Aborsi di Kamar Mandi Puskesmas, Pelajar di Batang Diringkus Polisi

Nasional | limapagi.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 10:25
Aborsi di Kamar Mandi Puskesmas, Pelajar di Batang Diringkus Polisi

LIMAPAGI - Sepasang sejoli RR dan EL asal Kabupaten Batang diringkus Satreskrim Polres Batang. Keduanya ditangkap karena menggugurkan janin di kamar mandi Puskesmas Bawang.

Aksi pengguguran paksa kandungan ini dilakukan sebab janin tersebut merupakan hasil hubungan terlarang keduanya. Terlebih kedua remaja ini masih berstatus sebagai pelajar.

Kapolres Batang, AKBP M Irwan Susanto mengatakan sepasang sejoli ini melakukan aksi abortus pada Senin, 8 November 2021 lalu. Kejadian bermula saat RR mengantar EL memeriksakan diri ke salah satu dokter praktek mandiri di Kecamatan Bawang.

Saat itu, EL mengeluhkan perut buncitnya terasa sakit. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan EL mengalami kontraksi kehamilan dan harus dirujuk ke Puskesmas Batang.

Di puskesmas, EL kembali menjalani pemeriksaan yang hasilnya dia dinyatakan mengalami kontraksi kehamilan dan akan melahirkan. EL pun diminta untuk menjalani rawat inap di sana.

Malam harinya, EL diketahui masuk ke kamar mandi puskesmas. Wanita itu mendekam di dalam kamar mandi cukup lama, sekitar 20 menit.

"EL keluar kamar mandi dalam keadaan lemas dan mengalami pendarahan. Saat itu, perutnya juga sudah mengecil," kata Irwan, Rabu, 10 November 2021.

Pada bidan puskesmas, EL berdalih alami pendarahan pasca buang air besar. Merasa curiga dengan EL, bidan puskesmas melaporkan kejadian ini ke Polres Batang.

"Setelah dilakukan pemeriksaan, kedua pelaku mengaku jika malam itu telah melakukan aksi abortus. Dimana janin itu digugurkan paksa dengan obat penggugur kandungan yang dibelinya secara online," ungkap Irwan.

Janin yang diperkirakan berusia lima bulan itu dikeluarkan EL di kamar mandi puskesmas. Selanjutnya, bayi tak berdosa itu dibuang melalui lubang angin kamar mandi dan kemudian ditangkap RR untuk dikuburkan di halaman rumah EL.

"Pemakaman janin dilakukan pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB, agar tidak diketahui warga," tandasnya.

Kepada polisi kedua tersangka mengaku nekat menggugurkan kandungannya sebab takut dimarahi orang tuanya. Mengingat keduanya masih duduk di bangku sekolah dan kehamilan EL tidak diketahui kedua orang tuanya.

Kedua tersangka kini dijerat Undang-undang Perlindungan Anak, Pasal 76C dan Pasal 80 ayat 3. Adapaun ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara atau denda 3 milyar rupiah.

Artikel Asli