Humor-Humor Sinikal dalam Dunia Anak-Anak ala Ziggy

Nasional | jawapos | Published at Minggu, 14 November 2021 - 08:21
Humor-Humor Sinikal dalam Dunia Anak-Anak ala Ziggy

Ziggy dengan nada anak-anak dan guyonannya sedang mengkritik banyak hal yang terlalu nyaman dalam sistem sosial kita.

NOVEL dan sastra adalah hutan penuh segala kemungkinan. Bila seorang bertungkus lumus menyusuri setiap kemungkinan sastra, kita akan menemukan banyak sekali kemungkinan dan hal-hal yang belum tergali oleh sastra itu sendiri.

Ketika buku Interior Chinatown terbit, seketika kita terkagum-kagum keberanian Charles Yu untuk memadukan skrip film dengan novel itu sendiri. Milkman karya Anna Burns pun pernah dielu-elukan sebagai keberanian baru dalam sastra. Atau, suatu kali kita pernah menganggap gaya-gaya Danarto atau gaya eksperimental Iwan Simatupang sebagai gelombang baru dalam sastra Indonesia.

Tapi, apakah masih diperlukan pelabelan demikian untuk penulis generasi internet masa sekarang? Ketika zaman membuka diri begitu lebar dan kemungkinan terhampar begitu nyata.

Salah satu yang baru-baru ini mencuri perhatian dengan keberanian dan bentuk ceritanya adalah karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Kita Pergi Hari Ini atau Tempat-Tempat Indah dalam Mimpi-Mimpi Anak-Anak Baik-Baik.

Ziggy jelas bukan termasuk pemain lama sehingga dia merasa perlu melabeli sebagai karya pendobrak. Tidak. Dia hadir sebagai pencerita ulung, yang memainkan sisi-sisi yang belum banyak dikerjakan penulis lain.

Novel tidak lebih dari 200 halaman ini bercerita tentang interaksi lima bocah Mi, Ma, Mo, Fifi, dan Fufu dengan Nona Gigi, pengasuh sementara mereka yang berwujud Kucing Luar Biasa dengan celemek. Tampak lucu. Namun, bukan berarti sepanjang novel kita tidak akan terganggu oleh cerita dan cara Ziggy bercerita. Dia melakukan pendekatan pada kenyataan yang sedikit mengusik ketenangan pembaca umumnya.

Pertama yang mencolok adalah keberadaan judul alternatif. Jelas ini hal baru dan berbeda dari kebanyakan novel Indonesia. Ini bukan subjudul, melainkan benar-benar judul alternatif.

Ziggy dalam kesempatan soft launching di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) Oktober lalu menyinggung alasan di balik penggunaan judul alternatif. Bahwa judul alternatif ini terinspirasi dari beberapa novel perempuan tahun 1920-an yang kerap kali menggunakan judul alternatif.

Selanjutnya adalah catatan kaki. Ziggy dalam novel ini menggunakan banyak sekali catatan kaki fiktif yang bukan bermaksud menjelaskan sebagaimana fungsi catatan kaki, melainkan membuatnya sebagai cerita sendiri.

Sebab, buku, jurnal, artikel, penulis, penerbit yang disebut dalam catatan kaki adalah fiktif. Sebuah totalitas memasukkan semua elemen dalam buku sebagai bagian dari rimba fiksi yang dibangun Ziggy. Selain bisa dinikmati, catatan-catatan kaki ini juga bisa dicermati sebagai keisengan yang menyenangkan dari Ziggy.

Ziggy dalam novel ini juga bertutur dengan tidak biasa. Banyak sekali kalimat yang disengaja menggunakan homonim yang mengentak pembaca. Misalnya, ketika diceritakan berkunjung ke rumah tetangga, anak-anak harus memberi salam. Salam yang muncul dalam logika kebanyakan orang adalah ucapan salam (greetings) ketika bersua kali pertama. Bagi Ziggy, tidak. Salam di sini adalah daun salam (Eugenia polyantha).

Tapi Ma tahu, karena dia adalah anak perempuan yang tahu banyak hal. Maka, dia keluarkan bungkusan plastik berisi Salam kering, dan berkata, Halo. (halaman 50)

Frasa-frasa aneh seperti ini akan kita temukan dalam sekujur tubuh novel. Bukan hal yang perlu dicela, tetapi menghadirkan gangguan yang tidak biasa kepada pembaca yang suka kenyamanan dalam membaca novel.

Belum lagi menelisik kisah dan pesan-pesan tersembunyi dalam novel ini. Ziggy dengan nada anak-anak dan guyonannya sedang mengkritik banyak hal yang terlalu nyaman dalam sistem sosial kita.

Ziggy mengetengahkan bagaimana image normal dari anak laki-laki yang harus keren dan anak perempuan haruslah manis, lembut. Tidak! Ziggy dalam novel ini ingin mendobrak stigma umum ini.

Ya, Fufu anak laki-laki yang manis. Dan Fifi anak perempuan yang keren. Melepas stigma ini saja sudah suatu yang mendasar untuk pendidikan gender sedari dini. Belum lagi keberadaan hewan manis kucing bernama Nona Gigi dan bala-balanya di Kota Terapung Kucing Luar Biasa. Mereka diam-diam melawan domestikasi manusia dan menganggap musuh terbesar kucing adalah manusia.

Soal interaksi manusia dan kucing dalam novel ini pun sejatinya cukup mengganggu. Digambarkan pembalasan dendam kucing kepada manusia adalah dengan mengolah tubuh, daging, tulang, kulit anak-anak.

Menyeramkan memang. Tapi, demikianlah cara Ziggy mengusik kenyamanan membaca kita. Dia hadir dengan sisi-sisi ekstrem yang selama ini muncul dalam stigma umum dalam wujud sebaliknya.

Meskipun novel ini tampak gemas, unik, bertokoh anak-anak lengkap dengan ilustrasi, jangan terburu-buru mendakwanya cocok untuk kategori sastra anak. Ziggy memang concern dengan dunia yang diceritakan anak-anak sebagaimana novel Di Tanah Lada yang menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta.

Namun, perkara-perkara yang diketengahkan bukanlah hal yang enak dikonsumsi anak-anak. Humor-humor sinikal, sesekali gelap, plus sedikit adegan visual mengganggu.

Semuanya diramu dalam novel yang cukup pendek dengan keberhasilan mengusik yang harus diacungi jempol. Ziggy tidak main-main untuk menghadirkan dunia dalam kepala anak-anak sekaligus keseriusan mendobrak tatatan kalimat dalam kebanyakan novel.

Tanpa perlu menunggu pelabelan pendobrak atau generasi baru, Ziggy lebih dulu membuktikannya. Berani menguji? Silakan dibaca. Pada halaman berapa ketenangan membaca kalian terusik? Saya, jujur diakui, sejak halaman sampul dan pilihan alternatif judul. (*)


*) KHOIMATUN NIKMAH , Penulis lepas, alumnus Universitas Semarang

Artikel Asli