Mencambuk Oposisi

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 06:59
Mencambuk Oposisi

Fahri Hamzah punya banyak stok istilah untuk oposisi. Ada #OposisiMemble, #OposisiPlangaPlongo, dan #OposisiPenakut. Sebelumnya, Fahri juga meledek dengan istilah #OposisiLoyo dan #OposisiLetoy.

Sebagai Wakil Ketua Umum partai baru, Partai Gelora, Fahri tampaknya sedang berjuang mencari pasar dan pengikut di lahan oposisi. Fahri mencambuk, menyemangati, juga meledek sembari berharap laba politik.

Mantan kader PKS asal NTB ini cukup jeli melihat oposisi yang sekarang tampak kepayahan. Di sisi lain, Jokowi terlalu kuat. Sangat kuat. Apalagi setelah Gerindra dan PAN berhasil dijinakkan.

Citra oposisi sepertinya hanya melekat kuat di Amien Rais. Itu pun dengan sisa-sisa kekuatan pasukan senior. Atau, Fadli Zon, yang satu kakinya di pemerintahan.

Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang awalnya tampak bertenaga, sekarang terlihat kurang greget. Apalagi setelah beberapa pentolannya tersandung kasus, tampak kurang semangat. Juga ada mahasiswa atau Persatuan Alumni 212. Ditambah laskar media sosial, oposisi seperti tenggelam dalam lautan pasukan pemerintah yang juga kuat di dunia maya.

PKS dan Partai Demokrat, dua oposan resmi entah kenapa tak bisa benar-benar mewarnai panggung. Mereka kerap menyuarakan suara tandingan, meneriakkan perlawanan, tapi seperti tak terdengar atau tak didengar. Atau, ada yang sulit mendengar walau sudah diteriaki?

Dengan panggung besar yang hanya diisi sedikit pemain oposisi, kualitas serangan semestinya jauh lebih bertaji. Lebih leluasa bermanuver. Apalagi banyak amunisi atau isu menarik yang justru disiapkan pemerintah, tapi tak termanfaatkan optimal.

Mengharapkan kesadaran pemerintah untuk memperkuat oposisi, memberikan hibah kekuasaan, rasa-rasanya sulit sekali. Itu hanya basa-basi politik.

Dalam skala tertentu, pemerintah justru punya naluri ingin memperlemah oposisi sembari memperkuat posisinya. Ingin mempertahankan kekuasaan yang diperoleh lewat perjuangan. Siapa pun. Kapan pun.

Ibarat pembeli dan penjual; pembeli ingin semurah-murahnya, penjual ingin semahal-mahalnya. Itu instinc natural . Tak ada belas kasihan.

Orang dagang pasti ingin cari untung. Termasuk mereka yang mengkomersialisasikan pandemi. Beli semurah-murahnya, jual semahal-mahalnya. Yang bisa mengontrol itu adalah kelompok penekan dan oposisi yang galak dan menawarkan ide bernas. Juga ada ketegasan dan konsistensi.

Apa pun kondisi dan kendalanya sekarang, rakyat tetap ingin melihat keseimbangan dan pertarungan sehat antara pemerintah dan oposisi. Melakukan transaksi dan duel gagasan. Yang satu menyodorkan, yang lain mendengar dan menerima. Bukan saling menolak sembari berteriak pokoknya tidak.

Keseimbangan hubungan itu bukan hanya sekarang, tapi juga nanti. Menjadi pola permanen. Siapa pun yang memerintah, siapa pun oposisinya. Ibarat kuda pacu, kalau tidak dicambuk, larinya kurang kencang.

Yang menarik, sekarang justru Fahri Hamzah yang megang cambuknya. Dia meledek dan mencambuk oposisi, sementara kudanya santai-santai saja.

Apakah oposisi merasa tercambuk, lalu ikut mencambuk lebih keras. Mencambuk kuda, bukan mencambuk Fahri. Cambuk-mencambuk adalah bagian demokrasi. Sakit, tapi bisa membuat kuda berlari kencang.(*)

Artikel Asli