Melacak Jejak Harimau Jawa, Raja Rimba yang Menolak Punah (3-tamat)

Nasional | sindonews | Published at Minggu, 14 November 2021 - 01:54
Melacak Jejak Harimau Jawa, Raja Rimba yang Menolak Punah (3-tamat)

JAKARTA - Berkembang spekulasi yang menyebutkan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) belum sepenuhnya punah, tentu perlu diverifikasi secara tuntas. Apalagi, masih banyak laporan dari masyarakat yang mengaku melihat penampakan sang Raja Rimba tersebut.

Terakhir, kucing besar ini diduga terlihat di hutan lereng Gunung Wilis wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Laporan yang disertai bukti jejak telapak kaki binatang tersebut, masuk pada akhir 2020. Yang melapor warga yang tengah mencari rumput, bukan pemburu.

Dikatakan bahwa harimau itu tengah berjalan bersama anaknya. Badannya berbulu kuning, bergaris hitam mengkilap, yang itu merujuk pada ciri khas motif harimau Jawa. Laporan itu menjadi atensi BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam), wilayah konservasi II Blitar (termasuk meliputi Tulungagung dan Trenggalek).

Tim BKSDA yang mendatangi lokasi mengecek jejak yang dikatakan sebagai tapak kaki sang Raja Rimba. Namun kondisi jejak sudah tidak sempurna. Sebagian besar teksturnya telah rusak akibat guyuran air hujan. BKSDA pun tidak bisa memakai sebagai acuan data primer, karena sudah tidak layak sebagai sumber data yang baik.

Namun di sisi lain, kawasan hutan lereng Gunung Wilis secara habitat dinilai memenuhi syarat bagi kehidupan keluarga kucing besar (harimau), dan BKSDA pun meyakini eksistensi hewan pemakan daging tersebut belum sepenuhnya punah. Hutan kawasan relatif tebal. Di bagian atas lereng juga terdapat sumber mata air yang jernih. Kejernihan yang dipengaruhi adanya vegetasi besar yang berfungsi sebagai tutupan.

Lebih ke dalam hutannya semakin tebal. Dari keterangan warga, babi hutan pun masih ada. Saat mencari rumput di hutan, mereka bertemu beberapa kali. Keterangan tersebut semakin menguatkan bahwa lokasi yang ada memang layak sebagai habitat harimau. Terlebih ada sumber pakan yang tersedia.

Untuk memastikan kebenaran informasi warga terkait adanya harimau Jawa, pada Januari 2021 lalu, petugas BKSDA memasang tujuh unit kamera pengintai. Tiga kamera dipasang di kawasan hutan Desa Nyawangan, dan empat kamera di Desa Ngulurup. Penempatan kamera berada di lokasi yang diduga sebagai jalur makan dan bermain hewan pemakan daging tersebut.

Secara berkala, yakni setiap dua pekan sekali, tim BKSDA datang ke lokasi untuk mengecek hasil. Pelacakan yang dilakukan tidak mudah mendapatkan hasil. Hal itu terkait dengan sifat harimau yang sensitif dengan hal asing dan memiliki naluri yang tajam. Misalnya, menjauhi bau manusia. Begitu juga terhadap suara, yakni seperti bunyi mesin atau sepeda. Harimau biasanya merasa terganggu, dan memilih menghindar.

Sementara kawasan hutan lereng Gunung Wilis relatif luas, yakni meliputi enam kabupaten. Mulai Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Kabupaten Ponorogo, hingga Madiun. Jika harimau itu ada, kemungkinan berpindah tempat karena terganggu aktivitas manusia, dan itu sangat mungkin terjadi. Istilah orang Jawa bejo bejan (untung untungan), jika harimau Jawa bisa terekam kamera pengintai.

Pelacakan harimau dengan menggunakan kamera pengintai juga bukan pertama kalinya dilakukan. Beberapa tahun sebelumnya, di wilayah Kabupaten Pacitan, BKSDA juga pernah memasang kamera serupa. Aktifitas dilakukan menyusul adanya laporan warga yang melihat seekor macan kumbang. Dan sampai kamera diambil kembali, belum juga memperoleh hasil. Begitu juga dengan tujuh kamera pengintai yang dipasang di lereng Gunung Wilis, juga belum mendapatkan hasil.

Untuk memperluas area pelacakan, jumlah kamera pengintai pun ditambah. Pelacakan tidak hanya berlaku untuk harimau Jawa, tetapi juga macan kumbang, macan tutul termasuk burung merak. Begitu juga dengan lokasi pelacakan. Tidak hanya di kawasan lereng Gunung Wilis. Tapi juga berlaku pada lereng Gunung Kelud yang juga memiliki kawasan hutan cukup tebal.

Setelah tiga bulan pengintaian, tim tidak juga menemukan penampakan harimau Jawa, hingga kamera pengintai ditarik dari lokasi dan diobservasi lebih jauh. Sementara di sisi lain, tidak ada lagi laporan warga setempat yang melihat keberadaan harimau, bahkan hingga detik ini.

Nyoto Santoso, dosen Fakultas Kehutanan IPB, dalam opininya di Koran SINDO /2017, berjudul Harimau Jawa dan Arti Penting Keberadaannya, menyatakan, dalam ekosistem, keberadaan flora dan fauna harus seimbang dan lestari. Jika salah satunya musnah, keseimbangan ekosistem terguncang. Dan ujungnya, manusialah yang paling menderita. Dari perspektif inilah, kita melihat pentingnya keberadaan harimau Jawa.

Karena itu, punahnya harimau berkaitan langsung dengan masalah kerusakan alam. Dengan kata lain, punahnya harimau juga mengindikasikan rusaknya ekosistem, rusaknya suhu bumi (global warming), dan rusaknya biodiversitas (keanekaragaman hayati). Itulah sebabnya keberadaan mbah Loreng Jawa tersebut dirindukan kalangan konservasionis dan environmentalis.

Peneliti harimau Jawa, Wahyu Giri Prasetya dalam presentasinya berjudul "Mengapa Kami Menolak Harimau Jawa Punah", menyatakan implikasi dari pernyataan punah harimau Jawa sangatlah besar terutama pada pengelolaan dan tata guna kawasan. Pasca ada pernyataan harimau Jawa punah, tidak lama berselang muncul kuasa pertambangan (PT Hakman), yang salah satu petaknya mencaplok sebagian Taman Nasional Meru Betiri.

Pada 2000, muncul ijin eksplorasi dari PT Jember Metal dan Banyuwangi Mineral (satu perusahaan) yang luasannya mencaplok seluruh Taman Nasional Meru Betiri. Dan yang mengkhawatirkan lagi adalah perburuan terhadap harimau Jawa semakin bebas (karena sudah dianggap punah).

Artikel Asli