Cara Aman Agar Anak Bersekolah di Masa Pandemi

Nasional | republika | Published at Minggu, 14 November 2021 - 10:33
Cara Aman Agar Anak Bersekolah di Masa Pandemi

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Desy Susilawati --Saat ini, mayoritas sekolah sudah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Bahkan mulai bulan November pemerintah mulai mewajibkan anak-anak kembali belajar di sekolah secara bertahap. Namun, masih ada sebagian orang tua yang khawatir ketika anandanya harus kembali ke sekolah. Lantaran mereka belum yakin apakah anak mereka bisa menerapkan protokol kesehatan dengan baik di sekolah.

Titi Kamal, aktris dan ibu dari dua orang anak, mengaku baru mengetahui kebijakan pemerintah yang menetapkan bulan November anak diwajibkan untuk PTM di sekolah. Hal ini tentu mengejutkan dan membuatnya sedikit khawatir dengan situasi pandemi saat ini. Apalagi, buah hatinya juga mulai hybrid learning (perpaduan online dan offline) di bulan November nanti.

Memang sebagai orang tua, tadinya saya sama Tian, agak khawatir, agak galau, tapi disisi lain kita juga excited. Karena Juna dulu sempat merasakan datang ke sekolah, setelah itu pandemi dan jauh dari teman-temannya, tidak bisa interaksi dengan teman-temannya, sama gurunya secara langsung, sekarang jadinya excited juga. Karena Juna nanti interaksi dengan teman-teman dan gurunya, ujar istri Christian Sugiono belum lama ini.

Menurut Titi banyak pertimbangan lain sebelum mengizinkan anaknya ke sekolah, salah satunya mengenai kesiapan anandanya mengikuti pelajaran dengan benar setelah kemarin 1,5 tahun sekolah online dirumah. Titi juga khawatir mengenai kesiapan anaknya menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah.

Jadi banyak sekali pertimbangan kita sebagai orang tua, walaupun kita tahun para murid, para guru juga pasti sudah berusaha keras mengikuti perotokol kesehatan, jadi banyak pertimbangan. Tapi kalau memang sudah harus PTM, kita menyambut dengan suka cita, tapi tetap waspada, ujarnya.

Titi mengaku siap melapas anaknya PTM, lantaran sejak pandemi, penanaman kebiasaan cuci tangan, sudah sejak lama ia dan suaminya tanamkan kepada Arjuna dan Kai. Titi selalu memberikan edukasi kepada buah hatinya mengenai cara mencuci tangan yang baik dan benar di air mengalir. Saat ini kedua anaknya sudah tahu dan hafal cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang baik bahkan sampai 20 detik. Mudah-mudahan mereka siap, memang sudah harus siap, ujar Titi.

Direktur Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Imran Agus Nurali, Sp. KO, menyampaikan kegiatan CTPS sudah mulai diedukasikan dan dikampanyekan sejak lama, bahkan sebelum pandemi hadir. Inisiatif ini penting untuk diteruskan, karena aksi cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir dapat mencegah penyebaran berbagai penyakit menular, bukan hanya Covid 19 tapi juga diare dan hepatitis. Berbagai penyakit ini dapat dicegah dengan CTPS.

Sementara Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Dra. Sri Wahyuningsih M.Pd, menambahkan, merdeka belajar jadi respons mereka di kementerian sebagai jawaban dari visi misi pemerintah untuk menciptakan generasi hebat dan sehat di masa depan. Implementasi sekolah tatap muka terus didorong guna mempersiapkan anak-anak Indonesia agar tetap dapat mengejar capaian pendidikan dan menghindari learning loss.

Kami memahami banyak orang tua yang masih khawatir, namun penting diingat bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan CTPS harus jadi norma baru yang terus kita terapkan. Ini juga jadi modal utama untuk memulai pendidikan tatap muka, dan perlu diterapkan untuk setiap elemen, mulai dari satuan pendidikan, hingga masyarakat luas.

Head of Skin Cleansing and Baby Unilever Indonesia, Maulani Affandi, menyatakan meski situasi pandemi menunjukkan perbaikan, bukan berarti kita abai dan terlepas dari berbagai ancaman kesehatan. Penerapan pola hidup bersih dan sehat tetap harus dijalankan.

Ajarkan anak PHBS dan CTPS

Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu Paramastri, SpA, menjelaskan berbagai penelitian menjelaskan Covid 19 nyatanya memiliki dampak panjang yang mengkhawatirkan bagi kesehatan. Beberapa penelitian menemukan 25 persen atau 1 dari 4 orang penyintas Covid19 mengalami gejala long Covid 19. Penelitian ini juga menyatakan bahwa anak-anak dan remaja penyintas Covid 19 juga dapat merasakan hal yang serupa.

Ada sekitar lebih dari 200 gejala yang dialami, namun yang sering dilaporkan adalah kelelahan, sakit kepala, gangguan tidur, gangguan sensori, gangguan konsentrasi, dan penurunan kapasitas paru-paru. Kondisi ini dapat berpengaruh pada kemampuan kognitif dan konsentrasi pada anak bahkan nafas menjadi pendek. Ini akan mempengaruhi kadar oksigen yang diedarkan melalui darah, salah satunyan ke otak.

Untuk anak sekolah, sangat berpengaruh pada kemampuan kognitif dan konsentrasi anak, sangat mengkhawatirkan pada akhirnya, sangat berpengaruh pada kemampuan belajar anak, entah dirumah bersama orang tuanya atau saat kembali ke sekolah, ujarnya.

Permasalahan paling penting saat ini belum ada upaya pencegahan, kalau sudah menjadi penyintas covid agar tidak menjadi long covid, sampai saat ini belum ada penelitiannya. Satu-satunya cara mencegah long covid adalah mencegah tidak terinfeksi covid itu sendiri.

Menurutnya, upaya pencegahan, jadi solusi yang harus dilakukan yaitu penerapan hidup bersih sehat, juga rutin mencuci tangan dengan baik dan benar, selain menggunakan masker tentunya. Harus ada kesadaran berbagai pihak untuk semakin waspada dan gencar menerapkan PHBS untuk memberikan perlindungan pada anak dan mencegah penyakit salah satunya long covid dengan phbs dan CTPS.

Dengan covid 19 ini, penting untuk terus dilakukan 5 M, selain memakai masker, salah satu fondasi penting adalah mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Mengapa harus dengan sabun? Karena pada sabun mengandung satu senyawa yang serupa lemak. Lemak ini pada saat bersentuhan dengan virus, dia akan mengikat lemak dan serupa lemak yang ada didinding virus tersebut, dia berikatan lalu ditarik lemak tersebut, sehingga dinding virus hancur karena lapisan lemak ditarik oleh sabun. Karena lapisan lemak ditarik, virusnya hancur, virusnya mati, paparnya.

Mengapa harus dengan air mengalir, agar virus yang sudah hancur luruh tidak menempel lagi ditangan. Tidak hanya menghilangkan virus tapi mencegha penyakit lain. Langkah CTPS harus dilakukan dengan benar, waktu benar (20 detik) dan menggunakan sabun. Sayangnya masih banyak orang tua yang kurang paham caranya yang baik dan benar. Padahal pendidikan anak diawali dari rumah yang merupakan tugas orang tua.

Karena itu harus dilakukan, diajarkan dan tanamkan PHBS dan CTPS dengan air mengalir. Anak bisa tetap hidup dan sehat dilepas dilapangan agar tumbuh optimal sesuai usianya, ujarnya.

Berikan contoh yang baik

Psikolog, Saskhya Aulia, menyatakan banyak persiapan yang harus dilakukan sebelum anak PTM, bukan secara fisik, anak juga harus dipersiapkan secara mental. Sebelum mempersiapkan mental anak, sebaiknya persiapkan mental orang tua terlebih dahulu. Orang tua harus bisa membiasakan anak untuk punya kesiapan mental yang lebih baik. Orang tua harus membiasakan PHBS dari rumah. Dan memberikan contoh pada anak yang baik. Jangan lupa frekuensi anak melihat orang tua mencuci tangan.

Anak susah dijelaskan dengan teori. Orangtua harus contohnya secara konsisten. Pada dasarnya, anak mencontoh perilaku dan meniru apa yang mereka lihat. Orang tua perlu untuk memberikan pemahaman dan contoh langsung terkait penerapan PHBS dan cara CTPS yang baik dan benar, ujarnya.

Ia juga menyarankan agar orang tua memanfaatkan konten yang dekat dengan anak untuk menjelaskan mengenai kebiasaan baik tersebut. Untuk anak lebih kecil manfaatkan digital media yang ada, misalnya film, buku atau game. Ini akan memudahkan, dengan penjelasan orang tua ikutan cerita.

Konten tersebut dapat digunakan sebagai stimulus dan diperkuat dengan pemberian meaning pada aktivitas yang dilakukan. Misalnya, penting bagi orang tua untuk menjelaskan mengapa setiap gerakan perlu dilakukan dengan benar, imbuh Saskhya.

Penjelasan yang diberikan pada anak sebaiknya disesuaikan dengan kapasitas berfikir anak, disesuaikan dengan usianya. Setelah itu, berikan pembelajaran berdasarkan pengalaman atau experience learning, orang tua langsung prakteknya, bagaiaman membaca hal yang sudah ditonton menjadi real misalnya mencuci tangan.

Ia menambahkan agar anak mandiri saat PTM di sekolah, sebaiknya orang tua memberikan dukungan pada anak. Tidak perlu disuruh, sambil orang tua memberikan contoh tutotial mencuci tangan. Ada banyak cara menjelaskan secara pemahaman dapat belajar fun dan bisa membuat anak termotivasi untuk melakukan itu sambil dicontohkan sampai menjadi kebiasaan anak, tidak disuruhan akan risih sendiri.

Selain itu, sekolah juga perlu ada persiapan transisi dan fasilitas untuk membantu PHBS dan CTPS. Apalagi anak semakin banyak eksposur dan semakin mudah ia dapatkan akan semakin mandiri mereka dalam melakukannya. Sekolahnya memberikan dukungan dan fasilitas pada anak. Misalnya berikan fasilitas dudukan agar anak bisa melakukan cuci tangan sendiri.

Artikel Asli