Bersyukur, Kembali Pulang ke Indonesia, Belanda Kini Lockdown

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 13:20
Bersyukur, Kembali Pulang ke Indonesia, Belanda Kini Lockdown

JawaPos.com- Setelah hampir tiga pekan berada di Belanda dan Inggris untuk menghadiri undangan kampanye krisis iklim, kemarin (13/11), Aeshnina Azzahra Aqilani kembali pulang. Bersyukur, sekembali terbang dari Amsterdam ke Indonesia, ternyata pemerintah Belanda memberlakukan kebijakan lockdown.

"Di Negeri Kincir Angin itu kini tengah terjadi lonjakan kasus Covid-19. Andai masih di Belanda, mungkin bisa-bisa belum dapat pulang. Karena Belanda lockdown selama tiga pekan," ujar Nina, panggilan Aeshnina Azzahra Aqilani, pelajar SMPN 12 Gresik itu kepada Jawa Pos, Minggu (14/11).

Sebetulnya selama mengikuti serangkaian kegiatan tentang krisis iklim, pihaknya melihat penerapan protokol kesehatan dengan ketat. Di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB (COP26) di Glasgow, Inggris, misalnya. Semua peserta yang datang dari berbagai penjuru dunia harus selalu menggunakan masker setiap saat di dalam area COP26. Selain itu, peserta menjalani swab test.

"Setiap pagi harus mencolok hidung, disogrok, untuk rapid test. Saya juga melakukannya sendiri menggunakan swab test kit yang sudah diberikan, kemudian mendaftarkan secara online hasil test," ujarnya.

"Setelah itu, panitia COP26 memberikan informasi hasil test kemudian hasil tersebut harus ditunjukkan ke sekuriti agar bisa memasuki area COP26. Untuk memasuki area COP26 pun, setiap peserta harus melewati tiga pos pemeriksaan. Di pos pertama, semua peserta dicek badge peserta yang dikeluarkan panitia. Kedua, memasuki green zone, dan ketiga saat memasuki blue zone atau area konferensi, setiap tas diperiksa dengan X-ray," ucapnya.

Dia melihat. penjagaan menjadi superketat saat mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberikan pidato pada 8 November 2021. Nina menceritakan, setiap sudut jalan, jembatan, dan tempat keramaian dipenuhi penjagaan polisi dengan menggunakan jaket hijau muda yang menyala.

"Untuk menjaga kesehatan, saya selalu mengkonsumsi vitamin B3, sebagai pengganti sinar matahari yang biasa kita rasakan di daerah tropis. Di Glasgow, matahari jarang muncul dan suhu udara dingin sekali, sekitar 9-10 derajat Celcius," ujar gadis 14 tahun asal Wringinanom itu.

Selain menghadiri COP26, Nina juga menjadi salah seorang narasumber termuda di Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam. Pidato Nina yang mengungkap kasus pengiriman sampah plastik ke Indonesia mendapat apresiasi. Ratusan pegiat lingkungan yang datang dari berbagai negara memberikan aplaus. Sejak itu, nama Nina pun cukup menjadi perbincangan. Sejumlah media Belanda meliputnya. Bahkan, salah satu media besar Jerman juga mengulas aksi Nina.

Selama mengikuti kegiatan ini, Nina juga bangga dapat bertemu Luisa Marie Neubauer, aktivis krisis iklim dari Jerman. Pertemuan itu terjadi di area COP26 pada 9 November. Luisa adalah salah seorang penyelenggara School Strike for Climate atau pemogokan sekolah untuk gerakan iklim di Jerman. Nama lain aksi itu adalah Fridays for Future, yakni gerakan internasional siswa bolos sekolah pada setiap Jumat untuk berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa menyuarakan agar para pemimpin politik mencegah perubahan iklim.

"Saya akan mendukung perjuangan Nina dengan mendorong Pemerintah Jerman untuk menghentikan ekspor sampah plastik ke Indonesia, untuk menuju keadilan iklim," ujar Luisa dalam video yang dikirimkan Nina kepada Jawa Pos.

Nina menambahkan, di area COP26 yang berlangsung di Scottish Event Campus (SEC), ada juga wahana pameran. Berbagai negara menampilkan upaya-upaya mitigasi perubahan iklim dan inovasi dalam pengurangan emisi. "Saya seneng dengan paviliun atau stan Indonesia, sebab di situ juga menyajikan makanan tradisional seperti klepon, resoles, dan lemper," ujarnya.

Selepas mengikuti forum lingkungan di negara Eropa tersebut, Nina semakin bersemangat untuk terus menyuarakan stop sampah plastik. Terutama yang diimpor Indonesia. Dia menegaskan, sampah plastik menimbulkan masalah serius. Mulai kerusakan ekosistem sungai akibat mikroplastik, kepunahan jenis ikan akibat bahan kimia dalam proses daur ulang hingga kontaminasi senyawa beracun dioksin akibat pembakaran plastik.

Berdasarkan data dari Lembaga Ecoton, Indonesia setiap tahun mengimpor tidak kurang dari 3 juta ton sampah kertas. Nah, di dalamnya ada sampah-sampah plastik rumah tangga. Sampah itu dikirim dari 50 negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Perancis, Australia, Kanada, dan Jepang.

Artikel Asli