Melacak Jejak Harimau Jawa, Raja Rimba yang Menolak Punah (1)

Nasional | sindonews | Published at Kamis, 11 November 2021 - 11:26
Melacak Jejak Harimau Jawa, Raja Rimba yang Menolak Punah (1)

JAKARTA - Masih ada atau tidaknya harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) hingga kini ramai diperdebatkan. Banyak yang meyakini sang Raja Rimba ini belum punah. Kerap ditemukan penampakan yang diduga kuat jejak harimau Jawa, meski jejak-jejak itu tidak tuntas diverifikasi.

International Union for Conservation Nature secara resmi mengumumkan bahwa harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang terakhir berada di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, pada 1976. Sesudah itu sang Raja Rimba ini semakin menghilang dan akhirnya dinyatakan punah pada awal 1980-an.

41 tahun sejak dinyatakan punah, sesekali laporan tidak resmi tentang Harimau Jawa masih muncul dari penggemar yang percaya harimau Jawa masih ada. Bahkan, tak sedikit ahli dan peneliti yang dalam risetnya menyebutkan hewan berbulu loreng ini masih ada.

Sensus terakhir tentang keberadaan harimau Jawa dilakukan selama 1 tahun, yaitu sejak 1999-2000. Kegiatan ini berlangsung di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Sebanyak 12 staf taman nasional dilatih dengan dibekali 20 unit kamera.

Selain itu, tim juga mendapat bantuan dari yayasan "The Tiger Foundation" berupa 15 unit kamera inframerah dalam rangka memfasilitasi upaya sensus. Hasil sensus mengatakan bahwa tidak ada harimau Jawa, hanya sedikit mangsa, banyak pemburu liar.

Sensus dilakukan karena adanya laporan dari beberapa orang staf taman nasional serta warga setempat yang menduga bahwa harimau Jawa masih ada. Bahkan lama setelah sensus, dan lagi-lagi dinyatakan harimau Jawa telah punah, perdebatan tentang masih ada tidaknya harimau Jawa masih sangat ramai.

Yang membuat penasaran, meski sudah dinyatakan punah sejumlah jejak yang diduga kuat milik harimau Jawa masih banyak ditemukan. Pada November 2008, sesosok jasad wanita tak dikenal (pendaki gunung) ditemukan di Taman Nasional Gunung Merbabu, Jawa Tengah, yang diduga meninggal karena serangan harimau. Penduduk desa yang menemukan tubuhnya juga mengklaim beberapa penampakan harimau di sekitarnya.

Dugaan penampakan lain terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada Januari 2009. Beberapa warga mengaku telah melihat harimau betina dengan dua anaknya berkeliaran di dekat sebuah desa yang berdekatan dengan Gunung Lawu. Berita ini memicu kepanikan massal. Pemerintah setempat menemukan beberapa jejak segar di lokasi. Namun, pada saat itu, hewan-hewan yang dimaksud sudah lenyap.

Setelah letusan Gunung Merapi pada Oktober 2010, dua warga Indonesia telah mengklaim penampakan dari bekas cakar kucing besar di abu sisa, yang memicu rumor bahwa harimau atau macan tutul berkeliaran di peternakan yang ditinggalkan untuk mencari makanan. Personel dari taman nasional di dekatnya tidak berpikir bahwa itu bekas cetakan kaki dari harimau Jawa.

Kemudian, di Taman Nasional Meru Betiri (Jember-Banyuwangi, Jatim) yang menjadi lokasi penentu kepunahan harimau Jawa, terakhir kali hewan yang diduga harimau Jawa mati terbunuh pada 2012. Sementara di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, masih sering ada laporan perjumpaan masyarakat dengan harimau jawa.

Pada akhir NovemberDesember 2020, beberapa warga mengaku melihat penampakan satwa liar yang diduga harimau dan berkulit loreng sebanyak dua ekor di sekitar lereng Gunung Wilis, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Menurut informasi yang diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), ada sekitar lima warga yang melihat penampakan tersebut. Selain itu, warga juga menemukan jejak kaki serta usus binatang yang diduga hasil buruan harimau. Untuk menganggapi laporan dari warga, BKSDA memasang kamera pengintai di beberapa titik pada Januari 2021 untuk memastikan adanya keberadaan harimau Jawa.

Artikel Asli