Kucing Gundul Oligarki

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 11:58
Kucing Gundul Oligarki

Sekurang-kurangnya Siti Nurbaya di zaman kepresidenan Bapak Pembangunan Soeharto, ia tak pernah menyebabkan banjir di mana-mana lantaran membolehkan penggundulan hutan demi pembangunan. Kalau banjir air mata, iya.

MEMANG Siti Nurbaya tatkala itu adalah sinetron TVRI yang sangat mengharukan. Novia Kolopaking melelehkan banget pas memerankan roman legendaris karya Marah Roesli ini, yang diangkat ke layar kaca saat TVRI dipimpin legenda Ishadi.

Saat itu Pak De atau De juga masih taman kanak-kanak. Deforestasi belum sebesar dan seugal-ugalan sekarang

O ya, Deforestasi adalah nama kakak sulung Sastro. Nama lengkapnya Deforestasi Sukirek Sakbahagiamu. Anak-anak Sastro yang masih kecil-kecil memanggilnya Pak De walau lebih kerap menyingkatnya De saja.

De, kenapa kepalanya gundul? tanya anak sulung Sastro sambil cekikikan.

Itu bukan kepala, sanggah adiknya. Itu hutan.

Walau ugal-ugalan demi pembangunan, Deforestasi orangnya baik ke anak-anak dan penyayang kucing. Deforestasi tak marah kepalanya disebut hutan. Malah ia elus-elus kepalanya yang plontos itu sembari senyum-senyum. Tangan-tangan keponakannya juga digamitnya, dielus-eluskan ke kepalanya yang bagai rembulan.

Kamu bilang kepalaku ini hutan gundul juga nggak papa Heuheuheu

Kalau kita sebut Setan Gundul, boyyyehhh, De? kedua anak Sastro kompak.

Boleh Boleh Setan Gundul kan tidak menyebabkan banjir, tidak menyebabkan longsor Asalkan jangan kalian bilang bahwa Pak Demu ini ugal-ugalan demi pembangunan. Aku tidak akan terima. Pak Demu ini punya sakit jantung. Setiap bangun tidur, nggak boleh Pak De ugal-ugalan terus njenggirat bangun. Pembangunan harus pelan-pelan

***

Untuk bangun tidur, Deforestasi Sukirik Sakbahagiamu memang tidak ugal-ugalan. Sisi lain kehidupannya? Lha, nggih niku. Ia misalnya pernah ngamuk nggak puguh di gerai oli. Gegara kios pelumas di dekat kantor pengacara itu ternyata cuma menyediakan oli mesin dan oli samping. Oli garki ada? tanya Deforestasi ke mbak-mbak pengacara si empunya gerai.

Hah? Oli garki pisah apa oligarki nyambung, Pak De? Oligarki yang nyambung di sini nggak ada. Kalau di Jakarta, banyak. Tapi, oli garki yang pisah kayaknya nggak ada di seluruh dunia, Pak De

Hadeuuh, ya kalau begitu jangan sok-sokan pasang papan gerai oli terlengkap. Gerai oli saja.

Lha, gerai oli kami memang paling komplet kok, Pak De. Oli mesin ada. Oli gardan ada. Oli samping siap.

Aku nggak mau oli-oli itu, Mbak Pengacara. Oli samping ikut terbakar bersama bahan bakar. Aku tak mau oli begini. Aku oli yang tak ikut terbakar bersama kebakaran apa pun, termasuk kebakaran hutan. Oli mesin, tak ikut terbakar, tapi juga tidak abadi. Setiap sekian ribu km jarak tempuh kudu diganti. Habis licin sepah dibuang. Aku ingin oli yang langgeng. Oli garki!!!

Kalau oli gardan, Pak De?

Pak Deforestasi sudah jauh meninggalkan gerai itu sampai mengentak-entakkan kakinya. Dia sudah tak bisa mendengar. Apalagi kupingnya memang agak budek. Ya kalau nggak budek, mustahil namanya Deforestasi. Pasti namanya Forestasi. Setidaknya Likforestasi seperti nama adik Sastro, yang oleh anak-anak Sastro dipanggil Pak Lik. Istri Sastro, Jendro, ikut-ikutan anak-anaknya memanggil adik iparnya itu Pak Lik.

***

Kalau yang ini entah termasuk ugal-ugalan atau justru akhlak mulia.

Sudah lama Sastro mengingatkan kakak sulungnya itu agar menyingkat namanya jadi D. Sukirek Sakbahagiamu. Si sulung tak mau dengar. Ia tetap pasang nama depannya lengkap Deforestasi. Tak ayal di imigrasi-imigrasi masuk negara-negara yang peduli lingkungan seperti Jerman, ia selalu diinterogasi lama. Di Kanada, asal mula kucing gundul sphynx, malah hampir saja ia ditolak masuk gegara nama depannya Deforestasi itu.

Alasan Pak De ke Sastro, ini untuk menghormati orang tuanya yang telah capek-capek memberinya nama dan membuat bubur merah putih. Bahwa terjadi salah paham saat kelahiran itu, biarkan jadi urusan sejarah. Saat Pak De dilahirkan, ayahnya sedang gandrung-gandrungnya dengan istilah Deforestasi. Dia pikir Deforestasi artinya bagus, menghutankan kembali, bukan sebaliknya.

Mau diralat, nasi telah menjadi bubur. Bukan ayahnya malas berurusan dengan birokrasi untuk mengubah akta kelahiran. Ia malas membuat bubur merah putih. Takut dirundung oleh teman-temannya garis keras yang anti pada segala hal yang berbau merah putih, termasuk bubur. Ya sudah, ganti nama saja zonder bubur-buburan. Ah, nanti akan bernasib kayak Facebook yang berganti nama Meta tanpa bubur merah putih, lalu digugat miliaran rupiah oleh yang mengaku sudah lebih dulu sah memiliki logo dan nama Meta.

***

Kucing gundul jenis sphynx di rumah Pak De meang-meong sejak pagi. Diterjemahkan oleh kecerdasan buatan ternyata artinya demikian:

Banjir di mana-mana ini jangan dikambinghitamkan pada Deforestasi. Jangan juga Siti Nurbaya dituding-tuding sebagai penyebabnya. Siti Nurbaya hanya wayang. Pasti ada dalangnya, ada sutradaranya. Sutradara Siti Nurbaya bukan oligarki. Sutradara Siti Nurbaya adalah Dedi Setiadi. Kalau tak percaya, cek sejarah gemilang TVRI zaman Orde Baru. (*)

SUJIWO TEJO , Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Artikel Asli