Armada Bus Dua Kali Kecelakaan Dirut Baru Wajib Beresin Keteledoran Transjakarta

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 07:10
Armada Bus Dua Kali Kecelakaan Dirut Baru Wajib Beresin Keteledoran Transjakarta

Dua kali kecelakaan bus Transjakarta terjadi akibat kelalaian manajemen di dalam merawat armada dan rekrutmen pengemudi. Kedua masalah tersebut harus segera dibereskan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Satu bulan belakangan ini, bus Transjakarta mengalami kecelakaan. Yakni, pada Kamis (4/11), bus Transjakarta mengeluarkan asap putih dari bagian atas atap, di Atrium Senen, Jakarta Pusat. Penyebabnya, vanbelt bus terputus. Untungnya kerusakan teknis itu tidak menimbulkan korban jiwa.

Kemudian, pada Senin (25/10), satu bus Transjakarta menabrak bagian belakang bus Transjakarta lain yang tengah berhenti di Halte Cawang Ciliwung, Jakarta Timur. Dalam kecelakaan ini, 31 penumpang terluka dan dua orang tewas di tempat, termasuk sopir bus.

Hasil gelar perkara Polda Metro Jaya menyebutkan, kecelakaan itu terjadi akibat pengemudi tidak mengurangi kecepatan ketika mendekati halte. Hal itu terjadi karena sopir berinisial J kejang-kejang dan hilang kesadaran akibat penyakit epilepsinya kambuh.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus menerangkan, informasi itu merupakan keterangan saksi. Kemudian, keterangan itu diperkuat dengan hasil pemeriksaan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri.

Hasil pemeriksaan dari pihak kedokteran kepolisian dan juga dari laboratorium forensik, pengemudi bus B 7747 TK ini punya bawaan penyakit. Riwayat kesehatan epilepsi, ujar Yusri, dalam keterangannya.

Anggota Komisi B Bidang Perekonomian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak menilai, kecelakaan bus Transjakarta tersebut menunjukkan ada ketidakberesan manajemen PT Transjakarta.

Semoga dengan Direktur Utama yang baru dilantik, bisa membereskan semuanya, mulai dari masalah perawatan bus hingga rekrutmen pengemudi, katanya, kemarin.

Dia menuturkan, direksi Transjakarta maupun operator bus seharusnya melakukan seleksi ketat dalam merekrut pengemudi bus Transjakarta.

Sopir bus, operator mesin kapal, masinis, pilot, dan lain-lain tidak diperbolehkan dipegang atau dijabat orang yang punya penyakit tertentu untuk menjamin keselamatan. Seharusnya operator bus Transjakarta dan direksi Transjakarta melakukan seleksi ketat. Itu (kecelakaan) akibat keteledoran, sentil Gilbert.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengaku, pihaknya telah meminta Transjakarta mengaudit prosedur pengecekan kesehatan para pengemudi di seluruh depo. Terutama saat bertugas mengangkut penumpang di setiap shelter .

Kami minta Transjakarta audit kembali apakah keseluruhan depo ada upaya cek kesehatan para pengemudi sebelum bertugas, tutur Syafrin.

Diingatkannya, pengecekan kesehatan telah diatur dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM). Selain kesehatan, juga memuat petunjuk standar operator dalam menyiapkan bus yang layak beroperasi.

Intinya, SPM itu berisi operator harus menyiapkan bus yang layak operasi, tertib administrasi, teknis, dan sumber daya manusia (SDM), tegasnya.

Syafrin menegaskan, pihaknya bakal terus melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan SPM Transjakarta.

Bina Operator

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) terus meningkatkan kapasitas, pembinaan, dan pengarahan intensif kepada semua mitra operator untuk menghindari kecelakaan lalu lintas. Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transjakarta, Angelina Betris menyampaikan, pembinaan rutin dilakukan enam bulan sekali selama pandemi.

Kegiatan ini akan diintensifkan kembali, seperti kondisi sebelum pendemi setiap tiga bulan sekali, janjinya.

Pihaknya mengaku, baru melakukan pembinaan di depo masing-masing mitra pekan lalu. Pembinaan berjalan lancar. Harapannya, melalui pembinaan ini, semakin meningkatkan kapasitas seluruh mitra operator dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di segala aspek. Baik pelayanan, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.

Betris menyakinkan, semua operator bus sedang maupun besar selalu rutin menghadiri kegiatan ini, terutama para pengemudi. PT Transjakarta memberikan pedoman dan arahan terkait standar operasional prosedur pengemudi, standar pelayanan minimal, safety driving , hingga laporan kecelakaan yang perlu dilakukan pramudi agar segera bisa ditindaklanjuti dengan sigap dan tepat.

Untuk operator bus kecil, pembinaan serupa baru saja dimulai dengan agenda pengarahan terkait standar pelayanan minimum yang berlaku. Ini dilakukan agar pengemudi Mikrotrans yang menjadi first mile dan last mile dapat memberikan pelayanan yang aman dan nyaman hingga ke titik tujuan.

Harapannya Transjakarta dan semua mitra yang bekerja sama bisa menghadirkan layanan yang memberikan rasa aman dan nyaman untuk semua masyarakat pungkasnya. [FAQ]

Artikel Asli