Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 4 Persen Jaga Konsumsi Masyarakat, Bansos Jangan Berhenti Dulu

Nasional | rm.id | Published at Minggu, 14 November 2021 - 06:40
Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 4 Persen Jaga Konsumsi Masyarakat, Bansos Jangan Berhenti Dulu

Pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai kisaran 4 persen, seiring terjadinya pemulihan ekonomi pada kuartal IV-2021.

Menurunnya tren kasus Covid-19 juga membuat perekonomian diperkirakan terus membaik. Presiden Jokowi mengatakan, strategi rem dan gas pada masa pandemi dapat mengendalikan aktivitas secara terukur, sehingga memberikan ruang ekonomi tumbuh dan bergerak.

Strategi yang dimaksud adalah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang pengaturannya mengikuti tingkat penularan kasus pada satu daerah.

Penggolongan daerah dilakukan berdasarkan level penularan. Semakin rendah penularan, maka aturan mobilitas semakin renggang, tutur Jokowi dalam The 2nd Regional Conference on Industrial Development di Jakarta, Rabu (10/11).

Jokowi mengatakan, strategi rem dan gas membuahkan hasil positif. Ini berimbahas pada sektor industri di Indonesia yang juga menunjukkan tren positif.

Menurut Jokowi, resiliensi perekonomian yang dilihat dari segi cadangan devisa, neraca perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar mata uang rupiah sudah relatif membaik.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, pembatasan yang dilakukan tidak membuat sektor industri, terutama sektor esensial berhenti.

Pelaku industri justru ikut berpartisipasi dalam pengendalian pandemi supaya bisa membantu pemulihan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kasus aktif Covid- 19 secara harian juga berhasil ditekan hingga di bawah 500 kasus per hari.

Ini hasil yang sangat baik. Negara lain masih terjadi ribuan kasus per hari, kata Airlangga saat meresmikan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2021 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (11/11).

Dengan kondisi yang makin stabil ini, Ketua Umum Partai Golkar itu memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV- 2021 bisa di atas 5 persen.

Airlangga juga optimistis, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun ini mencapai 4 persen year on year (yoy).

Kepastian pertumbuhan ekonomi 2021 sebesar 4 persen juga dipicu oleh menggeliatnya kinerja industri manufaktur, kata dia.

Menurut Airlangga, di semester II-2021 industri manufaktur makin menggeliat, tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia di bulan Oktober yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, di angka 57,2.

Airlangga juga menyampaikan, saat ini penerapan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) sudah meningkat, yakni 57,2 persen.

Selain itu, sektor ekspor tumbuh tinggi yang terbantu oleh supercycle harga komoditas, yakni pertambangan yang tumbuh 7 persen, kesehatan tumbuh 14 persen dan perdagangan yang masih bertahan di 9 persen.

Keuangan Belum Stabil

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memperkirakan ekonomi triwulan IV-2021 akan tumbuh sekitar 4 persen. Sementara, untuk pertumbuhan ekonomi keseluruhan di tahun ini, dia memprediksi di sekitar 3,5 persen.

Ini angka realistis kalau melihat berbagai faktor saat ini. Memang ini di bawah proyeksi pemerintah yang meramal pertumbuhan ekonomi kuartal IV bisa di atas 5 persen dan pertumbuhan ekonomi 2021 di angka 4 persen, kata Tauhid kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Menurut dia, perkiraan tersebut didasarkan beberapa pertimbangan. Seperti masih adanya PPKM di beberapa daerah, meski levelnya sudah diturunkan.

Belum lagi, masih rendahnya konsumsi dan daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, belum stabilnya kondisi keuangan masyarakat, khususnya menengah ke bawah.

Selain itu, penyaluran bantuan sosial (bansos) yang juga hampir rampung jelang tutup tahun akan banyak mempengaruhi kemampuan berbelanja masyarakat.

Ditambah lagi, kata Tauhid, momentum Natal dan Tahun Baru 2022 tidak akan signifikan mendongkrak daya beli masyarakat.

Apalagi, pemerintah juga membatalkan libur cuti bersama, yang akan berpengaruh pada mobilisasi masyarakat, kata Tauhid.

Sementara, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan, bantuan sosial (bansos) yang selama ini digulirkan pemerintah, jangan dulu dihentikan. Ini penting agar daya beli dan konsumsi masyarakat tetap terjaga di masa pandemi.

Kalau bisa ditambah bentuk bantuannya, kata Trubus kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Pasalnya, saat ini pemulihan ekonomi baru dirasakan golongan masyarakat kelas menengah ke atas, yang masih memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.

Sementara, bagi masyarakat yang jadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau yang jatuh jadi keluarga miskin baru, masih sangat bergantung pada bansos pemerintah.

Mereka ini yang masih sangat membutuhkan. Selama Keppres Nomor 11 dan 12 tentang kedaruratan kesehatan dan Covid sebagai bencana belum dihapus, bansos masih perlu terus digulirkan agar ekonomi terus tumbuh positif, tegasnya. [NOV]

Artikel Asli