itu memang berakar di masa kecil yang tidak bisa disalahkan ditumpukan hanya kepada pandemi, ucap wanita kelahiran Kintamani, Bali ini ketika berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOLsecara daring, Minggu (14/11).

Jero Jemiwi mengatakan pandemi ini muncul sebagai kejadian luar biasa yang memaksa seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia untuk menjaga imunitas dengan mengembalikan kecintaan pada diri sendiri untuk lebih mengarahkan fokus pada upaya mengharmonisasi dunia di dalam diri sehingga terhindar dari ancaman penyakit psikis yang rentan terhadap aksi emosional yang berujung pada kematian.

"Dulu sebelum pandemi masih banyak pelarian, beberapa merasa saat galau ya nongki, gabut ya belanja sana sini, stress yaudah pendeknya dugem saja, nanti kalau sudah mabuk masalah hilang sebentar, tapi apakah kita selesai dengan masalah sebenarnya? Hari ini kita masih punya kesempatan baru, pandemi sedang memegang kaki kita dengan rantai-rantainya yang kuat sehingga tidak ada kesempatan untuk lari lagi. You have to stay, you have to face the truth, the deepest truth within you, which is yourself! Kebenaran terdalam adalah dirimu sendiri sehingga kamu tidak bisa lagi untuk berlari, katanya.

Menurutnya, pandemi menjadi sebuah trigger untuk lebih mencintai hidup dan diri sendiri, di tengah gelombang dasyat pandemi Covid-19 yang dihadapi masyarakat Indonesia. Klien yang ditangani Jero Jemiwi saat ini berasal dari berbagai kalangan masyarakat baik menengah ke atas, maupun bawah.

"Kalau yang saya tangani, klien beragam dari semua lini laki perempuan, di tengah pandemi ini meningkat terbukti dari beberapa kali acara public coaching online quota peserta selalu penuh. Coaching Online itu kan tantangannya banyak, seperti jaringan internet tidak stabil. Kalau dulu saya melakukan coaching tatap muka private perseorangan maupun group. Sejak pandemi beralih online, dengan aneka katarsisnya menangis segala macem. Saya sebagai praktisi dag dug pada awalnya, lalu saya harus menggunakan teknik tertentu dalam Coaching Online agar klien tidak overwhelm, walaupun dia boleh katarsis, katanya.

Pihaknya meminta agar masyarakat lebih mencintai diri sendiri, untuk menghadapi berbagai polemik di dalam hidup dengan kaca mata cinta kasih bukan ketakutan atau kemarahan pada keadaan, sehingga angka kematian akibat depresi di tengah hantaman pandemi ini bisa menyelamatkan jutaan manusia.

Yang mau saya sampaikan, pandemi ini menyelamatkan kita semua, dari kehilangan yang lebih besar! Semasih ada waktu pulanglah ke dirimu, berdamai denga diri, selesaikan psikismu, karena itu sumber segalanya, di sinilah diuji imun kita, bener-bener diuji, katanya.

SELFLOVE Bali itu sendiri dilahirkan oleh rahim Jero Jemiwi yang mengalami peristiwa-peristiwa hidup menantang nyali dan menguji kebesaran hati di masa lalu, sehingga mendorongnya untuk dapat berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dulu, hingga akhirnya menolong ribuan orang untuk sadar akan pentingnya mencintai diri (tercatat alumninya kini sudah 9800 orang lebih).

"Lama saya melakukan pencarian, dari tahun 1991 saya mengalami peristiwa yang sangat besar, saat itu usia saya 10 tahun, kemudian 2005 saya mengalami lagi peristiwa besar saat itu usia saya 24 tahun, kemudian 2016, akhirnya berdirilah SELFLOVE Bali. Jadi dari SELFLOVE Bali inilah lahir Bali Coaching Institute, katanya.

Jero Jemiwi sendiri telah belajar berbagai keilmuan seperti Neuro Linguistic Programming (NLP) hingga Trainer level, Non-Violent Communication (NVC), Emotional Freedom Technique (EFT), SRM, RT, Money EQ dan beberapa keilmuan pikiran modern lainnya. Ia juga belajar kembali tentang pegangan Leluhur Bali dan Nusantara dari banyak Inspirator ia menyebutnya, salah satunya budayawan Bali termasyhur di Indonesia Cokorda Sawitri, yang semakin menguatkan keyakinannya untuk pulang, ke diri. Sehingga dengan bekal itu dirinya memberanikan diri membangun komunitas Coaching di Bali bersama sejumlah relawan dan telah melakukan praktikum baik secara luring dan daring.

Budayawan yang kerap disapa Cok Sawitri itu menyampaikan SELFLOVE Bali merupakan wadah untuk membangun kesadaran kolektif sebenarnya, tetapi melalui diri sendiri.

"Karena selama ini begini, saya punya masalah saya ingin orang lain menolong, jalan di depan rumah rusak saya ingin dapat bantuan, padahal saya maunya dalam sehari-hari itu tidak mau dibantu, karena kita gengsian, ucapnya sambil berkelakar.

Cok Sawitri menyampakan bahwa tugas dari SELFLOVE Bali itu sendiri bersama mengajak masyarakat untuk mencintai diri sendiri dengan bahasa paling sederhana.

"Lalu kami tidak akan bertanya apa sebabnya kamu begitu keras atau kamu lupa pada dirimu sebab yang menjawab dirimu, kami cuman nemenin. Gini lho caranya, nah gimana caranya menemui kami, kalau kamu sudah merasa benar-benar galau, dan enggak tau gimana caranya kamu bisa ngobrol curhat dengan santai. Ya cari kami. Kami itu sudah pernah hidup menanggung beban dunia di bahu kami, ujarnya.

SELFLOVE Bali (Mulat Sarira Movement) ini juga menggandeng anak muda untuk lebih percaya diri dan menyembuhkan luka batinnya di masa lalu yang membekas hingga dewasa. Lewat SELFLOVE FLC (Future Leaders Community) yang digawangi Puspadewi diharapkan banyak anak muda yang lebih mencintai dirinya sendiri sebagai individu yang mampu menjawab tantangan jaman.

SELFLOVE FLC saat ini berusaha menjaring lebih banyak pemuda di dalamnya karena seperti dalam latar belakang didirikannya SELFLOVE FLC, bahwa saatnya kini yang muda bergerak memimpin, menciptakan kehidupan yang semakin baik, lebih membahagiakan dan berkesadaran. Pengalaman saya yang juga sering menjadi teman curhat, menemukan memang permasalahan anak muda tidak lepas dari masalah pribadi, dan kelak SELFLOVE FLC dapat menjadi rumah untuk setiap pemimpin masa depan dengan terlebih dulu mampu memimpin dirinya sendiri, kata Puspa.

Sebagai Founder, Jero Jemiwi berharap agar SELFLOVE FLC ini mampu merangkul seluruh generasi milenial, generasi Z dan X agar terhindar dari mahabahaya kesehatan emosi yang tidak memiliki obat penawar lain selain diri sendiri, menyembuhkan diri dengan kelembutan hati untuk mau membuka diri, membina diri dan juari (berani) tampil menjadi diri sendiri.

"SELFLOVE itu mengetuk pintu hati, mengembalikan kesadaran dan kelembutan hati. Memperbaiki relasi dalam diri. Siapakah yang sanggup ada sepenuh waktu untukmu, jika bukan dirimu? Bayangkan jika setiap rumah ada satu orang saja yang menerapkan SELFLOVE, berani jujur pada diri, tidak mudah tertekan oleh pengkondisian, definisi dan ekpektasi hidup orang lain, menyadari panggilan hati dalam berkarya dan berkontribusi, maka bukankah rumah akan menjadi Happy Home? demikian Jero Jemiwi. []

Artikel Asli