HNW Nilai KH. Ahmad Sanusi Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 11:59
HNW Nilai KH. Ahmad Sanusi Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mendukung pemerintah segera menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh anggota BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) Indonesia asal Sukabumi dan pendiri ormas Persatuan Umat Islam (PUI), yaitu KH. Ahmad Sanusi.

"Sekalipun cukup lama belum terealisasi, tetapi masih belum bagi pemerintah untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ajengan Ahmad Sanusi.Beliau memiliki jasa yang luar biasadalam perjuangan fisik dan non fisik, menghadirkan Republik Indonesia merdeka bersama para pahlawan dan founding fathers lainnya. Juga keteladanan beliau yang sangat berharga bagi generasi hari ini dalam hadirkan solusi menghadapi masalah-masalah bangsa," demikian disampaikan Hidayat yang akrab dipanggil HNW ini saat webinar menyambut Hari Pahlawan yang digelar DPW PUI DKI Jakarta.

Anggota DPR Dapil DKI Jakarta IImeliputi Jakarta Pusat dan Selatan ini menerangkan, keteladanan penting yang dihadirkan oleh KH. Ahmad Sanusi sebagai seorang tokoh agama. Sebagaimana KH. Abdul Halim Majalengka yang juga sama-sama pendiri PUI, dan sudah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, KH. Ahmad Sanusi juga menimba ilmu-ilmu keislaman dari berbagai Pesantren di Jawa Barat.

Kemudian melanjutkan belajar dari para Ulama besar di kota Makkah. Bekal ilmu agama yang mumpuni tersebut dibawa pulang ke Indonesia, bukan untuk menjauh dari realitas menjadi intoleran, radikal dan eksklusif. Tetapi justru meningkatkan kepedulian, kebersamaan, dan perjuangan beliau bersama pejuanglainnya untuk memajukan umat, rakyat, bangsa, terlebih agar Indonesia terlepas dari kekangan penjajahan.

"Komitmen kebangsaan dan keumatan itu semakin jelas dan terbukti dengan terpilihnya beliau sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), di mana beliau aktif memberikan kontribusi-kontribusi berharga bagi masa depan Indonesia merdeka," jelas HNW.

Komitmen Kebangsaan Yang Kuat

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 200 pengurus dan warga PUI seluruh Indonesia itu, HNW juga menjelaskan peran kontributif KH. Ahmad Sanusi bagi lahirnya Republik Indonesia, terutama dalam kapasitas beliau sebagai anggota BPUPK.

Di tengah keberagaman latar belakang suku dan asal daerah para founding fathers Indonesia di BPUPK, maka hadirnya KH. Ahmad Sanusi bersama para tokoh ormas dan orpol Islam lainnya menjadi kontribusi sangat bernilai bagi BPUPK.

Karena di forum inilah, tepatnya pada periode pertama sidang BPUPK tanggal 29 Mei-1 Juni 1945, KH. Ahmad Sanusi mengusulkan agar Indonesia merdeka nantinya berbentuk negara Republik, bukan yang lainnya.

"Gagasan ini selaras dengan gagasan para tokoh Islam dan tokoh lainnya di BPUPK, hingga diputuskanlah bentuk negara Republik yang kita saksikan maslahatnya hingga hari ini. Dan hal itu tentu tidak bisa dilepaskan dari jasa dan peran KH. Ahmad Sanusi bersama para anggota BPUPK lainnya," tutur HNW.

Pada periode sidang kedua yang berjalan cukup alot, kata HNW, saat itu anggota BPUPK berdebat soal naskah Piagam Jakarta yang disepakati oleh Panitia Sembilan. Dalam naskah tersebut,memuat ungkapan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dan sejarah pun mencatat peran KH. Ahmad Sanusi sebagai tokoh kunci episode itu.

Di tengahperbedaan antara kubu nasionalis-kebangsaan dan kubu nasionalis-keagamaan (Islam), KH. Ahmad Sanusi sebagai anggota BPUPK perwakilan umat Islam secara bijaksana mengusulkan skorsing persidangan demi mendinginkan suasana. Dan membukadialog yang lebih leluasa di luar persidangan.

Usulan yang diterima para peserta sidang tersebut terbukti berhasil, dan tercapailah kesepakatan BPUPK keesokan harinya untuk menerima naskah Piagam Jakarta sebagaimana disepakati oleh Panitia Sembilan yang dipimpin oleh Bung Karno.

"Tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa kenegarawanan dan kebijaksanaan KH. Ahmad Sanusi telah menyelamatkan persatuan dan masa depan Republik Indonesia," ungkap Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini.

Periode pelik ini tidak hanya ditandai dengan perjuangan rakyat Indonesia melawan upaya kembalinya penjajah Belanda, tetapi juga dengan munculnya pemberontakan terhadap Republik Indonesia seperti yang dilakukan Kartosuwiryo yang menrikan DI/TII di Jawa Barat.

Namun KH. Ahmad Sanusi tidak ragu-ragu untuk menolak DI/TII Kartosuwiryo tersebut, dan lebih memilih berkomitmen mendukung Republik Indonesia yang saat itu masih dalam keadaan susah payah mempertahankan keutuhan negara, suatu bukti kecintaan kepada Republik Indonesia dengan persatuan dan kesatuan umat dan bangsa.

Inilah bentuk kepahlawanan yang jelas memenuhi kriteria seorang Pahlawan Nasional, sebagaimana dijelaskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2009 dan Keputusan Presiden RI Nomor.117 TK Tahun 2020.

"Karena itu, akan lebih baik jika pemerintah tidak hanya mengutamakan faktor keterwakilan seluruh daerah dalam penentuan Pahlawan Nasional, tetapi juga memprioritaskan anggota BPUPK yang aktif seperti KH. Ahmad Sanusi," pungkasnya. [ TIF ]

Artikel Asli