KPK Ingin APH Samakan Persepsi Dalam Mengusut Kasus Korupsi

Nasional | jawapos | Published at Kamis, 11 November 2021 - 10:13
KPK Ingin APH Samakan Persepsi Dalam Mengusut Kasus Korupsi

JawaPos.com Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata meminta Aparat Penegak Hukum (APH) di Maluku Utara untuk menyamakan persepsi dan frekuensi dalam penanganan perkara korupsi. Hal tersebut, dirasakan saat masih menjadi hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (tipikor) Jakarta Pusat.

Saya merasakan betul perbedaan penanganan perkara korupsi yang ditangani KPK, Kepolisian atau Kejaksaan. Sekarang pun saya masih merasakannya dalam kegiatan koordinasi supervisi. Ada disparitas yang sangat mengganggu keadilan, kata Alex dalam keterangannya, Kamis (11/11).

Sehingga sekalipun perkara ditangani oleh tiga institusi yang memiliki kewenangan, memiliki standar dan perlakuan yang sama. Jangan sampai misalnya Kejaksaan bilang tidak ada indikasi korupsi, KPK bilang ada, ucap Alex.

Alex menyampaikan, saat ini sudah dibangun e-SPDP. Namun, menurutnya masih belum berjalan maksimal. Karena banyak Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) yang telah dikeluarkan Kepolisian dan Kejaksaan, namun informasinya belum KPK terima.

Artinya kami belum bisa memonitor apa saja perkara korupsi yang ditangani rekan-rekan Kejaksaan dan Kepolisian. Tujuannya apa? Ada kecenderungan masyarakat melaporkan perkara korupsi itu ke KPK. Sementara kita tidak tahu apakah perkara yang sama dilakukan penyelidikan oleh rekan-rekan APH yang lain atau tidak, terang Alex di hadapan Wakil Kepala Polda Maluku Utara Brigjen Eko Para Setyo, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) M. Irwan, Ketua Pengadilan Tinggi Suharjono, Kepala Perwakilan BPKP Aryanto Wibowo beserta jajarannya.

Sementara itu, Wakapolda Maluku Utara Brigjen Eko Para Setyo menyampaikan, salah satu tantangan bagi APH adalah terkait tugas untuk memantau pengelolaan pemerintahan yang dijalankan oleh masing-masing SKPD/OPD pada Kabupaten/Kota. Dalam praktiknya, sangat rentan terjadi penyalahgunaan kewenangan yang berakibat pada potensi praktik korupsi.

Oleh Karena itu, integritas dan sinergitas antara KPK, APH, APIP dan BPKP sangat dibutuhkan sehingga perkara yang sedang ditangani dapat diselesaikan dan keuangan negara dapat diselamatkan, tegas Eko.

Selain itu, disampaikannya, bahwa pemidanaan masih belum dapat memberikan efek jera kepada para pelaku korupsi. Sehingga berharap, lebih mengutamakan upaya pencegahan dengan tujuan pengembalian kerugian keuangan negara.

Salah satu upaya pencegahan korupsi yang kami lakukan yaitu melalui pemberdayaan Bhabinkamtibmas untuk melakukan pendampingan dan pengawasan atas pengelolaan dana desa oleh para kepala desa, terang Eko.

Di sisi lain, Aspidsus Kejati M. Irwan mewakili Kepala Kejaksaan Tinggi Malut, menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik rakor sebagai landasan komitmen bersama untuk menjalin hubungan strategis dan koordinatif untuk saling mendukung dalam penanganan tipikor.

Penyidikan tipikor di Malut tidak semata-mata merupakan peran penyidik Kejaksaan atau Kepolisian, tetapi peran BPKP dan Inspektorat diperlukan dalam menentukan besarnya kerugian keuangan negara, tutur Irwan.

Koordinasi APIP dan APH, katanya, juga dijelaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 16 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang Jasa (PBJ) di mana APH yang menerima pengaduan masyarakat meneruskannya kepada APIP untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangannya serta melaporkan hasil tindak lanjutnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Penjabaran tentang bentuk koordinasi APIP dan APH tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama Antara Kementerian Dalam Negeri dengan Kejaksaan dan Polri pada tanggal 28 Februari 2018 tentang Koordinasi APIP Dengan APH Dalam Penanganan Laporan Atau Pengaduan Masyarakat Yang Berindikasi Tipikor Pada Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, pungkas Irwan.

Artikel Asli