Melihat Bentang Pasifik Melalui Pameran Biennale Jogja XVI 2021

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 11:28
Melihat Bentang Pasifik Melalui Pameran Biennale Jogja XVI 2021

Biennale Jogja XVI 2021 yang ditutup pada 14 November dan dimulai pada 6 Oktober 2021 menengok Nusantara dan Bentang Pasifik.

BENTANG Pasifik adalah tema terakhir dari serangkaian Seri Khatulistiwa yang digagas Biennale Jogja. Bentang Pasifik menjadi penutup yang baik untuk kembali mengingatkan tentang pembacaan terhadap negara-negara yang terbentang sepanjang garis khatulistiwa tidak lagi sebatas sebuah teritori ataupun pembacaan geografis. Melainkan lebih dari itu, ada banyak permasalahan, pertanyaan, pekerjaan, dan pengetahuan yang harus terus dibicarakan dan diingatkan kembali untuk bisa menciptakan ruang hidup yang lebih berpihak kepada para penghuninya.

Sebelum membicarakan isi pameran atau siapa saja yang sudah tergabung sebagai senimannya, saya akan menceritakan ulang tentang mengapa tema ini menjadi penting dan apa kaitannya dengan judul yang diusung tim kurator. Pameran ini dikuratori Ayos Purwoaji dan Elia Nurvista serta Putri Harbie yang bergabung menjadi asisten kurator. Mereka mengajak 30 seniman dari beberapa lokasi di Indonesia dan Pasifik. Selain pameran utama yang bertempat di Jogja National Museum, ada juga rangkaian pameran lainnya, yaitu pameran arsip, Bilik Negara Taiwan, Bilik Korea yang dikuratori bersama oleh Alia Swastika dan Jongeun Lim, dan program labuhan yang ada di Jayapura, Kupang, Maumere, dan Ambon.

Program labuhan dan kedua program Bilik Taiwan dan Korea adalah rangkaian program Biennale Jogja XVI 2021 yang turut memperluaskan wacana. Tema Roots >< Routes ini tidak muncul begitu saja, melainkan berangkat dari pembahasan terkait desentralisasi, dekolonialisasi, dan upaya penciptaan narasi yang tidak berpusat di dunia belahan utara saja, melainkan bergerak tegas di bentang garis khatulistiwa. Oseania menjadi salah satu bentang penutup dari rangkaian seri Khatulistiwa ini. Begitu pun semangat yang dibawa dalam program labuhan yang memberikan ruang agar masing-masing daerah yang tergabung menciptakan narasi sendiri. Sedangkan bilik Taiwan dan Korea juga melengkapi narasi atas usaha penciptaan narasi yang tidak berpusat di satu titik, khususnya narasi-narasi yang diciptakan negara bumi belahan utara.

Judul Roots >< Routes muncul untuk menggambarkan permasalahan yang dihadapi negara yang terbentang di lautan Pasifik atau Oseania, termasuk Indonesia. Jika menilik lagi kepada sejarah, negara-negara Oseania ini adalah negara yang pembagian wilayahnya berdasar kemenangan Perang Dunia II. Sehingga beberapa negara pun berbentuk negara-negara persemakmuran. Dengan latar belakang sejarah seperti ini, kehidupan di negara Oseania ini harus bercampur aduk antara masyarakat asli dan pendatang. Bahkan tidak heran, masyarakat asli harus bergeser dari tanah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman karena pendatang yang mengancam mereka. Selain itu, perpindahan dan permasalahan pendatang ini turut membawa ide-ide modernitas yang justru mencerabut mereka dari akarnya hingga memorak-porandakan rute atau alur hidup mereka.

Saya mengunjungi pameran utama dan yang saya dapatkan adalah kesempatan belajar untuk memaknai tentang apa yang disebut dengan akar. Dan apa saja dampak yang muncul ketika mereka tidak lagi mendiami tanah mereka dan tercerabut dari akar mereka?

Imajinasi atas Ruang yang Telah Samar

Ketika kali pertama memasuki ruang pameran di Jogja National Museum, akan disambut ruangan pertama dari Udeido Collective. Yaitu, kolektif seniman muda dari Papua. Mereka membawa gagasan tentang koreri atau nirvana. Di Papua, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa ketika manusia meninggal, arwah akan berkumpul di koreri atau nirvana. Ironisnya, lokasi-lokasi yang diyakini sebagai koreri harus hilang bersamaan dengan industri tambang Freeport dan industri perkebunan. Kisah inilah yang mereka gambarkan melalui karya kolektif ini (cari judul karya Udeido). Lokasi koreri pun tidak hanya berada di satu tempat, melainkan ada di beberapa tempat seperti kebun pala dan pegunungan. Selain itu, karya kolektif yang terdiri atas beberapa karya ini menggambarkan tarikan antara modern dan tradisional yang juga menjadi permasalahan di tanah Papua. Tentang para pendatang yang membawa ide modernitas dengan para penghuni asli yang terpaksa tercerabut dari akar atau tanahnya.

Selain itu, permasalahan pengetahuan lokal yang telah hilang dan tergerus oleh pembangunan disampaikan dengan sangat detail dan komprehensif dalam karya Lakoat Kujawas, Mollo, Nusa Tenggara Timur. Tentu saja permasalahan hilangnya pengetahuan lokal adalah salah satu permasalahan yang muncul karena adanya pembangunan yang terus mendorong agar seolah-olah maju, namun justru mencerabut masyarakat dari akarnya. Layaknya tanaman yang tercerabut dari akarnya, manusia pun akan kehilangan rute dan jiwa ketika harus tercerabut dari akar lokasi mereka lahir, tumbuh, dan hidup.

Kisah tentang ruang yang telah samar juga disampaikan dalam karya A Pond is the River of an Island. A Pond is the River of an Island adalah platform kolektif yang bekerja untuk para pengungsi di Kalideres. Dalam pameran ini, mereka menampilkan beberapa karya seniman yang tergabung dalam platform kolektif ini, namun juga menghubungkan bagaimana karya-karya yang tergabung di dalam pameran ini terhubung dengan para pengungsi di Kalideres. Misalnya, karya pembuatan zine oleh Bakudapan Food Study Group yang selanjutnya akan dijual dan seluruh hasil penjualannya akan didonasikan kepada para pengungsi di Kalideres. (*)

GATARI SURYA KUSUMA

Setelah lulus dari Institut Seni Indonesia tahun 2016, mendalami eskperimen belajar bersama dan metode penelitian aksi dengan kolektifnya KUNCI Study Forum & Collective. Ia juga tergabung ke dalam kolektif Bakudapan Food Study Group untuk bekerja dan belajar tentang isu pangan, ekologi dan praktik artistik.

Artikel Asli